MDKA Dipertahankan Rekomendasi Buy, Ini Penopangnya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) membukukan pendapatan sebesar US$ 502 juta pada kuartal I-2025, turun 7% secara tahunan (yoy) dan 12% secara kuartalan (qoq). Penurunan ini dipicu segmen nikel dan tembaga, sebaliknya segmen emas menunjukkan performa solid hingga menjadi bantalan terhadap kinerja keuangan perseroan.
Analis Sucor Sekuritas Andreas Yordan Tarigan mengatakan, penurunan kinerja perseroan pada kuartal I-2025 hingga mengalami rugi bersih sebesar US$ 3,7 juta hanya bersifat sementara. Pembalikan diproyeksikan akan terjadi pada kuartal-kuartal berikutnya, seiring dengan pulihnya volume produksi nikel serta harga emas global yang tetap tinggi.
Baca Juga
Agresif Tambah Kepemilikan di AADI dan MDKA, Saham Saratoga (SRTG) Menarik!
Unit usaha Tujuh Bukit Gold menunjukkan kinerja solid dengan laba sebelum pajak sebesar US$ 39 juta, ditopang oleh volume penjualan sebesar 36,8 ribu ons (+27% qoq, +38% yoy) dan harga jual rata-rata (ASP) sebesar US$ 2.757/oz. Di sisi lain, unit Wetar Copper membukukan rugi laba sebelum pajak sebesar US$ 6,5 juta akibat beban biaya tunai yang tinggi (US$ 6.100/ton) dan volume penjualan yang anjlok sebesar 31% qoq dan 4% yoy.
Begitu juga dengan PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) mencatat rugi bersih sebesar US$ 3 juta di kuartal I-2025, terutama akibat pelemahan margin dan penurunan rata-rata harga jual. Segmen NPI yang menjadi kontributor utama pendapatan mengalami penurunan margin sebesar 49% qoq menjadi US$ 0,8k/ton. Produksi saprolit dan limonit juga tertekan, masing-masing mencatat penurunan margin hingga 83% dan 78% qoq karena aktivitas penambangan yang melambat akibat cuaca buruk.
Baca Juga
Intip Target Harga Terbaru Saham Merdeka Copper (MDKA) dan Merdeka Battery (MBMA)
Meski mengalami penurunan kinerja keuangan, Sucor Sekuritas memperkirakan kinerja keuangan MDKA tahun 2025–2026 diperkirakan tetap cemerlang estimasi pendapatan US$ 2,2 dan US$ 3,0 miliar serta laba bersih berkisar US$ 25 dan US$ 85 juta. Ini menjadi titik balik signifikan, dibanding rugi bersih US$ 56 juta pada 2024.
Prospek tersebut mendorong Sucor Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham MDKA dengan target harga Rp 2.770. Target hargat tersebut lebih rendah dibandingkan estimasi semula Rp 3.000. Penurunan dipengaruhi asumsi harga nikel. Sedangkan sentimen penopang sahamnya datang dari penyelesaian studi kelayakan proyek Tujuh Bukit (TB) di paruh kedua 2025 serta commissioning dan ekspansi proyek HPAL Meimeng.

