BBTN Didukung Sentimen Positif, Target Harga Saham Direvisi Naik ke Rp 1.600
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Rekomendasi saham PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) direvisi naik seiring ekspektasi perbaikan margin bunga bersih (NIM) serta langkah manajemen menaikkan target pertumbuhan kredit tahun ini. Sentimen positif juga ditopang oleh kinerja keuangan BBTN yang solid hingga semester I-2025.
Samuel Sekuritas merevisi rekomendasi saham BBTN dari sell menjadi buy dengan target harga baru Rp 1.600 atau potensi kenaikan 25%, dibandingkan harga penutupan kemarin Rp 1.280. Valuasi tersebut mencerminkan PBV 2025F sebesar 0,48x. Revisi target mempertimbangkan kenaikan target pertumbuhan kredit 2025 ke 7–9% dari sebelumnya 7–8% yang didukung program FLPP dan KUR Perumahan. Sementara itu, target pertumbuhan DPK juga dinaikkan menjadi 8–10%.
Baca Juga
Katalis utama saham BBTN datang dari pemangkasan suku bunga acuan BI sebesar 100 bps tahun ini yang akan menurunkan biaya dana, sehingga NIM diperkirakan tetap meningkat hingga akhir tahun. Revisi naik juga mempertimbangkan percepatan realisasi FLPP, penyaluran KUR Perumahan, serta pemulihan CASA. Tahun ini, kuota FLPP ditetapkan 350 ribu unit dengan anggaran Rp 31 triliun.
Analis Samuel Sekuritas, Brandon Boedhiman dan Prasetya Gunadi, dalam riset pekan lalu menegaskan BBTN mencatatkan laba bersih konsolidasian Rp 802 miliar pada kuartal II-2025, tumbuh 24,9% YoY. Secara kumulatif, laba bersih semester I-2025 mencapai Rp 1,7 triliun, naik 13,6% YoY atau setara 46,2% dari target tahunan dan 52,7% dari konsensus analis.
Pertumbuhan BBTN ditopang pendapatan bunga bersih (NII) yang melonjak 55,1% YoY menjadi Rp 9,3 triliun, seiring kenaikan NIM ke 4,4% pada kuartal II-2025 dari 3,6% di kuartal sebelumnya. “Kenaikan NIM ditopang yield aset yang naik 104 bps YoY, serta pertumbuhan kredit 6,8% YoY menjadi Rp 376 triliun, didorong KPR naik 7,4% YoY dan kredit korporasi melonjak 18,4% YoY,” tulis riset tersebut.
Dari sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah (gross NPL) terjaga di 3,3%, sedangkan Loan at Risk (LAR) turun ke 20,2% dari 21,2% di kuartal II-24. Cost of Credit (CoC) naik ke 2,0% pada kuartal II dari 1,1% di kuartal I-2025 akibat tambahan provisi, namun langkah ini mendukung peningkatan coverage ratio NPL di atas 120% pada akhir 2025.
Baca Juga
BTN Digital Store Hadir di BEI, Perkuat Strategi Transformasi Perbankan
Brandon dan Prasetya menambahkan, kenaikan target harga saham BBTN juga ditopang program KUR Perumahan yang tertuang dalam Permenko No.13/2025. Skema ini melengkapi FLPP dengan memberi pinjaman subsidi bagi pengembang maupun pembeli rumah. Nasabah bisa mengakses kredit hingga Rp 500 juta berbunga 6%, sementara pengembang mendapat plafon Rp 20 miliar untuk modal kerja atau investasi. Dengan program ini, BBTN diproyeksikan membiayai 50–100 ribu unit pada 2026.
Samuel Sekuritas juga merevisi naik proyeksi pendapatan operasional BBTN dari Rp 18,93 triliun menjadi Rp 21,07 triliun tahun ini. Laba bersih 2025 diperkirakan Rp 3,45 triliun dibanding realisasi tahun lalu Rp 3 triliun. Pada 2026, pendapatan ditargetkan Rp 22,86 triliun dan laba bersih Rp 3,68 triliun.
Baca Juga
Bank Victoria Syariah Jadi Bank Syariah Nasional, Berikut Susunan Baru Pengurusnya
Rekomendasi beli saham BBTN turut diberikan Mandiri Sekuritas melalui analis Kresna Hutabarat dan Boby Kristanto Chandra. Mereka menegaskan fundamental BBTN tetap solid dengan prospek positif dari dukungan kebijakan pemerintah. Rekomendasi buy dipertahankan dengan target harga Rp 1.380 per saham.
“Subsidi perumahan pemerintah diyakini akan mendorong peningkatan NIM BTN dan memperkuat posisi sebagai bank utama di pembiayaan perumahan, sekaligus membuka peluang profitabilitas lebih tinggi ke depan,” tulis riset Mandiri Sekuritas.

