Surge (WIFI) Dijagokan Menangi Lelang Spektrum 1,4GHz, Sahamnya Bisa ke Level Ini
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) atau Surge disebut menjadi kandidat terkuat yang memenangkan Lelang spektrum 1,4 GHz yang tengah berlangsung di Kementerian Komunikasi dan Digital Indonesia (Komdigi). Hal ini didukung atas keseriusan perseroan menyelesaikan riset dan pengembangan teknologi khusus 1,4 GHz bekerja sama dengan mitra global seperti Qualcomm, Huawei, dan Nokia.
Hal ini mendorong Sucor Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham Surge (WIFI) dengan target harga Rp 7.800. Dengan kesiapan infrastruktur dan strategi bisnis yang solid, WIFI dinilai siap meluncurkan layanan FWA secara nasional. Teknologi ini akan mengganggu dominasi layanan Fixed Broadband tradisional dengan memperluas pasar ke segmen menengah-bawah dan tetap kompetitif di kelas premium.
Baca Juga
Harga Lelang 1,4 GHz Diumumkan Hari Ini, WIFI, TLKM, dan DSSA Siap Bertarung!
Sebelumnya Samuel Sekuritas telah terlebih dahulu merevisi naik target harga saham Surge (WIFI) menjadi Rp 7.800 dengan rekomendasi beli. Dua katalis utama terhadap penguatan harga saham WIFI datang dari Kedua katalis tersebut adalah rencana akuisisi PT Link Net Tbk (LINK) dan kemungkinan memenangkan lelang frekuensi 1,4 GHz.
Analis Sucor Sekuritas Niko Pandowo mengatakan, hasil lelang spektrum 1,4 GHz diperkirakan diumumkan dalam 2-4 minggu setelah penutupan penawaran harga pada 13 Oktober 2025. Lelang ini menawarkan total 80 MHz menggunakan skema Time Division Duplex (TDD), yang dibagi dalam tiga wilayah utama, yaitu Jawa–Papua, Sumatra–Bali–NTT–NTB–Riau, serta Sulawesi–Kalimantan. Spektrum ini akan digunakan untuk pengembangan layanan Fixed Wireless Access (FWA) dengan kecepatan minimum 100 Mbps dan harga maksimum 10% di atas rata-rata pengeluaran telekomunikasi rumah tangga nasional.
Sumber: Sucor Sekuritas
WIFI selaku peserta Lelang mengungkap target ambisisus mencapai 5 juta pelanggan baru dalam setahun setelah memperoleh spektrum 1,4 GHz. Layanan FWA diperkirakan bisa diluncurkan dua minggu setelah hasil lelang diumumkan.
Berbeda dengan layanan Fiber To The Home (FTTH), teknologi FWA memungkinkan ekspansi cepat tanpa perlu membangun infrastruktur kabel. WIFI memanfaatkan menara milik TBIG dan Centratama untuk memperluas jangkauan hingga 500 meter per titik layanan, tanpa bergantung pada jaringan KRL.
Baca Juga
WIFI Siap Jadi Disruptor Baru di Industri Internet, Target Harga Saham Rp 7.800
“WIFI juga telah mengamankan komitmen pasokan 8 juta unit perangkat dari distributor lokal sebagai langkah antisipasi lonjakan permintaan. Dengan demikian, WIFI diprediksi bisa menangkan tender ini, apalagi WIFI telah menyelesaikan riset dan pengembangan teknologi khusus 1,4 GHz bekerja sama dengan mitra global seperti Qualcomm, Huawei, dan Nokia,” tulisnya dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, pekan ini.
WIFI juga mengantongi perjanjian eksklusif dengan para mitra tersebut, yang memberikan akses tunggal terhadap teknologi ini. Sementara itu, pesaing di segmen Fixed Broadband (FBB) belum memiliki solusi FWA yang kompatibel dengan spektrum 1,4 GHz, sehingga posisi WIFI menjadi lebih unggul.
Baca Juga
Siapkan Capex Rp 3,5 Triliun 2025, WIFI Fokus Bangun Jaringan di Wilayah Ini
“Dari tiga peserta lelang yang tersisa TLKM, DSSA, dan WIFI, Sinergi Digital (WIFI) dinilai paling berpotensi memenangkan spektrum ini. Proyeksi ini didukung j aringan backbone luas di sepanjang jalur kereta guna mempercepat penetrasi di wilayah padat penduduk, ekosistem teknologi FWA eksklusif dan matang, serta strategi harga kompetitif yang dapat menekan pesaing,” tulisnya.
Dengan kesiapan infrastruktur dan strategi bisnis yang solid, Surge (WIFI) dinilai siap meluncurkan layanan FWA secara nasional. Teknologi ini diperkirakan akan mengganggu dominasi layanan Fixed Broadband tradisional dengan memperluas pasar ke segmen menengah-bawah dan tetap kompetitif di kelas premium. Spektrum 1,4 GHz menjadi katalis penting bagi WIFI untuk membuka potensi pertumbuhan jangka panjang, mengatasi keterbatasan infrastruktur, dan mempercepat ekspansi berskala besar.

