Saham BWPT Mendadak Melesat ke Level Tertinggi Sejak 2022, Ternyata Laba Semester I Tembus Segini
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) sukses mencetak lompatan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebanyak 46,99% menjadi Rp 260,21 miliar pada semester I-2025, dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 177,02 miliar. Lompatan laba ini langsung berdampak positif terhadap kinerja saham BWPT dalam sepekan terakhir.
Berdasarkan data perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), saham BWPT melesat sebanyak 26,56% menjadi Rp 81 dalam sepekan terakhir dengan kenaikan tertinggi dicatatkan pada perdagangan saham Jumat (18/7/2025) mencapai 20,90%. Harga penutupan tersebut tercatat sebagai level tertinggi saham BWPT sejak April 2022.
Baca Juga
Mitratel (MTEL) Rancang Buy Back Saham Rp 1 Triliun, Tujuan Ini Diungkap
Pertumbuhan laba tersebut sejalan dengan peningkatan pendapatan usaha BWPT dari Rp 4,20 triliun menjadi Rp 4,30 triliun bersamaan dengan penurunan beban pokok penjualan dari Rp 3,14 triliun menjadi Rp 3,04 triliun. Alhasil laba kotor meningkat dari Rp 1,05 triliun menjadi Rp 1,25 triliun.
Kenaikan laba BWPT tersebut juga didukung penurunan beban usaha dari Rp 353,68 miliar menjadi Rp 327,91 miliar terdorong penurunan beban penjualan. Peningkatan laba juga didukung atas penurunan beban bunga dan keuangan dari Rp 564,13 miliar menjadi Rp 479,19 miliar.
Baca Juga
IHSG Cetak Rekor Kenaikan Beruntun hingga Sentuh Level Tertinggi Tahun Ini
BWPT merupakan perusahaan perkebunan kelapa sawit yang dikendalikan PT Rajawali Capital, perusahaan yang dikuasai Peter Sondakh, dengan kepemilikan 37,7% saham. Saham perseroan juga dikuasai FIC Properties Sdn Bhd mencapai 37% dan sisanya masyarakat sebanyak 23,98%.
Kenaikan tersebut berimbas terhadap peningkatna laba tahun berjalan per saham BWPT dari Rp 5,68 menjadi Rp 8,36 per saham. Begitu juga dengan kas dan bank akhir tahun BWPT meningkat menjadi Rp 58,08 miliar pada semester I-2025, dibandingkan periode sama tahun sebelumnya Rp 27,37 miliar.

