IHSG Tiba-tiba Anjlok 3% ke Bawah 8.000 Memasuki Sesi II Hari Ini, Faktor Ini Menjadi Pemicu Utamanya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) anjlok tajam pada perdagangan sesi II, Selasa (14/10/2025). IHSG merosot lebih dari 250 poin atau sekitar 3% ke level 7.980 hingga pukul 14.00 WIB, setelah sempat menguat 40 poin di awal perdagangan.
Penurunan tajam tersebut dipicu oleh tekanan jual besar-besaran pada saham-saham konglomerasi yang selama ini menjadi penopang utama indeks.
Baca Juga
IHSG Mendadak Anjlok 3% Terseret Saham Konglomerasi, Ada Apa?
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai bahwa penurunan saham konglomerasi merupakan bagian dari aksi ambil untung (profit taking) yang dilakukan investor.
“Penurunan harga saham konglomerat mengindikasikan aksi profit taking untuk mengalihkan aset ke instrumen safe haven, seperti emas karena tingkat ketidakpastian global masih tinggi,” ujar Nafan saat dihubungi investortrust.id, Selasa (14/10/2025).
Ia menambahkan, lonjakan harga emas dan perak menjadi sinyal bahwa investor tengah mencari perlindungan di aset aman. “Goldman Sachs bahkan memperkirakan harga XAUUSD pada 2026 dapat menyentuh level US$5.000 per troy ounce, karena ketidakpastian global masih kuat,” jelasnya.
Selain profit taking, faktor eksternal turut memperburuk sentimen pasar. Menurut Nafan, meningkatnya ketegangan perang dagang antara Amerika Serikat dan China menambah tekanan terhadap bursa global. “Faktor uncertainties tersebut juga disebabkan eskalasi perang dagang antara AS dan Tiongkok,” imbuhnya.
Baca Juga
IHSG Sepekan Melesat 1,72% hingga Cetak Rekor ATH, Saham Prajogo dan Haji Isam Motor Penggerak
Sementara itu, Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana atau kerap disapa Didit menilai bahwa IHSG kini memasuki fase pelemahan jangka menengah. “Seperti yang kami sampaikan dalam laporan teknikal pagi ini, IHSG diperkirakan berada di awal fase downtrend. Eskalasi perang dagang sejak akhir pekan lalu mendorong investor kembali ke instrumen berisiko rendah,” kata Didit kepada investortrust.id.
Meski tekanan jual masih kuat, Nafan menilai sebagian investor mulai melakukan reposisi ke saham berfundamental solid. “Sejatinya, para pelaku pasar sudah mulai melakukan rebalancing ke saham-saham dengan fundamental yang bagus,” tutupnya.
Top of Form
Bottom of Form

