Semester II-2025, Harga Emas Dipercaya Tembus US$ 3.850 per ‘Troy Ounce’
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Harga emas dunia pada semester II-2025 dipercaya dapat menembus level US$ 3.850 per troy ounce atau sekitar Rp 64,58 juta berdasarkan kurs jisdor 26 September 2025 di Rp 16.775 per Dolar As. Sebagai informasi, satu troy ounce emas setara 31,1 gram.
“Dalam semester kedua 2025, saya optimistis harga emas dunia bisa mencapai US$ 3.850 per troy ounce dan logam mulia di Rp 2,3 juta per gram,” jelas Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi melalui pesan singkat, Senin (28/9/2025).
Dalam perdagangan Jum’at (26/9/2025), harga emas dunia ditutup menguat di US$ 3.761,15 per troy ounce. Sedangkan untuk perdagangan besok (Senin 29 September 2025) harga emas dunia diproyeksi bergerak di kisaran support US$ 3.720,12 hingga resistance US$ 3,787.65.
Khusus periode yang lebih panjang, dalam sepekan ke depan, harga emas dunia diprediksi bergerak pada kisaran support US$ 3.711,33 hingga resistance US$ 3.814,4.
“Harga emas dunia di pasar internasional terbentuk berdasarkan analisis fundamental maupun analisis teknikal, serta permintaan dan penawaran terhadap emas batangan di dunia,” sambung Ibrahim.
Sejumlah sentimen yang memengaruhi proyeksi harga emas dunia, antara lain Laporan Departemen Perdagangan Amerika Serikat (AS) mengenai indeks pengeluaran konsumsi pribadi (PCE). Indeks ini naik sesuai perkiraan konsensus pada periode Agustus 2025, yakni 0,3% dibanding bulan sebelumnya dan 2,7% secara tahunan, menunjukkan inflasi yang juga bergerak sesuai harapan.
Baca Juga
Harga Emas Melonjak 2,5% dalam Sepekan, Saatnya Profit Taking?
“Data juga mencatat pendapatan pribadi dan belanja konsumen tumbuh di atas ekspektasi. PCE merupakan ukuran inflasi favorit Federal Reserve,” jelas Ibrahim.
Menurut dia, pejabat Fed menyoroti tindakan penyeimbangan yang rumit untuk mengendalikan inflasi sekaligus mendukung lapangan kerja, yang menjelaskan pendekatan hati-hati terhadap pelonggaran kebijakan.
Gubernur Fed Stephen Miran dan Michelle Bowman tetap bersikap dovish, beberapa komentar mereka menunjukkan bahwa mereka menganjurkan pemangkasan suku bunga lebih lanjut karena pasar tenaga kerja ‘lebih rapuh’.
Sebaliknya, Jeffrey Schmid dari Fed Kansas City dan Austan Goolsbee dari Fed Chicago bersikap hawkish. Schmid menyatakan, kebijakan penurunan suku bunga pada pertemuan bulan ini merupakan langkah yang tepat untuk membatasi pelemahan sektor tenaga kerja.
Sementara Goolsbee mengatakan yang paling mengkhawatirkan adalah risiko inflasi yang dapat terus meningkat. “Meski demikian, pasar terus mengantisipasi penurunan suku bunga lagi pada bulan Oktober,” imbuh Ibrahim.
Perang Dagang
Presiden AS Donald Trump resmi mengumumkan penerapan tarif baru ke sejumlah barang yang masuk ke negeri itu, mulai 1 oktober 2025. Ini menjadi update dari perang dagang yang digaungkan Trump di masa pemerintahan kedua ini.
Dalam pengumuman tersebut, Trump secara resmi memberlakukan tarif impor ke barang-barang asing yang masuk AS, yakni produk farmasi, truk besar, hingga perlengkapan renovasi rumah dan furnitur.
“April lalu, Trump membuat pusing banyak negara setelah mengumumkan penerapan tarif timbal balik (resiprokal) terhadap hampir semua negara mitra dagang AS di seluruh dunia,” tambah Ibrahim.
Sementara dari setimen geopolitik, Eropa semakin membara setelah serangan pesawat nirawak Ukraina terhadap infrastruktur energi Rusia memangkas ekspor bahan bakar negara itu.
Akhir pekan lalu, Wakil Perdana Menteri Alexander Novak Rusia menyebutkan bahwa pihaknya akan memberlakukan larangan sebagian ekspor solar hingga akhir tahun dan memperpanjang larangan ekspor bensin yang sudah ada.
Penurunan kapasitas penyulingan telah menyebabkan beberapa wilayah Rusia menghadapi kekurangan bahan bakar jenis tertentu. Selain serangan pesawat nirawak, tindakan pemerintah AS juga mendukung, dimana Presiden Trump terus menekan sekutu AS untuk mengurangi impor Rusia.
Peringatan NATO akan adanya respons terhadap pelanggaran lebih lanjut di wilayah udara negara-negara anggota telah meningkatkan ketegangan akibat perang di Ukraina dan meningkatkan prospek sanksi tambahan terhadap industri minyak Rusia.

