Penasihat Danantara Ray Dalio Sebut Kripto Makin Terlihat Menarik, Jikalau....
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Miliarder hedge fund sekaligus Penasihat Badan Pengelola Indonesia Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) Ray Dalio kembali memperingatkan soal rapuhnya dolar Amerika Serikat (AS) akibat beban utang yang kian membengkak.
Menurut pendiri Bridgewater Associates itu, kondisi ini bisa berujung pada “classic devaluation” atau fenomena penurunan nilai mata uang yang pernah terjadi pada 1930-an dan 1970-an. Dalio menegaskan, dalam situasi seperti ini, kripto dan emas muncul sebagai aset lindung nilai.
"Kripto kini menjadi mata uang alternatif yang pasokannya terbatas. Jadi, jika semua faktor lain sama, jika pasokan uang dolar meningkat dan atau permintaannya turun, kemungkinan besar kripto akan menjadi mata uang alternatif yang menarik. Saya pikir sebagian besar mata uang fiat, terutama yang memiliki utang besar, akan kesulitan menjadi penyimpan kekayaan yang efektif dan nilainya akan turun dibandingkan mata uang keras. Inilah yang terjadi pada periode 1930-1940 dan 1970-1980," ujarnya dalam postingan di X, Rabu (3/9/2025).
— Ray Dalio (@RayDalio) September 2, 2025
Dalio membedah kondisi fiskal AS dengan angka mencengangkan. Melansir Indodax, Kamis (4/9/2025), pemerintah AS saat ini membelanjakan sekitar US$ 7 triliun per tahun, sementara pendapatannya hanya US$ 5 triliun, meninggalkan defisit US$ 2 triliun.
Untuk menutup kebutuhan, Washington diperkirakan harus menjual obligasi baru senilai US$ 12 triliun dalam setahun. Lebih buruk lagi, beban bunga utang sudah tembus US$ 1 triliun per tahun, atau setengah dari defisit total.
“Utang yang menumpuk ini merusak daya tarik dolar dan aset cadangan lainnya. Investor wajar beralih ke emas dan kripto,” jelas Dalio.
Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden/ Rusman.
Lebih lanjut, Dalio menilai dolar tidak kehilangan statusnya sebagai mata uang cadangan global karena faktor deregulasi, melainkan karena fundamental fiskal yang melemah. Kondisi ini menurutnya mendorong investor untuk mengalokasikan sebagian portofolio ke aset alternatif.
Sebelumnya, pada Juli lalu, Dalio bahkan merekomendasikan investor menaruh 15% portofolio ke Bitcoin (BTC) atau emas. Ia menilai kedua aset tersebut lebih mampu menjaga nilai dibanding fiat currency yang sarat utang.
Di sisi lain, Dalio juga menyinggung stablecoin, yang sebagian besar ditopang oleh obligasi AS. Ia menilai stablecoin tidak menimbulkan risiko sistemik jika dikelola dengan regulasi jelas.
Namun ia memperingatkan bahwa penurunan daya beli US treasuries adalah isu besar yang bisa mengguncang nilai cadangan berbasis dolar.
“Stablecoin sendiri aman, tapi jika nilai riil treasuries terus turun, itu masalah yang tidak bisa diabaikan,” katanya.
Meski mengakui potensi kripto, Dalio tetap lebih condong pada emas karena statusnya sebagai aset cadangan terbesar kedua di dunia setelah dolar. Baginya, emas punya rekam jejak panjang sebagai penyimpan nilai di tengah ketidakpastian. Namun, pernyataannya jelas menandai pergeseran pandangan investor institusional bahwa kripto kini masuk radar sebagai instrumen hedge sejajar dengan emas.

