Indo Tambangraya (ITMG) Kaji Diversifikasi Emas dan Tembaga
JAKARTA, investortrust.id – PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) membuka peluang diversifikasi bisnis ke sektor mineral strategis, termasuk emas dan tembaga. Strategi ini sejalan dengan upaya perusahaan menjawab tantangan pasar batu bara global yang kini mengalami tekanan harga dan permintaan.
Direktur Utama ITMG Mulianto menyampaikan, pihaknya melihat prospek positif dari critical minerals sebagai bagian dari strategi jangka panjang. “Ya, gold itu kita kategorikan sebagai salah satu critical mineral, sehingga any opportunity ke arah yang nikel, bauksit, tembaga, dan emas itu akan dipertimbangkan,” kata Mulianto dalam pubex live 2025 secara daring, Rabu, (10/9/2025).
Baca Juga
IHSG Ditutup Rebound 0,92%, Tujuh Saham Dipimpin PIPA Cetak ARA
Meski demikian, dia mengatakan, manajemen belum bisa merinci lebih lanjut mengenai lokasi maupun bentuk investasi yang akan dilakukan, termasuk terkait rencana masuk ke sektor pertambangan emas.
Mulianto
Belum lama ini, ITMG melakukan aksi korporasi dengan diversifikasi bisnisnya ke sektor nikel dengan mengakuisisi 9,62% saham PT Adhi Kartiko Pratama Tbk (NICE) pada Juli 2025 lalu. Akuisisi ini sebagai investasi jangka panjang guna mendukung transisi energi dan ekonomi hijau, karena nikel merupakan bahan baku penting untuk baterai kendaraan listrik.
Di sisi lain, kinerja keuangan ITMG pada paruh pertama 2025 masih tertekan akibat harga batu bara turun signifikan. Direktur Keuangan ITMG, Julius Prakasa Darmawan, menjelaskan, rata-rata harga jual batu bara ITMG turun dari US$ 96 per ton pada paruh pertama 2024 menjadi US$ 78 per ton pada periode yang sama tahun ini.
Baca Juga
Berpeluang Masuk MSCI, Intip Prospek Saham Mayapada Hospital (SRAJ) Berikut
“Tekanan atas supply dan demand di pasar bat ubara memang sedang besar. Guna mengantisipasi, kami mengoptimalkan produksi dan pemasaran, mengeksplorasi pasar potensial di Asia, serta melakukan efisiensi biaya,” jelas Julius.
Salah satu langkah efisiensi dilakukan melalui pengendalian stripping ratio dari 10,6 tahun lalu menjadi 9 pada semester I-2025. Selain itu, perusahaan menekan biaya pembuangan overburden serta mengelola overhead agar tetap kompetitif.

