Revisi Outlook Pendapatan hingga Siapkan Spin Off Aset Fiber Rp 150 Triliun, Telkom (TLKM) Diganjar Rekomendasi Ini
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) memangkas proyeksi pertumbuhan pendapatannya tahun 2025 menjadi dari sebelumnya low single-digit growth menjadi flat, seiring pemulihan daya beli masyarakat berlangsung lebih lama dari perkiraan. Begitu juga dengan margin EBITDA direvisi turun dari semula 50-52% menjadi sekitar 50%.
Meski proyeksi kinerja keuangan dipangkas, BRI Danareksa Sekuritas dan Mandiri Sekuritas kompak mempertahankan rekomendasi beli saham TLKM dengan target harga masing-masing Rp 3.500. Target harga ini mempertimbangkan focus efisiensi yang dijalankan perseroan bersamaan dengan rencana spin off aset fiber akhir tahun ini.
Baca Juga
Percepat Eksekusi Transformasi, Telkom (TLKM) Cetak Laba Bersih Rp 11 Triliun di Semester I-2025
Mandiri Sekuritas dalam riset menyebutkan bahwa Telkom melalui earnings call menyebutkan perseroan tetap mempertahankan rencana belanja modal (capex) di kisaran 17–19% dari pendapatan. Fokus perseroan tetap pada efisiensi operasional dan optimalisasi aset, sambil mengantisipasi pemulihan konsumsi.
Emiten pelat merah ini juga menyiapkan aksi korporasi strategis tahun ini, yaitu tahap pertama injeksi aset fiber optik ke Infranexia, anak usaha infrastruktur digital Telkom. Telkom juga menyiapkan pengumuman kemitraan strategis terkait data center dalam waktu dekat.
“Aksi ini sejalan dengan strategi konsolidasi infrastruktur dan monetisasi aset yang digencarkan Telkom dalam beberapa tahun terakhir, guna memperkuat fundamental bisnis digital dan mendorong pertumbuhan jangka panjang. Hal ini mendorong kami untuk mempertahankan rekomendasi beli saham TLKM dengan target harga Rp 3.500,” tulis analis Mandiri Sekuritas Henry Tedja dan Danif Nouval Esfandiari.
Baca Juga
Trump Ancam Tarif 100% untuk Chip, Kecuali Perusahaan Bangun Pabrik di AS
Sementara itu, analis BRI Danareksa Sekuritas Kafi Ananta dan Erindra Krisnawan menyebutkan bahwa penyesuaian target kinerja keuangan tahun 2025 mencerminkan pemulihan daya beli konsumen yang masih lemah serta minimnya kontributor dari segmen non-konsumer, seperti B2B dan enterprise, dalam semester I-2025.
Namun, terang BRI Danareksa Sekuritas, Telkom (TLKM) optimistis terhadap pemulihan kinerja segmen mobile di paruh kedua 2025, seiring strategi simplifikasi produk, penyesuaian harga kartu perdana (starterpack), serta rasionalisasi kuota bonus.
Sentimen positif terhadap Telkom juga datang dari efisiensi sebagai prioritas utama dengan menjaga profitabilitas melalui pengendalian biaya operasional dan belanja modal, pendekatan alokasi capex berbasis return, serta renegosiasi kontrak-kontrak utama.
Baca Juga
Telkom (TLKM) Luncurkan 4 Pilar Transformasi, Saatnya Berburu Sahamnya?
Telkom juga terus melanjutkan strategi monetisasi infrastruktur melalui spin-off aset fiber ke anak usaha Infranexia. Perseroan menargetkan nilai sekitar Rp 150 triliun dari inisiatif ini, dengan lebih dari 50% aset fiber akan ditransfer ke Infranexia hingga akhir 2025 dan sisanya pada semester II-2026.
“Inisiatif ini diharapkan dapat mengoptimalkan kapasitas idle dan membuka peluang kemitraan strategis di sektor infrastruktur digital, sehingga saham TLKM direkomendasikan beli dengan target harga Rp 3.500 per saham. Emiten ini dipandang masih memiliki potensi jangka menengah dari efisiensi operasional dan monetisasi aset yang sedang berjalan,” tulisnya.

