Sentimen Global Membaik, Saham PGEO hingga TPIA Bisa Jadi Primadona Investor
JAKARTA, investortrust.id - Prospek penguatan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada awal pekan mendatang ditopang oleh kombinasi sentimen makroekonomi global yang membaik serta rotasi sektoral yang mulai mengarah ke saham-saham berbasis industrialisasi dan energi.
Analis Pasar Modal sekaligus Founder Stocknow.id Hendra Wardana dari sisi global, tercapainya gencatan senjata antara Israel dan Iran menurunkan tensi geopolitik Timur Tengah, yang selama ini menjadi salah satu sumber tekanan pada pasar keuangan global.
“Meredanya konflik meningkatkan risk appetite investor terhadap aset berisiko di emerging markets, termasuk Indonesia,” ujar Hendra kepada investortrust.id Kamis, (26/6/2025).
Sementara itu, spekulasi bahwa calon Presiden AS Donald Trump akan mengganti Jerome Powell sebagai Ketua The Fed kembali mendorong pelemahan dolar AS. Dolar yang melemah turut memperkuat mata uang kawasan Asia, termasuk rupiah yang terapresiasi ke Rp 16.199 per dolar AS. Kombinasi faktor ini membuka ruang bagi arus dana asing untuk kembali masuk ke pasar domestik, menopang likuiditas dan sentimen pasar saham nasional.
Dari sisi data, ia mengutarakan pasar tengah menanti rilis PCE Price Index Amerika Serikat pada 28 Juni 2025 indikator inflasi utama acuan The Fed. Bila data inflasi kembali moderat atau melandai, ekspektasi penurunan suku bunga The Fed pada akhir tahun bisa menguat, mendorong reli lanjutan di aset berisiko secara global.
“Kondisi ini akan semakin memperkuat argumen bahwa emerging market seperti Indonesia akan menjadi tujuan utama aliran modal global dalam beberapa bulan mendatang,” tuturnya.
Baca Juga
IHSG Ditutup Melesat 0,96%, Kenaikan Terdorong Sejumlah Saham Ini
Dari sisi teknikal, IHSG menguat 0,96% ke level 6.897 dengan market breadth positif dan nilai transaksi mencapai Rp 14,85 triliun, mencerminkan meningkatnya partisipasi pelaku pasar. Market breadth menunjukkan apakah kenaikan atau penurunan indeks pasar (seperti IHSG, S&P 500) didukung oleh sebagian besar saham atau hanya oleh beberapa saham besar saja.
“Level 6.840 saat ini menjadi support kuat, seiring dengan rendahnya volatilitas dalam beberapa sesi terakhir, sedangkan 6.956 menjadi resistance kunci yang jika berhasil ditembus akan membuka jalan bagi penguatan menuju 7.000,” terang dia.
Secara sektoral, menurut Hendra sektor basic industry dan consumer cyclicals menunjukkan kebangkitan aktivitas beli, seiring dengan rotasi dana dari sektor defensif menuju saham-saham berbasis siklus ekonomi dan komoditas.
Saham-saham seperti ANTM, ENRG, BRPT menjadi penopang utama penguatan, menunjukkan sinyal awal bahwa investor mulai kembali melirik saham-saham yang berhubungan erat dengan tema hilirisasi, energi transisi, dan industrialisasi.
Hendra juga menyoroti tiga emiten strategis yang menjadi perhatian pasar adalah PGEO, MBMA, dan TPIA, yang seluruhnya mendapatkan katalis kuat dari kerja sama dengan entitas investasi strategis nasional seperti INA dan Danantara.
Pertama yakni PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) yang resmi menandatangani MoU pengembangan panas bumi hingga 3.000 MW bersama Danantara, mempertegas perannya sebagai tulang punggung transisi energi nasional.
“Proyek ini berpotensi memperbesar kapasitas pembangkit EBT nasional secara signifikan dan menjadikan PGEO sebagai pemain utama di sektor energi terbarukan. Saham PGEO ditargetkan menuju Rp 1.600 seiring ekspektasi peningkatan valuasi jangka menengah,” jelasnya.
Sementara itu, menurut Hendra yakni saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) yang juga mengamankan dukungan strategis melalui kerja sama proyek HPAL dengan Huayou dan CATL, memperkuat rantai pasok industri kendaraan listrik Indonesia dari hulu ke hilir.
“Dengan posisi strategis sebagai bagian dari ekosistem nikel nasional dan hilirisasi mineral, saham MBMA dibidik ke level Rp 480,” ucap dia.
Di sisi lain, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) memantapkan posisinya di sektor petrokimia nasional dengan menggandeng INA dan Danantara dalam proyek Chlor-Alkali dan EDC senilai US$ 800 juta. Proyek ini bertujuan meningkatkan kapasitas bahan baku industri kimia dan energi, termasuk aplikasi strategis seperti baterai EV dan solar panel.
“Saham TPIA ditargetkan menuju Rp 10.500, sejalan dengan proyeksi peningkatan kapasitas produksi dan efisiensi integrasi rantai nilai,” ungkap Hendra.
Keterlibatan INA dan Danantara dalam ketiga proyek tersebut bukan hanya menjadi katalis jangka pendek, melainkan sinyal kuat bahwa pemerintah dan sovereign wealth fund Indonesia aktif mendukung roadmap industrialisasi nasional. Kombinasi prospek pertumbuhan fundamental, sentimen positif global, dan positioning strategis dalam agenda hilirisasi membuat saham-saham seperti PGEO, MBMA, dan TPIA berpotensi menjadi pemimpin dalam fase akumulasi pasar berikutnya.

