Pertahankan Profit Stabil hingga CASA Dominan, Saham BBCA Jadi Favorit Sektor Bank
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sukses mencatatkan laba bersih bank only sebesar Rp 39,06 triliun hingga Agustus 2025. Angka tersebut menujukkan pertumbuhan sebanyak 8,52% year-on-year, dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 35,99 triliun. Dengan raihan tersebut, saham BBCA pantas dipertahankan sebagai pilihan teratas untuk sektor perbankan.
BBCA dalam laporan bulanannya menyebutkan bahwa pendapatan bunga bersih mencapai Rp 53,12 triliun, meningkat 5,08% dari Rp 50,55 triliun pada 2024. Pendapatan komisi dan fee juga naik 7,54% menjadi Rp 12,61 triliun, mencerminkan kuatnya bisnis transaksi dan layanan digital. Total pendapatan non bunga BCA tercatat Rp 18,3 triliun, naik 18,9% secara YoY.
Baca Juga
Simak Target Harga Saham Bank, Saham PNBN hingga BBCA Tawarkan Potensi Cuan Segini
Dari sisi intermediasi, BCA menyalurkan kredit Rp920,87 triliun, tumbuh 9,28% yoy. Adapun dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp1.160 triliun, naik dibandingkan posisi setahun sebelumnya Rp1.102 triliun.
Seiring kinerja solid, saham BBCA ditutup menguat 1,97% ke Rp 7.775 per saham pada penutupan perdagangan Senin (29/9). BBCA menjadi satu-satunya saham big bank yang mencatatkan kenaikan di awal pekan ini. Sedangkan pagi ini, saham BBCA bergerak konsolidasi.
Terkait kinerja ini, analis NH Korindo Sekuritas Leonardo Lijuwardi mengatakan, BBCA didukung keunggulan terletak pada dana murah atau CASA yang mencapai Rp 969,29 triliun, naik 7,2% yoy. Dengan porsi 83,55% dari total DPK, BCA mempertahankan posisi sebagai bank dengan rasio CASA tertinggi di industri.
“LDR (loan to deposit ratio) BCA berada di 79,4%. Ini mencerminkan intermediasi optimal untuk mendukung profit, namun tetap memiliki likuiditas kuat bagi ekspansi kredit,” jelasnya.
Baca Juga
Analis: BBCA Didukung Likuiditas Kuat, Target Bisnis Tahun Ini Bisa Terlampaui
Meski laba tumbuh stabil, BCA menerapkan strategi konservatif dengan meningkatkan pencadangan menjadi Rp2,66 triliun, naik 106,75% dibandingkan Agustus 2024. Leonardo menyebut langkah ini sebagai kombinasi pertumbuhan berkelanjutan dan manajemen risiko yang prudent.
“BCA tidak hanya mengejar laba jangka pendek, tetapi juga menjaga kualitas aset. Dengan buffer pencadangan yang besar, bank lebih fleksibel jika ekonomi membaik, karena cadangan bisa dilepas menjadi laba tambahan,” katanya.
Ia menambahkan, pertumbuhan laba bersih BCA cenderung stabil dan on track. BCA diproyeksikan tetap menjadi salah satu bank paling profitable di Indonesia sepanjang 2025.
Rekomendasi Beli
Sementara itu, analis BRI Danareksa Sekuritas Naura Reyhan Muchlis dan Victor Stefano dalam riset hari ini mengatakan, BBCA layak dipertahankan sebagai saham pilihan teratas untuk sektor perbankan. Saham ini direkomendasikan beli dengan target harga Rp 11.900.
Baca Juga
BCA (BBCA) Klarifikasi Sistem Tetap Aman dan Dana Nasabah Terjaga di Tengah Dugaan Pembobolan RDN
“Risiko negatif terhadap net interest margin (NIM) dan nilai tukar rupiah masih membayangi. Namun, tingginya suku bunga deposito dolar AS (USD TD) dinilai mampu meningkatkan likuiditas domestik dan menopang perekonomian melalui instrumen swap valas Bank Indonesia (BI) serta operasi moneter yang menyuntikkan rupiah ke sistem keuangan,” tulisnya.
Dengan mempertimbangkan faktor-faktor tersebut, BBCA tetap diposisikan sebagai long-term top pick di sektor perbankan Indonesia berkat fundamental kuat dan basis dana murah (CASA) yang solid.

