Data Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II-2025 Disebut Janggal, Menko Airlangga: Mana Ada!
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto membantah terjadi manipulasi data pertumbuhan ekonomi oleh Badan Pusat Statistik (BPS).
“Mana ada?” kata Airlangga menjawab pertanyaan media di kantornya, Jakarta, Selasa (5/8/2025).
Dugaan kejanggalan yang dilakukan BPS tersebut disampaikan Direktur Ekonomi Digital Center of Economics and Law Studies (Celios) Nailul Huda. Salah satu kejanggalan tersebut yaitu pertumbuhan ekonomi kuartal II-2025 lebih tinggi daripada kuartal I-2025. Padahal pada kuartal I-2025 terdapat libur Lebaran yang dianggap sebagai periode yang kerap diwarnai pertumbuhan lebih tinggi.
“Kuartal I-2025 saja hanya tumbuh 4,87% (secara tahunan), jadi cukup janggal ketika pertumbuhan kuartal II mencapai 5,12% (secara tahunan)” kata dia.
Faktor lain yang janggal yaitu pertumbuhan industri pengolahan yang mencapai 5,68% pada kuartal II-2025 tidak sejalan dengan PMI Manufaktur Indonesia yang di bawah 50 poin pada April hingga Juni 2025. Ini menunjukkan perusahaan tidak melakukan ekspansi secara signifikan.
“Selain itu, kondisi industri manufaktur juga tengah memburuk dengan salah satu leading indikatornya adalah jumlah PHK yang meningkat 32% secara tahunan selama periode Januari-Juni 2025,” kata dia.
Sementara itu, ekonom Bank BCA David Sumual mengatakan terdapat beberapa catatan mengenai pertumbuhan ekonomi kuartal II-2025 ini. Salah satunya mengenai revisi data komponen kuartal I-2025.
Baca Juga
Konsumsi pada kuartal I-2025 mengalami revisi ke atas 4,95% dari awalnya 4,89%. Sementara itu, pengeluaran pemerintah yang awalnya -1,38% menjadi -1,37%. Ekspor juga direvisi turun dari 6,78% menjadi 6,46% sementara itu revisi impor naik dari 3,96% ke 4,17%.
“Tapi pertumbuhan secara keseluruhannya memang nggak berubah nih,” jelas David.
David mengakui Pembentuk Modal Tetap Bruto (PMTB) akan naik pada kuartal II-2025. Tetapi, ia menduga kenaikannya tidak setajam seperti yang disampaikan oleh BPS.
“Angka BPS ini sudah hampir sama dengan tahun 2017-2018, sebelum pandemi. Iya itu 7% kan pertumbuhannya,” jelas dia.
Selain itu, David juga masih belum mendapat gambaran jelas mengenai penerimaan PPN yang tak tinggi pada kuartal I dan II 2025. “Jadi memang proyeksi kebanyakan ekonom, nggak ada yang menduga bisa di atas 5%,” ujar dia.
Menurut David, perlu dilakukan pelacakan ulang terhadap metodologi penghitungan yang digunakan BPS. Sebab, terdapat peningkatan yang mengejutkan dari beberapa komponen pembentukan pertumbuhan ekonomi.
“Dari sisi investasi sih terutama yang agak (membuat) bingung, angka investasinya kok tinggi sekali, 7%” kata dia

