Begini Target Harga Saham Energi Mega (ENRG) di Tengah Divestasi Gebang dan Rights Issue
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) berpotensi mencetak rata-rata pertumbuhan tahunan (CAGR) laba bersih sebanyak 22% sepanjang 2026–2031 terdorong berlanjutnya akuisisi aset. Aksi ini diharapkan berdampak positif terhadap peningkatan produksi minyak dan gas (migas) perseroan dalam jangka panjang, sehingga sahamnya kian menarik.
Hal ini mendorong Samuel Sekuritas dalam riset inisiasinya merekomendasikan beli saham ENRG dengan target harga Rp 650 per saham. Dibandingkan dengan harga penutupan Rp 496, terbuka peluang penguatan saham emiten migas yang dikendalikan Group Bakrie ini sebanyak 31,04%.
Baca Juga
Pupuk Indonesia Gandeng Entitas Energi Mega Persada (ENRG), Amankan Pasokan Gas Bumi
Analis Samuel Sekuritas Juan Harahap dan Fadhlan Banny mengatakan, Energi Mega (ENRG) berhasil merealisasikan akuisisi portofolio migas dengan rata-rata tahunan (CAGR) pada 2020–2024 sebesar 21,2% untuk minyak dan 10,8% untuk gas. Aksi ini tentu akan menjadi fondasi yang kokoh bagi pertumbuhan di masa depan.
Selain itu, ENRG telah menandatangani Sales and Purchase Agreement (SPA) dengan JAPEX, perusahaan energi Jepang, untuk mengakuisisi sisa 25% kepemilikan Blok Kangean di Jawa Timur. Hal ini menjadikan ENRG menguasai 100% blok tersebut. Di saat yang sama, ENRG melepas 50% saham di Blok Gebang, Sumatra Utara.
Blok Kangean, penyumbang terbesar kedua bagi ENRG, diproyeksikan juga akan meningkatkan produksi hingga hampir delapan kali lipat menjadi 324 MMSCFD pada 2031 melalui 15 pengeboran baru. Sebaliknya divestasi Blok Gebang memungkinkan peningkatan efisiensi modal.
Baca Juga
Rancang Private Placement 10% Saham, Energi Mega (ENRG) Ungkap Investasi di Anak Usaha Ini
“Kami memproyeksikan sejumlah aksi tersebut bakal mengerek naik produksi tahunan (CAGR) minyak dan gas ENRG masing-masing sebesar 2,9% dan 24,8% periode tahun 2026–2031. Hal ini akhirnya akan mendorong CAGR pendapatan dan laba bersih mencapai 18% dan +22% untuk periode yang sama,” tulis riset tersebut.
Energi Mega (ENRG) juga didukung rencana penggalangan dana melalui non Pre-emptive rights sssue atau private placement saham hingga 2,5 miliar saham dalam 12 bulan ke depan. Potensi dana yang bakal diraup mencapai Rp 595,7 miliar dengan asumsi harga Rp 240 per saham.
Dana tersebut akan difokuskan untuk mendukung aktivitas pengeboran di Blok Selat Malaka, yaitu aset minyak terbesar ENRG yang dikelola melalui entitas anak PT Imbang Tata Alam (ITA). Penggalangan dana tersebut akan berimbas terhadap penurunan rasio net gearing ENRG dari 59,3% menjadi 48,2% pada 2025. Alhasil penguatan struktur modal di tengah tingginya belanja modal untuk ekspansi tercapai.
Baca Juga
Produksi Minyak Semester I Belum Sentuh Target, tetapi SKK Migas Punya Senjata Andalan Ini
Energi Mega (ENRG), tulis Samuel Sekuritas, juga didukung peluang penguatan harga minyak dunia dengan peluang menembus US$ 100 per barel akibat gejolak di Timur Tengah yang belum berakhir. “Berdasarkan sensitivitas, setiap kenaikan 1% harga minyak global akan meningkatkan estimasi laba ENRG tahun ini sebesar 1,8%,” terangnya.
Hal ini mendorong Samuel Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham ENRG dengan target harga Rp 650. Target tersebut didasarkan pada pendekatan Discounted Cash Flow (DCF-FCFF) dengan asumsi WACC 9,7%. Nilai perusahaan (EV) diperkirakan mencapai Rp 17,3 triliun, setara dengan EV/EBITDA 4,6x pada 2026 atau 7% premium terhadap rata-rata industri.

