Indonesia Melesat ke Peringkat 3 Dunia untuk Adopsi Kripto
JAKARTA, investortrust.id - Berdasarkan laporan terbaru dari Chainalaysis, Indonesia berhasil melesat ke peringkat ketiga dunia untuk adopsi kripto. Padahal tahun lalu, RI bertengger di peringkat ketujuh.
Melansir laporan Chainanalysis Team, Selasa (19/11/2024), kawasan Asia Selatan dan Oceania menjadi pemimpin global dalam hal adopsis aset kripto. Di mana, tujuh dari 20 negara teratas dalam Global Crypto Adoption Index 2024 berasal dari wilayah ini.
Hal tersebut mencerminkan aktivitas yang tinggi di bursa lokal, layanan trader, dan decentralized finance (DeFi). India, Indonesia, dan Vietnam menjadi sederet negara dengan kontribusi terbesar dalam peningkatan tersebut.
Baca Juga
Bappebti Perkirakan Transaksi Aset Kripto Bisa Tembus Rp 600 Triliun di Akhir Tahun Ini
India menduduki peringkat pertama dalam indeks adopsi aset kripto ini, didukung oleh tingginya nilai layanan terpusat yang diterima baik dari sisi layanan ritel maupun layanan DeFi.
“Sedangkan Indonesia menyusul di posisi ketiga, dengan nilai tinggi untuk layanan DeFi, baik di tingkat ritel maupun keseluruhan,” tulis laporan tersebut.
Laporan tersebut juga mencatat, aktivitas adopsi aset kripto global meningkat secara signifikan sejak kuartal empat 2023 hingga kuartal satu 2024. Nilai total aktivitas kripto global kini melampaui puncak yang pernah dicapai pada masa bull market kripto tahun 2021.
Pertumbuhan ini terlihat di semua lapisan pendapatan, dengan penurunan aktivitas di negara-negara berpenghasilan tinggi sejak awal 2024. “Kami melihat pola ini terus berlanjut, di mana negara-negara dengan pendapatan rendah dan menengah ke bawah berperan lebih dominan dalam adopsi aset kripto,” lanjut laporan tersebut.
Baca Juga
Siap-siap! Bank Investasi Raksasa AS Goldman Sachs akan Luncurkan Platform Kripto
Selain itu, peluncuran exchange traded fund (ETF) spot Bitcoin di Amerika Serikat (AS) juga menjadi faktor utama dalam peningkatan nilai total aktivitas Bitcoin di seluruh wilayah.
“Peluncuran ETF itu memicu peningkatan aktivitas Bitcoin secara global, terutama di kalangan institusi di wilayah berpendapatan tinggi seperti Amerika Utara dan Eropa Barat,” jelas Chainanalysis.

