Panas Bumi RI Baru 4,9% Tereksplorasi, Saham PGEO dan BREN Jadi Primadona
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Potensi energi panas bumi Indonesia yang baru dimanfaatkan sebesar 4,9% dari total 29.544 MW. Data tersebut menggambarkan masih besarnya peluang bagi emiten energi terbarukan untuk menaikkan kapasitas produksi ke depan.
Analis Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai saham-saham dengan portofolio panas bumi seperti PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), hingga PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), memiliki prospek solid di tengah tren transisi energi.
Baca Juga
Pertamina Geothermal (PGEO) Teken Kerja Sama Senilai US$ 5,4 miliar dengan PLN
“Potensi panas bumi Indonesia yang baru dimanfaatkan 4,9% dari total 29.544 MW membuka ruang besar bagi emiten dengan portofolio energi panas bumi seperti PGEO, BREN, hingga DSSA. Dari sisi keuangan, prospek mereka ke depan terlihat cukup solid,” ujar Hendra kepada investortrust.id, Kamis (2/10/2025).
Saat ini, PGEO tengah menggarap 19 proyek panas bumi berkapasitas 530 MW dengan investasi Rp 87 triliun. Proyek tersebut akan meningkatkan pendapatan dan EBITDA secara bertahap menuju target kapasitas 1,7 GW pada 2034.
Sementara itu, BREN melalui Star Energy Geothermal sudah mengoperasikan hampir 1 GW kapasitas panas bumi, menjadikannya salah satu pemain terbesar dunia. Dengan skala usaha besar dan ekspansi berkelanjutan, BREN dinilai berpeluang mencatat pertumbuhan pendapatan lebih agresif.
Baca Juga
Green Era Divestasi Puluhan Juta Saham BREN Bernilai Rp 221,5 Miliar, Bidik Masuk Indeks Global?
Adapun DSSA, meski bisnis utama masih ditopang batu bara, ekspansi ke energi baru terbarukan termasuk panas bumi menjadi diversifikasi jangka panjang yang dapat memperkuat valuasi.
Dari sisi investor, prospek jangka panjang ini kian menarik seiring komitmen pemerintah mendorong transisi energi. “Pemerintah menegaskan komitmen melalui target EBT dan dukungan anggaran ratusan triliun, sementara PLN sebagai offtaker siap menyerap produksi listrik panas bumi. Hal ini memberi kepastian pasar dan mengurangi risiko serapan energi,” jelas Hendra.
Dengan tren global menuju ekonomi rendah karbon, saham panas bumi berpotensi menjadi pilihan strategis bagi investor jangka panjang.
Rekomdasi Saham
Secara teknikal, PGEO mulai menarik saat menembus Rp 1.375 dengan target Rp 1.620, BREN masih solid di atas MA20 dengan target Rp 10.000, sedangkan DSSA memiliki pola swing dengan target Rp 120.000.
Baca Juga
Genjot Transformasi Bisnis, Saham DSSA Layak Dihargai Segini
Namun, peluang tersebut tetap disertai tantangan. Biaya investasi panas bumi tergolong tinggi karena membutuhkan eksplorasi, pengeboran, hingga pembangunan infrastruktur, yang berpotensi menekan arus kas sebelum proyek menghasilkan listrik.
“Selain itu, regulasi dan perizinan yang kompleks bisa memperlambat realisasi proyek. Risiko teknis eksplorasi sumur juga cukup tinggi sehingga kapasitas optimal bisa tidak tercapai. Ditambah lagi, volatilitas rupiah terhadap dolar AS dapat memengaruhi pembiayaan karena mayoritas belanja modal menggunakan mata uang asing,” pungkas Hendra.
Grafik Saham BREN, PGEO, DSSA

