TikTok di Ujung Tanduk, Trump Kembali Perpanjang Tenggat Divestasi di AS
Poin Penting
|
WASHINGTON, investortrust.id – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali memberi sinyal perpanjangan tenggat waktu divestasi TikTok di AS. Trump juga mengatakan sudah ada pembeli potensial dari perusahaan AS yang berminat mengakuisisi operasi ByteDance di negeri itu.
"Kami punya pembeli Amerika yang sangat kuat. Mereka ingin memilikinya," kata Trump dilansir dari Reuters, Senin (25/8/2025).
Trump menegaskan bahwa dirinya tidak melihat isu keamanan nasional sebagai masalah besar dalam penggunaan TikTok. “Saya sebenarnya penggemar TikTok. Menurut saya, kekhawatiran soal keamanan itu sangat dilebih-lebihkan,” ujarnya.
Baca Juga
Seperti diketahui, Undang-Undang tahun 2024 mewajibkan ByteDance untuk melepaskan aset TikTok di AS paling lambat 19 Januari 2025. Namun, setelah Trump kembali menjabat pada 20 Januari lalu, ia memilih menunda penerapan aturan itu. Awalnya tenggat mundur ke 17 September 2025, dan kini ia membuka kemungkinan perpanjangan lagi.
Pemerintah AS sendiri baru saja membuka akun resmi di TikTok pada Selasa (19/8/2025), sebuah langkah yang disebut pengamat sebagai anti-klimaks di tengah desakan divestasi. Trump pun menanggapi santai hal itu dengan mengatakan bahwa “selama belum selesai, kita teruskan dulu.”
Sejumlah perusahaan teknologi Amerika pernah dikaitkan sebagai calon pembeli TikTok, termasuk Microsoft, Oracle, dan Walmart. Namun menurut laporan Bloomberg terbaru, Oracle masih menjadi kandidat paling serius karena telah bermitra dengan ByteDance dalam layanan cloud di AS sejak 2020.
Baca Juga
Resmi Masuk FTSE Global, Saham Emiten Hermanto Tanoko (CLEO) Diprediksi Tarik Minat Investor Global
Sementara itu, ByteDance kembali menegaskan tidak berniat menjual TikTok. Perusahaan tersebut menilai tekanan politik AS sebagai bentuk diskriminasi yang tidak adil. “TikTok adalah aplikasi global, dan kami berkomitmen menjaga keamanan data pengguna di seluruh dunia,” kata perwakilan ByteDance.
Di Kongres, sejumlah anggota Partai Republik dan Demokrat mengecam langkah Trump yang dianggap melemahkan undang-undang yang telah disahkan. Senator Mark Warner dari Partai Demokrat mengatakan, “Setiap hari penundaan berarti data jutaan warga Amerika tetap berada di bawah potensi pengaruh Beijing.”
Namun, jajak pendapat terbaru dari Pew Research Center menunjukkan lebih dari 60% pengguna muda di AS tidak setuju jika TikTok diblokir total. Mereka menilai aplikasi itu bagian penting dari ekspresi budaya populer dan sarana ekonomi kreator konten. Hal ini membuat isu TikTok menjadi sensitif menjelang pemilu presiden 2026.
Baca Juga
BP Tapera Salurkan 158.641 Rumah Subsidi Senilai Rp 19,678 Triliun, Jawa Barat Tertinggi
Selain itu, investor global juga menyoroti dampak finansial dari ketidakpastian ini. Valuasi TikTok di AS diperkirakan mencapai lebih dari US$ 40 miliar, dan proses divestasi yang berlarut-larut dikhawatirkan menghambat ekspansi bisnis ByteDance di luar negeri.
Trump sendiri menutup pernyataannya dengan kembali menegaskan sikap fleksibel. “Saya akan berbicara dengan Presiden Xi Jinping pada waktu yang tepat. Sampai semuanya lebih jelas, kita bisa terus memperpanjang sedikit demi sedikit,” tutupnya.

