Pasar Kripto Mulai Stabil, Meski Awan Ketidakpastian Masih Menggantung
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Meskipun pasar kripto kembali mengalami gejolak hebat dalam beberapa hari terakhir, sejumlah analis meyakini bahwa tekanan terburuk dari kejatuhan ini mungkin telah mulai mereda, meski belum sepenuhnya berakhir. Fyqieh Fachrur, analis dari Tokocrypto, mengungkapkan bahwa ada sinyal pelemahan tekanan, meskipun pemulihan masih membutuhkan konfirmasi dari berbagai faktor eksternal yang saling berkaitan.
Menurut Fyqieh, kondisi ini dipicu oleh tiga faktor utama: ketegangan geopolitik, likuidasi besar-besaran, dan tekanan teknikal harga. Sorotan utama datang dari keputusan mengejutkan mantan Presiden AS Donald Trump yang mengumumkan tarif impor sebesar 100 persen terhadap berbagai produk dari China, yang akan mulai berlaku pada 1 November 2025. Kebijakan proteksionis ini mengganggu pasar global, termasuk kripto, karena investor melihatnya sebagai potensi awal perlambatan ekonomi global.
“Berbeda dengan emas atau obligasi, Bitcoin masih dianggap aset berisiko, bukan safe haven, sehingga saat ketegangan meningkat, dana justru keluar dari pasar kripto,” ujar Fyqieh pada Minggu, (12/10/2025). Ketidakpastian geopolitik ini menyebabkan arus modal menjauh dari aset-aset digital, berkontribusi pada tekanan jual yang ekstrem di pasar.
Dampaknya pun terasa langsung. Sabtu, 11 Oktober 2025 lalu, pasar mencatatkan likuidasi senilai lebih dari US$ 20 miliar, angka terbesar sejak tahun 2020. Banyak posisi long yang menggunakan leverage tinggi—hingga rasio 7:1—dipaksa ditutup, memicu efek domino di berbagai platform perdagangan, termasuk Binance. Kontrak perpetual Ethereum (ETH) bahkan sempat diperdagangkan 5 persen di bawah harga spot-nya akibat tekanan luar biasa ini.
Namun, ada tanda-tanda awal bahwa tekanan ini mulai menunjukkan pelemahan. Fyqieh mencatat bahwa pendanaan futures telah berbalik menjadi negatif di angka -0,0096 persen, yang mengindikasikan bahwa saat ini trader lebih dominan membuka posisi short. Secara historis, situasi seperti ini sering kali menjadi awal dari potensi pembalikan tren (rebound), khususnya jika tekanan jual tidak berlanjut dengan gelombang likuidasi baru.
Baca Juga
Krisis Kripto 2025 Jadi Likuidasi Terbesar dalam Sejarah, Lampaui 'Crash' Maret 2020
Fyqieh menjelaskan bahwa pemulihan mungkin akan mulai terasa dalam beberapa hari ke depan jika tidak ada kejutan tambahan yang memperburuk sentimen pasar. “Jika tidak ada gelombang likuidasi lanjutan, pasar bisa mulai stabil dalam 3 hingga 7 hari ke depan,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa peluang pemulihan lebih terbuka apabila muncul tanda-tanda perundingan dagang antara Amerika Serikat dan China yang lebih kondusif dalam beberapa minggu ke depan.
Meski begitu, Fyqieh menilai kondisi saat ini belum layak disebut sebagai awal dari bear market penuh. Ia menyebut situasi ini lebih mirip dengan koreksi menengah atau mid-cycle correction, yang merupakan bagian dari siklus alami pasar kripto. Sejak tahun 2017, tercatat sudah terjadi 48 kali penurunan lebih dari 10 persen dalam satu hari perdagangan (intraday), bahkan saat pasar sedang dalam tren naik.
“Jika tekanan leverage terus berkurang dan data makroekonomi menunjukkan perbaikan, pasar bisa stabil dalam tiga minggu ke depan. Namun, jika tekanan dari suku bunga tinggi dan tarif dagang AS–China terus berlanjut, fase ini bisa bertahan hingga satu bulan atau bahkan lebih,” pungkas Fyqieh.
Dengan demikian, meskipun belum bisa dikatakan bahwa badai telah berlalu sepenuhnya, pasar kripto menunjukkan tanda-tanda bahwa tekanan paling tajam mungkin sudah dilewati. Namun, investor tetap perlu mencermati kondisi eksternal, terutama dinamika geopolitik dan kebijakan ekonomi global, yang akan sangat menentukan arah pemulihan selanjutnya.

