Setelah ‘Red October’, Kripto Balas Dendam Kini Pasar Kripto Melejit Lagi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Pasar kripto berhasil memulihkan kerugiannya atau rebound setelah aksi jual yang mengakibatkan salah satu peristiwa likuidasi terburuk dalam sejarahnya atau disebut 'Red October.
Pada hari Jumat (10/10/2025) waktu AS atau Sabtu (11/10/2025) dini hari, Bitcoin jatuh dari US$ 121.000 ke level terendah US$ 109.000 selama periode tujuh jam, menghapus semua keuntungan yang diperoleh dari reli awal "Uptober". Ethereum merosot ke level terendah US$ 3.686 sementara Solana menyentuh sedikit di atas US$ 173, data CoinGecko menunjukkan.
Pasar kripto melonjak tajam dalam 24 jam terakhir. Ajaib Kripto mencatat, Bitcoin (BTC) hari ini melejit lebih dari 4%, setelah anjlok parah pada akhir pekan lalu. Kenaikan ini dipicu oleh meredanya ketegangan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China.
“Pernyataan dari kedua pihak pada Minggu (12/10/2025) mengindikasikan kesiapan untuk melanjutkan negosiasi, memunculkan harapan baru bagi pemulihan pasar global,” tulis Financial Expert Ajaib Panji Yudha dalam keterangan resmi, Senin (13/10/2025).
Kenaikan harga itu merupakan respons terhadap guncangan hebat yang melanda pasar pada Jumat (10/10/2025). Pengumuman Presiden Donald Trump mengenai kenaikan tarif 100% pada impor China dan kontrol ekspor perangkat lunak memicu gejolak geopolitik ekstrem.
Menurut data Coinglass, peristiwa ini menyebabkan likuidasi kripto terbesar dalam sejarah, dengan lebih dari US$ 19 miliar posisi leveraged terhapus hanya dalam 24 jam, memukul sekitar 1,6 juta trader.
Bitcoin memimpin kerugian, anjlok lebih dari 12% dari ATH di atas US$ 125.000 menjadi di bawah US$ 113.000. BTC sendiri menanggung likuidasi sebesar US$ 5,34 miliar, diikuti Ethereum US$ 4,39 miliar, dan Solana US$ 2 miliar.
“Likuidasi dramatis ini menegaskan betapa rentannya pasar kripto terhadap peristiwa geopolitik. Investor kini mencermati perkembangan negosiasi dagang AS-China, yang menjadi kunci utama stabilitas pasar digital dan tradisional di kuartal IV,” sambung Panji.
Baca Juga
Pasar Kripto Mulai Stabil, Meski Awan Ketidakpastian Masih Menggantung
Inflow Institusi Terbagi
Selama periode perdagangan lima hari lalu, yakni 6–10 Oktober 2025, dana institusional yang masuk ke instrumen ETF menunjukkan adanya koreksi dan divergensi yang signifikan. Bitcoin Spot ETF mencatat total net inflow positif sebesar US$ 2,31 miliar, didorong oleh lonjakan di awal minggu meskipun ada outflow ringan sebesar US$ 4,5 Juta pada penutupan sesi 10 Oktober 2025.
Sementara itu, Ethereum Spot ETF mengalami pergeseran yang lebih drastis; setelah inflow kuat di awal pekan, dua hari terakhir diwarnai net outflow, sehingga total bersih Ethereum ETF selama periode ini hanya mencapai US$ 280,3 juta.
“Hal ini menegaskan sentimen hati-hati investor yang mulai merealisasikan keuntungan di akhir pekan perdagangan,” imbuh Panji.
Sementara hari ini, Bitcoin berpotensi bergerak di sekitar US$ 113.000 - US$ 116.000 dan Ethereum berpotensi bergerak di sekitar US$ 4.100 - US$ 4.300.
Dalam 24 jam terakhir, Bitcoin melemah 4,24% dan bertengger di harga US$ 121.750 atau sekitar Rp 2,01 miliar. Dominasi pasar BTC (BTC.D) kini berada di level 59,48%, sementara total kapitalisasi pasar aset kripto turun 5,55% menjadi US$ 3,86 triliun
Melansir Decrypt, Senin (13/10/2025), sesi perdagangan yang fluktuatif memicu "crash kilat likuidasi", yang menyapu hampir US$ 7 miliar di seluruh pasar dalam satu jam, dengan US$ 5,5 miliar berasal dari posisi long, ujar Sean Dawson, kepala riset di platform opsi on chain Dervie.
Ketika situasi mereda, hampir US$ 20 miliar likuidasi di seluruh aset digital telah terhapus dalam satu hari pada hari Jumat, dengan US$ 16,7 miliar dalam posisi long menjadi mayoritas, menurut data CoinGlass.
"Secara keseluruhan, ini menandai kehancuran terbesar dalam satu hari dalam sejarah kripto," kata Dawson.
Tak hanya di pasar kripto, saham juga terpukul keras, dengan Nasdaq merosot 3,6%, S&P 500 turun 2,7%, dan Dow Jones turun 1,9%.
Aksi jual saham dan kripto menyusul pengumuman Presiden Trump bahwa ia membatalkan pertemuan yang direncanakan dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping dan telah memerintahkan "kenaikan besar-besaran" tarif impor Tiongkok sebuah langkah yang ia akui dapat "berpotensi menyakitkan" bagi rakyat Amerika.
Peringatan tarif Trump muncul setelah Beijing bergerak untuk mengekang ekspor tanah jarang dan mineral penting, yang meningkatkan ketegangan antara dua ekonomi terbesar dunia.
Menjelang akhir pekan, Tiongkok tampaknya melunakkan pendiriannya, dengan para analis berpendapat bahwa kejatuhan pasar mungkin dipicu oleh reaksi geopolitik yang berlebihan untuk sementara waktu.
"Yang kami lihat adalah reli yang melegakan," ujar Dean Serroni, CEO perusahaan investasi kripto Merkle Tree Capital.
Baca Juga
Krisis Kripto 2025 Jadi Likuidasi Terbesar dalam Sejarah, Lampaui 'Crash' Maret 2020
"Lonjakan Ethereum sebesar 11% murni merupakan short covering dan mean reversion setelah pasar bereaksi berlebihan terhadap kebijakan tarif Trump yang mengejutkan," ujarnya.
Serroni menunjukkan tekanan jual yang "tipis" di tengah pemulihan minat terbuka di pasar derivatif setelah volatilitas melonjak pada "pedagang derivatif yang overleveraged,“Kekalahan ini merupakan reaksi spontan geopolitik, bukan perubahan struktural,” kata Serroni.
Analisa saham dan kripto dengan mudah dan cepat dengan InvestingPro, dapatkan diskon tambahan khusus untuk pembaca Investortrust, klik di sini

