Sektor Telekomunikasi Memasuki Masa Transisi, Sahamnya Direkomendasikan Begini
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Mirae Asset Sekuritas Indonesia mempertahankan rekomendasi overweight untuk saham sektor telekomunikasi nasional. Saat ini, industri tengah memasuki fase transisi strategis, seiring langkah reformulasi agresif dari Telkomsel (TSEL) dan dinamika persaingan ketat di segmen broadband.
Mirae Asset mencatat koreksi imbal hasil pasar sebesar 0,8% secara month on month (MoM) pada Agustus 2025, membalikkan kenaikan 0,6% pada bulan sebelumnya. Penurunan ini dipicu oleh strategi TSEL menurunkan yield hingga 4,3% MoM melalui peluncuran produk berimbal hasil rendah seperti Weekly 5 GB (turun 60% MoM) dan Kuota Harian 15 GB (turun 40% MoM).
Baca Juga
Pasar Saham masih Prospektif, Mirae Asset Rekomendasikan Buy on Weakness 6 Saham Ini
Langkah tersebut dinilai sebagai strategi memperkuat daya saing dan keterjangkauan di tengah kompetisi ketat. Operator lain cenderung menahan harga, kecuali Tri, yang melakukan reformulasi paket Happy dan menyesuaikan harga AON dengan kenaikan yield 6,4%.
Di sisi lain, sektor fixed broadband (FBB) menahan harga pada Agustus setelah penurunan tajam di Juli. Namun, Telkomsel kembali melakukan penyesuaian pada paket fixed mobile convergence (FMC) seperti Dynamic 1P dan Easy Plans dengan penurunan yield hingga 9,9% MoM. “Ini sejalan dengan strategi industri untuk menyeimbangkan penawaran dan meningkatkan keterjangkauan,” tulis Mirae Asset dalam riset bertanggal Kamis (16/10/2025).
Pertumbuhan pelanggan broadband masih lemah akibat kompetisi ketat dan kondisi makro yang belum stabil. Paket berharga tinggi (lebih dari Rp500 ribu) turun dari 37 menjadi 19 unit, sementara paket berharga rendah (di bawah Rp300 ribu) naik dari 12 menjadi 16 unit—menunjukkan pergeseran pasar ke produk yang lebih terjangkau.
Selain itu, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) meluncurkan lelang spektrum 1,4 GHz untuk layanan Fixed Wireless Access (FWA) sebagai langkah memperluas akses broadband berkecepatan tinggi di seluruh Indonesia. Tender ini diikuti tujuh peserta: TLKM, TSEL, WIFI, ISAT, EXCL, Netciti, dan First Republic. “Lelang ini diharapkan menjadi katalis penting untuk memperluas penetrasi internet dan meningkatkan inklusi digital di Indonesia,” tulis Mirae Asset.
Baca Juga
IHSG Ditutup Melesat 73 Poin, Banyak Saham ARA Dipimpin Emiten CPO
Dari sisi saham, sektor telekomunikasi menunjukkan kinerja kuat sepanjang tahun berjalan (YtD), dipimpin oleh EXCL dengan kenaikan 30,2% dan TLKM sebesar 22,1%. Keduanya didukung oleh peningkatan permintaan dan pemulihan average revenue per user (ARPU). “Ini memperkuat pandangan overweight kami terhadap sektor telekomunikasi, yang ditopang pertumbuhan konsumsi data, adopsi digital, dan tren perbaikan harga,” tulis riset tersebut.
Mirae Asset menempatkan ISAT sebagai top pick berkat skala usaha besar, jaringan kuat, dan strategi harga yang disiplin. Namun, lembaga riset itu mengingatkan risiko jangka pendek, seperti perlambatan pertumbuhan ARPU, kompetisi broadband yang semakin intens, dan gangguan dari penyedia internet ilegal yang merusak harga pasar.
“Kami tetap optimistis terhadap potensi pertumbuhan jangka panjang sektor ini, yang didukung oleh perbaikan struktural dan langkah strategis korporasi,” papar Mirae Asset. Berdasarkan valuasi, Mirae merekomendasikan hold saham TLKM dengan target harga Rp 3.200, ISAT direkomendasikan beli dengan target harga Rp 2.500, can EXCL direkomendasikan hold dengan target harga Rp 2.900.
Grafik Saham TLKM, ISAT, dan EXCL

