Likuiditas Pulih, Saatnya Borong Saham Bank dengan Pilihan Teratas BBCA dan BBRI
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Saatnya memburu saham-saham perbankan di tengah membanjirnya sentimen positif, khususnya keputusan pemerintah untuk menggelontorkan dana senilai Rp 200 triliun ke dalam sistem perbankan Indonesia untuk memperkuat likuiditas. Sentimen positif juga datang dari global dengan peluang pemangkasan suku The Fed.
Hal ini mendorong Sucor Sekuritas mempertahankan rekomendasi overweight saham sektor perbankan dengan keyakinan bahwa kondisi terburuk telah terlewati. Likuiditas sistem perbankan mulai pulih, seiring dengan penurunan penerbitan dan imbal hasil SRBI serta masuknya dana pemerintah Rp 200 triliun, berlanjutnya pertumbuhan uang beredar (M2), dan imbal hasil obligasi pemerintah bergerak lebih rendah. Kualitas aset dan buffer permodalan tetap sehat.
Baca Juga
Harga Emas Masih Dekat Rekor Tertinggi, Investor Pantau Data AS
“Dengan latar belakang ini, valuasi sektor bank Tanah Air telah turun ke level rendah, sehingga menciptakan titik masuk yang menarik bagi investor jangka panjang yang mencari eksposur berkualitas,” tulis analis Sucor Sekuritas Edward Lowis dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, kemarin.
Terkait likuiditas dana, Edward mengatakan, terlihat tanda-tanda pemulihan dalam beberapa bulan terakhir yang ditunjukkan saldo SRBI yang beredar turun menjadi Rp 740 triliun pada Juli 2025 dari puncaknya Rp 969 triliun pada November 2024. Imbal hasil SRBI juga turun signifikan dari puncaknya 7,3% di awal 2025 menjadi sekitar 5% saat ini, mengikuti penurunan yang lebih luas pada imbal hasil obligasi pemerintah.
Secara paralel, pertumbuhan jumlah uang beredar (M2) meningkat menjadi 6,5% yoy pada Juli 2025, pulih dari level terendah 2,5% di Mei. Rasio LDR industri juga turun menjadi 86,4% di Juni 2025, dari 89,2% pada Maret 2025, dengan bank-bank besar (KBMI IV) menunjukkan perbaikan paling signifikan pada 85,2% (dibandingkan puncak 90,3% di 2024). Sentimen juga datang dari rencana pemerintah menggelontorkan dana Rp 200 triliun ke sistem perbankan nasional.
“Perbaikan likuiditas ini akan membantu bank untuk mengelola biaya dana dengan lebih baik, mendukung potensi rebound NIM pada paruh kedua 2025, khususnya di tengah kondisi kurva imbal hasil yang semakin curam,” tulisnya.
Baca Juga
Terkuak Alasan Pemerintah Gunakan Rp 200 Triliun untuk Suntik Perbankan
Sucor Sekuritas menambahkan bahwa rasio NPL industri berada di level 2,2% per Juni 2025, hanya sedikit lebih tinggi dari tahun lalu dan masih dalam kisaran yang dapat dikelola. Rasio Special Mention Loan (SML) juga stabil di 4,5% tanpa tanda-tanda material penurunan kualitas kredit sejauh ini. Bahkan, lima bank besar tetap menjaga buffer pencadangan yang kuat dengan LLR jauh di atas rata-rata pra-COVID. Hal ini memberi bantalan untuk menyerap potensi kerugian kredit, terutama seiring kondisi makro yang secara bertahap membaik di paruh kedua 2025.
Dari sisi kredit, Sucor Sekuritas menyebutkan, diproyeksikan terjadi momentum kenaikan pada paruh kedua 2025 didukung oleh peningkatan penyaluran fiskal, investasi sektor swasta, dan kondisi likuiditas yang lebih baik. Penyaluran stimulus fiskal sesuai anggaran serta percepatan program prioritas pemerintah diperkirakan menciptakan dampak positif bagi permintaan kredit. Segmen rumah tangga dan UMKM juga diperkirakan akan mendapat manfaat dari tren konsumsi musiman yang lebih kuat menjelang akhir tahun. Ditargetkan pertumbuhan kredit tahun ini sebesar 8% (dibandingkan basis tinggi 13% di tahun sebelumnya).
Valuasi Saham
Edward mengatakan, valuasi saham perbankan kini diperdagangkan pada level –1SD di bawah rata-rata PBV 10 tahun, mendekati level pada saat pandemi COVID-19. “Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar potensi penurunan sudah diperhitungkan. Selain itu, kami menemukan bahwa rasio ROE-to-PBV sektor perbankan telah membaik dalam beberapa tahun terakhir, menyoroti adanya perbedaan antara peningkatan profitabilitas bank dan valuasi pasar yang masih tertekan,” tulisnya.
Bahkan, terang dia, beberapa bank besar kini memiliki level ROE-to-PBV yang sama atau lebih tinggi dari rata-rata pra-COVID yang mengindikasikan bahwa pasar belum sepenuhnya menghargai kekuatan profil pengembalian tersebut. “Kami melihat kesalahan harga ini sebagai peluang bagi investor jangka panjang untuk mengakumulasi bank-bank berkualitas tinggi dengan profitabilitas berkelanjutan,” terangnya.
Baca Juga
Saham Bank BUMN Menguat Usai Purbaya Pastikan Rp 200 Triliun Masuk Perbankan
Hal ini mendorong Sucor Sekuritas mempertahankan pandangan konstruktif terhadap sektor perbankan Indonesia. Dengan valuasi yang rendah serta ROE menengah hingga tinggi yang berkelanjutan dan ditopang permodalan kuat menjadi peluang masuk kembali pada saham bank. Sedangkan saham pilihan teratas sektor perbankan adalah saham BBCA direkomendasikan beli dengan target harga Rp 11.500 didukung kekuatan franchise yang tak tertandingi, kualitas aset unggul, konsistensi ROE, serta perlindungan kuat terhadap risiko penurunan di pasar volatil.
Sucor Sekuritas juga merekomendasikan beli saham BBRI dengan target harga Rp 5.300. Rekomendasi ini menggambarkan valuasi menarik, imbal dividen yang kompetitif, dan buffer pencadangan yang kuat, yang memberi perlindungan jika terjadi penurunan kualitas aset. BBRI juga merupakan penerima manfaat utama dari biaya pendanaan yang lebih rendah seiring perbaikan likuiditas sistem.
Grafik Saham Bank Ytd

