Harga Emas Dunia Meroket, Rentang Pergerakan Diprediksi di Atas Level US$ 3.950 per Troy Ounce selama Oktober
JAKARTA, investortrust.id – Harga emas dunia terus melanjutkan reli tajam di awal Oktober 2025. Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai potensi emas bertengger di atas US$ 3.950 per troy ounce semakin terbuka lebar sepanjang bulan ini, didorong oleh peningkatan ketidakpastian politik global dan potensi pelonggaran kebijakan moneter Amerika Serikat (AS).
“Harga emas dunia kemarin sudah sempat menyentuh lebih dari US$ 3.900. Ada kemungkinan besar level US$ 3.950 akan tercapai di bulan Oktober ini. Untuk level US$ 4.000 bisa saja terjadi di awal November,” ujar Ibrahim kepada media, Senin (6/10/2025).
Baca Juga
Ketidakpastian Global Meningkat, Emas Capai Rekor Tertinggi di Atas US$ 3.900
Ia menjelaskan, kenaikan harga emas di pasar global juga mendorong penguatan harga logam mulia dalam negeri, terutama akibat pelemahan nilai tukar rupiah. “Karena Rupiah melemah, harga logam mulia sudah menembus Rp 2.250.000. Jika emas dunia mencapai US$ 3.950, maka potensi harga logam mulia bisa naik hingga Rp 2.300.000 per gram,” tambahnya.
Menurut Ibrahim, lonjakan harga emas dunia tidak terlepas dari krisis politik di Amerika Serikat yang masih mengalami government shutdown. Hingga kini, Partai Republik dan Partai Demokrat belum mencapai kesepakatan dalam negosiasi anggaran di Kongres. “Masih ada perbedaan visi dan misi antarpartai, sementara pemerintahan federal tetap berhenti beroperasi meski Trump terus menekan kebijakan Partai Demokrat,” jelasnya.
Situasi dalam negeri AS juga memanas akibat demonstrasi besar di Oregon terkait isu imigrasi. Ketegangan politik tersebut, lanjut Ibrahim, memperkuat ekspektasi pasar bahwa Bank Sentral AS (The Fed) akan segera memangkas suku bunga. “Ada kemungkinan besar di bulan Oktober ini suku bunga akan diturunkan. Sekitar 99% ekonom memperkirakan The Fed memangkas 25 basis poin,” tuturnya.
Dari kawasan Asia Timur, Ibrahim menyoroti perubahan politik di Jepang setelah Takaichi terpilih sebagai pemimpin Partai Demokrat Liberal yang berkuasa. “Takaichi dikenal berhaluan longgar dalam kebijakan fiskal, sehingga Bank Sentral Jepang kemungkinan mempertahankan kebijakan suku bunga rendah dan pelemahan yen terhadap dolar AS. Ini turut mendukung penguatan emas sebagai aset aman,” paparnya.
Baca Juga
Selain itu, ketegangan perang dagang AS–Tiongkok dan konflik di Eropa juga menambah tekanan pada ekonomi global. “Ukraina terus menggencarkan serangan terhadap fasilitas energi Rusia, termasuk kilang Kirisi yang memiliki kapasitas lebih dari 20 juta ton per tahun. Langkah ini didorong oleh kebijakan G7 yang meningkatkan tekanan terhadap Rusia,” jelasnya.
Ibrahim menambahkan, ketegangan di Timur Tengah juga menjadi faktor penting. Presiden AS Donald Trump disebut tengah berupaya membuka dialog antara Israel dan Hamas guna menekan eskalasi konflik. Menurutnya, kombinasi antara ketidakpastian geopolitik, pelemahan ekonomi global, serta potensi pelonggaran kebijakan moneter menjadi bahan bakar utama penguatan harga emas dunia.
“Semua faktor ini membuat harga emas terus menguat dan berpotensi menembus rekor baru dalam waktu dekat,” pungkas Ibrahim.

