Indonesia Peringkat ke-3 Adopsi Kripto di 2024, Kasus Indodax Diretas akan Geser Posisi Tersebut?
JAKARTA, investortrust.id - Laporan terbaru dari Chainalysis menyebutkan bahwa Indonesia kini menempati posisi ketiga dalam daftar negara dengan adopsi kripto terbesar di dunia pada tahun 2024. Pencapaian ini menempatkan Indonesia di atas negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan Vietnam, menandai lonjakan adopsi kripto yang signifikan.
Di sisi lain, kasus peretasan yang menimpa salah satu pedagang aset kripto nasional terbesar di Indonesia Indodax baru-baru ini menurut Co-founder CryptoWatch dan Pengelola Channel Duit Pintar Christopher Tahir tidak akan berdampak signifikan ke posisi adopsi kripto Tanah Air.
“Nah kalau adopsi sih harusnya sih tidak berubah yah. Apalagi Indodax juga sudah kasih statement bahwa dana nasabah aman. Tapi mungkin kripto di Indonesia secara nilai transaksi akan berkurang,” ujarnya kepada investortrust.id, Sabtu (14/9/2024).
Seperti diketahui, perkembangan industri kripto di Indonesia terus meningkat, didorong semakin tingginya minat masyarakat terhadap aset digital. Terlihat dari nilai transaksi kripto melejit 354% secara tahunan per Agustus 2024.
Baca Juga
Insiden Peretasan Indodax, Pemerintah Perlu Siapkan Aturan Khusus Perdagangan Aset Kripto
“Secara akumulatif nilai transaksi aset kripto pada Januari-Agustus 2024 mencapai Rp 344 triliun atau tumbuh 354% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya,” ujar Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital dan Aset Kripto (IAKD) OJK Hasan Fawzi, dalam Konferensi Pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) Agustus 2024, yang diadakan secara virtual, Jumat (6/9/2024).
Sementara itu jika dilihat secara bulanan, nilai transaksi kripto juga tumbuh 3,65% dari Rp 40,85 triliun pada Juni 2024 menjadi Rp 42,34 per Juli 2024. Sejalan dengan hal tersebut, total investor kripto tercatat 20,59 juta investor pada Juli 2024, naik 1,73% dibanding Juni 2024 yang sebanyak 20,24 juta investor.
Lebih lanjut Christopher mengatakan, harga kripto di bulan September secara umum biasanya mengalami pelemahan dibandingkan bulan-bulan lainnya.
“Bulan ini (September) secara musiman merupakan bulan terburuk kripto, kita lihat saja. Tapi transaksi di jaringan makin sepi belakangan ini,” katanya seraya menambahkan bahwa penurunan suku bunga The Fed yang diprediksi terjadi bulan September ini tidak akan besar efeknya ke harga kripto.
Adapun menilik data Coinmarketcap, Sabtu (14/9/2024) pagi harga kripto berhasil balik arah ke zona hijau. Bitcoin misalnya sudah kembali ke level psikologisnya US$ 60.000-an.
Sebelumnya mengutip Tokocrypto, dalam laporan terbarunya yang berjudul “The 2024 Global Crypto Adoption Index”, Chainalysis mengevaluasi 151 negara berdasarkan berbagai indikator, termasuk nilai kripto yang diterima melalui layanan terpusat dan aktivitas transaksi di protokol DeFi. Indonesia yang sebelumnya berada di peringkat ketujuh, kini melesat ke posisi ketiga, menunjukkan kenaikan hampir 200% dari tahun lalu.
Peningkatan ini mencerminkan perubahan besar dalam cara masyarakat Indonesia berinteraksi dengan aset kripto. Negara ini mencatatkan aliran masuk sebesar US$ 157,1 miliar dalam perdagangan aset digital selama periode 12 bulan hingga Juli 2024. Meskipun penggunaan kripto sebagai alat pembayaran resmi dilarang, Indonesia tetap menjadi pemain utama dalam transaksi kripto.
Baca Juga
Selain Penipuan Digital di Sektor Kripto, Berikut 4 Jenis Penipuan yang Kini Lagi Marak
Asia Tengah, Selatan, dan Oseania mendominasi daftar adopsi kripto global tahun ini, dengan tujuh dari 20 negara teratas berasal dari kawasan ini. Indonesia berperan penting dalam tren ini, terutama melalui penggunaan protokol DeFi.
Negara ini bahkan menduduki peringkat pertama dalam hal nilai DeFi yang diterima, baik secara keseluruhan maupun dari pengguna ritel. Keberhasilan ini didorong oleh minat tinggi terhadap investasi alternatif seperti meme coin di exchange terdesentralisasi (DEX), yang menawarkan peluang keuntungan cepat bagi investor.
India tetap memimpin sebagai negara dengan adopsi kripto terbesar di dunia untuk tahun kedua berturut-turut. Nigeria mengikuti di posisi kedua, sementara Amerika Serikat berada di peringkat keempat. Vietnam, yang sebelumnya berada di posisi ketiga, kini turun ke kelima. Negara Asia Tenggara lainnya, seperti Filipina, juga masuk dalam daftar 10 besar negara dengan adopsi kripto terbesar.
Secara keseluruhan, periode dari kuartal keempat tahun 2023 hingga kuartal pertama 2024 menunjukkan lonjakan signifikan dalam nilai aktivitas kripto global, melampaui level yang tercatat selama pasar bull pada tahun 2021. Hal ini mencerminkan pertumbuhan pesat dalam adopsi kripto, dengan negara-negara di Asia menunjukkan peningkatan yang signifikan.
Pencapaian Indonesia dalam adopsi kripto merupakan indikator penting dari pertumbuhan dan perkembangan sektor kripto di Asia Tenggara.
Dengan posisi ketiga global, Indonesia tidak hanya menunjukkan kemajuan dalam teknologi dan inovasi keuangan tetapi juga menegaskan dirinya sebagai kekuatan utama dalam ekosistem kripto dunia. Terlepas dari regulasi ketat yang ada, adopsi kripto di Indonesia tetap berkembang pesat, menciptakan peluang baru bagi investor dan pelaku industri di seluruh dunia.

