Lelang Spektrum 5G 2026 Diproyeksi Dongkrak Investasi, Pusat Data, dan Tenaga Kerja Digital
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Direktur Ekskutif ICT Institute Heru Sutadi menilai lelang spektrum frekuensi untuk jaringan 5G yang direncanakan pemerintah awal tahun 2026 akan menjadi magnet pertumbuhan ekonomi digital Indonesia, terutama terkait investasi infrastruktur dan serapan tenaga kerja.
“Lelang spektrum 5G di 2026 diharapkan jadi katalisator besar untuk ekonomi digital Indonesia,” ujar Heru kepada investortrust.id, Minggu (28/12/2025). Menurutnya, keberadaan frekuensi seperti 2,6 GHz dan 700 MHz yang akan dilelang akan mempercepat rollout jaringan 5G dan membuka peluang investasi di berbagai sektor.
Pengamat teknologi itu menyebut, implementasi frekuensi 5G tidak hanya menyediakan jaringan yang lebih cepat dan kapasitas yang lebih besar, tetapi juga membuka peluang kerja baru melalui pembangunan data center, pengembangan aplikasi berbasis 5G, serta sektor terkait seperti Internet of Things (IoT) dan solusi smart city. Hal ini dinilai mampu menciptakan lapangan kerja di sektor teknologi dan jasa.
“Dampaknya? Bisa menciptakan pekerjaan baru melalui pembangunan data center, pengembangan app 5G, dan industri terkait seperti IoT atau smart city,” sambung Heru.
Baca Juga
Lelang Frekuensi 5G Berpotensi Mundur, Menkomdigi Ungkap Penyebabnya
Data terbaru menunjukkan dorongan besar terhadap potensi kontribusi 5G terhadap perekonomian Indonesia. Menurut laporan GSMA yang dirilis Desember 2025, investasi dan adopsi teknologi 5G diproyeksikan dapat menyumbang lebih dari USD 41 miliar (sekitar Rp 650 triliun) terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dalam periode 2024–2030 jika regulasi tepat dan infrastruktur mendukung.
Namun, Heru juga menyoroti sejumlah tantangan yang masih menghantui pelaksanaan lelang spektrum frekuensi 5G. Salah satunya adalah penundaan berulang yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir.
Diketahui, pemerintah sebelumnya sempat menunda lelang frekuensi 700 MHz dan 26 GHz karena permintaan operator seluler agar digabung bersama frekuensi lain, sehingga proses penggelaran jaringan menjadi lebih efisien.
Di sisi lain, Heru menekankan pentingnya pelatihan tenaga kerja untuk memastikan bahwa manfaat ekonomi dari teknologi 5G dapat dinikmati secara luas, termasuk di daerah terpencil. Menurutnya, upaya ini harus dipadukan dengan percepatan pembangunan ecosystem readiness agar tenaga kerja lokal dapat terampil dalam teknologi digital terbaru.
“Tantangannya adalah memastikan lelang tidak mundur lagi, dan fokus pada pelatihan tenaga kerja untuk skill 5G,” jelasnya
Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemenkomdigi) sendiri menargetkan lelang pita frekuensi 2,6 GHz dilakukan pada akhir 2025 atau awal 2026 sebagai bagian dari percepatan perluasan jaringan 5G di Indonesia. Menkomdigi Meutya Viada Hafid menyebut pihaknya akan menyelesaikan proses lelang tersebut agar pembangunan jaringan dapat segera dimulai.
Meskipun terdapat penundaan di masa lalu, operator seluler seperti Telkomsel, XLSmart, hingga Indosat telah menyatakan komitmennya untuk berpartisipasi dalam lelang frekuensi, terutama di 700 MHz dan 2,6 GHz, untuk memperluas jangkauan layanan 5G.
Lelang spektrum frekuensi 5G dipandang sebagai poin penting dalam strategi Indonesia mencapai target konektivitas yang lebih luas, termasuk sasaran cakupan broadband 100 Mbps dan peningkatan pemanfaatan teknologi digital untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional ke depan.
Dengan momentum pelaksanaan lelang dan dorongan investasi yang kuat, Heru pun optimistis bahwa proyek spektrum 5G dapat memperkuat ekosistem digital nasional dan membuka jalan bagi penyerapan tenaga kerja berkualitas di sektor teknologi.

