Ekonomi RI Tumbuh Tajam, Tapi IHSG justru Lesu! Kenapa Bisa Begitu?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Sentimen positif data pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2025 sebesar 5,12% secara tahunan tak mampu angkat indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), meski data tersebut menunjukkan peningkatan dari kuartal I dan berada di atas ekspektasi eknom.
IHSG, Rabu (6/8/2025), ditutup melemah sebanyak 11,43 poin (0,15%) menjadi 7.504. Penurunan dipicu atas pelemahan saham sektor keuangan, konsumer non primer, konsumer primer, infrastruktur, dan teknologi. Meski demikian, pemodal asing mencatatkan pembelian bersih (net buy) dalam dua hari terakhir.
Baca Juga
Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II-2025 Tembus 5,12%, Ekonom Bilang Begini
Analis Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana mengatakan, data pertumbuhan ekonomi 5,12% berhasil mencuri perhatian banyak pihak, baik di dalam maupun luar negeri. Para analis menilai realisasi ini tak hanya lebih tinggi dari kuartal sebelumnya sebesar 4,87%, tetapi juga melampaui ekspektasi mayoritas ekonom.
Angka ini menjadi kejutan positif, terutama di tengah kekhawatiran akan perlambatan ekonomi global dan konsumsi domestik yang belum sepenuhnya pulih. Bahkan, media asing, seperti Vietnam News Agency, Business Today Malaysia, hingga Reuters, menyoroti capaian ini sebagai sinyal ketahanan ekonomi Indonesia, terutama kuatnya kontribusi konsumsi rumah tangga, investasi, dan ekspor barang dan jasa.
“Namun demikian, pasar saham Indonesia tidak langsung merespons secara euforia. Dua hari sebelum rilis data, IHSG memang bergerak di zona hijau, tetapi pada hari rilis data kemarin justru ditutup naik relat tipis dan hari ini ditutup melemah 0,15% ke level 7.503,75,” ujar Hendra saat dihubungi investortrust.id Rabu, (6/8/2025).
Baca Juga
Data Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II-2025 Disebut Janggal, Menko Airlangga: Mana Ada!
Minimnya dampak pertumbuhan ekonomi terhadap IHSG, menurut dia, dipengaruhi fokus perhatian pelaku pasar tengah tertuju ke dinamika lain, seperti pengumuman rebalancing indeks MSCI, perkembangan arus dana asing, serta kondisi eksternal dari sentimen suku bunga global dan geopolitik. Seperti diketahui, pasar tengah menantikan kabar apakah tiga saham emiten Prajogo bakal masuk MSCI kali ini.
Kualitas Pertumbuhan
Pelaku pasar juga menyimpan keraguan terhadap kualitas pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II-2025. “Meski PDB naik, data mikro, seperti penjualan ritel yang stagnan, lemahnya PMI manufaktur, serta perubahan pola konsumsi masyarakat menjadi sinyal bahwa belum semua sektor ekonomi merasakan pemulihan yang merata,” bebernya.
Kendati demikian, Hendra menekankan, secara keseluruhan data pertumbuhan ini tetap menjadi sinyal positif bagi pasar. Keberhasilan menembus angka psikologis 5% menunjukkan bahwa Indonesia memiliki ketahanan ekonomi yang baik dan dapat menjadi landasan bagi investor untuk mengambil keputusan yang lebih optimistis dalam jangka menengah.
Baca Juga
Investor Asing Lanjutkan Net Buy Rp 432,90 Miliar, ANTM hingga FILM Diborong
Sentimen ini, menurut Hendra, kemungkinan bertahan hingga rilis data ekonomi lanjutan, seperti neraca perdagangan, inflasi, dan keputusan suku bunga BI. Jika data lanjutan mendukung dan konsumsi masyarakat mulai menunjukkan perbaikan, maka momentum positif terhadap pasar keuangan Indonesia bisa berlanjut lebih lama.
“Namun jika tidak, pelaku pasar akan kembali bersikap selektif dan berhati-hati, sembari mencermati arah kebijakan fiskal dan makroekonomi pemerintah ke depan,” terangnya.

