Tuntaskan RUPST, Bank Ganesha (BGTG) Putuskan Dirut Baru dan Penggunaan Laba Tahun 2024
JAKARTA, investortrust.id – Rapat umum pemegang saham tahunan PT Bank Ganesha Tbk (BGTG) tahun buku 2024 sepakat untuk menyimpan keuntungan tahun lalu sebagai laba ditahan dan cadangan umum.
Perseroan sebelumnya membukukan laba bersih tahun 2024 mencapai Rp 201,71 miliar. RUPST yang digelar di Jakarta, Jumat (20/6/2025), tersebut juga menyetujui laporan keuangan perseroan tahun 2024.
Baca Juga
Laba Bank Ganesha (BGTG) Naik Nyaris 2 Kali Lipat Dibarengi BOPO Super-Efisien, Rahasia Suksesnya?
RUPST tersebut juga mengangakat Setiawan Kumala menjadi direktur utama BGTG menggantikan Lenny Sugihat. Setiawan sebelumnya menjabat sebagai wakil presiden direktur. Setiawan akan resmi menjabat sebagai dirut setelah mendapatkan persetujuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Sedangkan jajaran direksi lainnya tak mengalami perubahan, yaitu Arif Wicaksono, Suroso, dan Ibrahim. Posisi komisaris perseroan tak mengalami perubahan, yaitu Presiden Komisaris Marcello Thedore Taufik, Lisawati, Sudarto, dan Trisna Chandra.
Sebelumnya, Bank Ganesha (BGTG) mencatatkan kinerja keuangan impresif sepanjang 2024, dengan pertumbuhan laba bersih hampir dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya. BGTG mencatat laba bersih sebesar Rp 201,7 miliar, meningkat 94% dari 2023 sebesar Rp 103,9 miliar.
Baca Juga
Dibuka Anjlok, IHSG kini Bergerak di Bawah 6.900, Pelemahan bakal Berlanjut?
Dilansir dari laporan keuangan 2024 PT Bank Ganesha Tbk (BGTG) dikutip Investortrust.id, Senin (9/6/2025), kenaikan laba bersih ditopang pendapatan bunga bersih yang tumbuh menjadi Rp 464,3 miliar pada 2024, naik 5,3% dari Rp 441,1 miliar.
Selain itu, peningkatan signifikan pada laba operasional menjadi Rp 250,1 miliar pada 2024 dari sebelumnya Rp 130,8 miliar. Lonjakan kinerja ini menunjukkan perbaikan struktur pendapatan dan efisiensi operasional yang berhasil dijaga. Raihan ini juga merupakan pencapaian laba sebelum pajak tertinggi perseroan hingga saat ini.
Rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) sepanjang 2024 turun drastis dari 79,3% menjadi 67,2%, mencerminkan efisiensi yang sangat baik dalam pengelolaan beban operasional.

