Gebang Block Jadi Sumber Pertumbuhan Baru, Begini Dampaknya bagi Saham Energi Mega (ENRG)
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) sedang memasuki babak baru pertumbuhan melalui pengembangan Gebang Block yang diproyeksikan menjadi motor utama produksi migas emiten ini dalam beberapa tahun ke depan. Bahkan, diprediksi blok ini akan menjadi penggerak utama kinerja ENRG hingga 2030.
ENRG memiliki total sumber daya sebesar 434 juta barel ekuivalen minyak (MMBOE) hingga semester I-2025, termasuk cadangan terbukti dan terduga sebanyak 232 MMBOE. Analis UOB Kay Hian Sekuritas Alden Gabriel Lam dan Bnyamin Mikael mengatakan, dengan cadangan tersebut, perseroan memiliki umur cadangan sekitar 26 tahun.
Baca Juga
ENRG Genjot Produksi Blok Kampar, Target Harga Saham Direvisi Naik ke Rp 775
“Seluruh penjualan minyak dan gas dilakukan berdasarkan kontrak dengan pembeli BUMN, yang memberikan stabilitas terhadap kinerja operasional perusahaan,” tulis riset yang diterbitkan di Jakarta, Kamis (16/10/2025).
Dia menyebutkan bahwa Gebang Block diproyeksikan menjadi sumber pertumbuhan baru dengan target produksi gas pertama sebesar 7 ribu barel ekuivalen per hari (MMBOED) pada semester I-2027 dan meningkat menjadi 17 ribu MMBOED pada 2030. “Pertumbuhan produksi tersebut mencerminkan peningkatan tahunan majemuk atau CAGR sebanyak 7% sepanjang 2024–2030, sekaligus mengimbangi penurunan produksi alamiah di Kangean Block,” terangnya.
Sumber: UOB Kay Hian
Selain faktor tersebut, dia mengatakan, ENRG berhasil memperkuat struktur keuangannya dengan memangkas biaya pinjaman dari 15,05% pada 2018 menjadi 9,9% di 2024. Penurunan ini menjadi titik balik yang memungkinkan perusahaan melakukan akuisisi aset produktif, termasuk blok Siak dan Kampar. Produksi Siak kini stabil di kisaran 1.600 barel per hari, sementara Kampar menunjukkan pemulihan ke level 900 barel per hari.
ENRG juga tengah menjalankan rencana investasi jangka panjang yang disiplin dan terukur dengan total belanja modal (capex) 2025–2030 mencapai US$ 1,4 miliar. Investasi ini mencakup 30 sumur eksplorasi, 130 sumur pengembangan, dan pembangunan fasilitas penunjang. Untuk tahun 2025, capex ditetapkan sebesar US$ 150–200 juta dan bakal meningkat menjadi US$ 200–250 juta pada 2026, seiring percepatan proyek yang sempat tertunda.
Baca Juga
Energi Mega (ENRG) Raih Peringkat ESG Medium dari Morningstar hingga A+ dari Pefindo
Sejumlah faktor tersebut diprediksi mengerek naik laba bersih perseroan dari US$ 73 juta pada 2024 menjadi US$ 183 juta pada 2030, dengan pertumbuhan tahunan rata-rata 14,1%. Kenaikan ini juga ditopang asumsi harga minyak yang meningkat dari US$ 70 per barel atau terjadi peningkatan 5% per tahun, efisiensi biaya, dan peningkatan produksi. Sekitar 70% pendapatan ENRG juga berasal dari kontrak jangka panjang, sehingga mengurangi volatilitas laba.
Ekspektasi pertumbuhan kinerja keuangan tersebut mendorong UOB Kay Hian Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham ENRG dengan target harga Rp 1.600. Target harga tersebut juga mempertimbangkan ENRG sebagai perusahaan migas dengan cash cost yang kompetitif, dibandingkan produsen migas lainnya.

