Net Buy Saham GOTO Capai Rp 171,87 Miliar dalam Sebulan, Vanguard & JP Morgan Agresif Borong
JAKARTA, investortrust.id – Sejumlah fund manager global diketahui mulai rajin memborong saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). Aksi tersebut dilakukan saat harga saham ini mengalami penurunan dalam beberapa hari terakhir.
Aksi borong tersebut ditunjukkan pembelian bersih (net buy) saham GOTO mencapai Rp 171,87 miliar dalam sebulan terakhir. GOTO berhasil masuk dalam daftar top 10 saham yang diburu investor asing dalam sebulan terakhi. Bandingkan dengan posisi investor asing di BEI dalam sebulan terakhir mencatatkan penjualan bersih (net sell) saham hingga Rp 6,43 triliun.
Baca Juga
Dibuka Anjlok, IHSG kini Bergerak di Bawah 6.900, Pelemahan bakal Berlanjut?
Fund manager asing terpantau terus memborong, meskipun harga saham GOTO menyentuh harga Rp59 pada Jumat (20/6/2025) atau level terendah sejak 11 September 2024. Berdasarkan data Bloomberg, Vanguard Group menjadi fund manager yang terbesar memborong saham GOTO sepanjang 2025. Berdasarkan data year to date (ytd), fund manager asal Amerika Serikat ini telah menambah 3,8 miliar saham GOTO, sehingga totalnya menjadi 42,88 miliar saham.
Aksi borong juga dilakukan fund manager CSOP Asset Management Ltd, sebuah entitas yang berbasis di Hong Kong. CSOP membeli 3,56 miliar saham GOTO dalam kurun waktu kurang dalam 6 bulan. Uniknya, CSOP baru menjadi investor di GOTO karena pada 2024 tidak tercatat sebagai pemegang saham.
Pada urutan ketiga ada JPMorgan Chase & Co yang memborong 2,46 miliar saham GOTO sepanjang 2025 sehingga total kepemilikan menjadi 2,49 miliar. Berikutnya adalah State Street Corp yang memborong 781,11 juta lembar saham GOTO selama 2025 sehingga total kepemilikan menjadi 3,98 miliar. Adapun di tempat kelima adalah Blackrock Inc yang memborong 606,18 juta saham GOTO. Saat ini Blackrock menguasai 25,19 miliar saham GOTO.
Analis Phintraco Sekuritas, Aditya Prayoga menilai aksi akumulasi saham GOTO oleh fund manager besar, seperti Vanguard, CSOP, dan Blackrock, mencerminkan ekspektasi mereka terhadap potensi pertumbuhan ekosistem digital GOTO dalam beberapa tahun ke depan. "Fund manager ini melihat valuasi saham GOTO sudah cukup murah secara historis. Ini menjadi momentum akumulasi bagi investor institusional dengan horizon investasi jangka panjang," ujar Aditya
Baca Juga
Lima Emiten Cum Dividen Hari Ini, Yield Tertinggi Capai 12,6%
Meskipun saat ini GOTO belum mencetak laba bersih, dia mengatakan, investor global tetap mempertimbangkan kekuatan jaringan pengguna dan layanan ekosistem digital yang luas, termasuk Gojek, Tokopedia, dan GoTo Financial. “Selama GOTO masih memiliki akses pembiayaan, strategi efisiensi, dan potensi sinergi dalam ekosistemnya, saham ini tetap atraktif bagi investor institusi,” tambahnya.
Dia mengungkapkan bahwa pergerakan lima besar fund manager global tersebut juga bisa memberikan sentimen positif di pasar domestik. "Aksi beli mereka bisa menjadi sinyal bagi investor ritel lokal untuk kembali mencermati prospek saham GOTO. Apalagi sebagian besar dari mereka memiliki rekam jejak sebagai pemburu saham teknologi global dengan seleksi yang ketat," jelasnya.
Sentimen Global
Sementara itu, analis Panin Sekuritas, Sarkia Adelia menilai, pelemahan saham GOTO yang terjadi dalam beberapa hari terakhir tidak terkait dengan isu fundamental yang terus menunjukan perbaikan. Namun pelemahan ini juga dipengaruhi sentimen global eskalasi perang Israel-Iran.
"Dalam 2-3 tahun terakhir, GOTO terus mengalami perbaikan dari sisi keuangan. Meski masih mencatatkan rugi bersih, tapi mereka telah mencapai level profitabilitas dengan EBITDA yang disesuaikan positif serta arus kas dari aktivitas operasional yang sudah positif di kuartal I-2025. Tentunya hal ini menjadi proxy terdekat untuk mencapai laba bersih yang sesungguhnya," ujar dia.
GOTO mencatatkan pendapatan bersih sebesar Rp4,23 triliun pada kuartal I-2025, meningkat 4% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu Rp4,08 triliun. Sementara itu, total beban dan biaya berkurang hingga 11,9% menjadi Rp4,42 triliun dari sebelumnya yang mencapai Rp5,02 triliun. Beberapa beban yang berhasil dipangkas di antaranya beban penjualan dan pemasaran, beban umum dan administrasi, dan beban operasional dan pendukung.
Baca Juga
Telkom (TLKM) Ungkap Puas Berinvestasi di GOTO Meski Harga Saham Turun, Ini Alasannya
Beban penjualan dan pemasaran turun 10,5% menjadi Rp 647 miliar dari sebelumnya Rp723 miliar, sedangkan beban umum dan administrasi dipangkas 26,7% menjadi Rp1,09 triliun dari sebelumnya Rp1,49 triliun. Di sisi lain, beban operasional dan biaya pendukung juga turun 9,5% menjadi Rp225,14 miliar dari sebelumnya 248,74 miliar.
Dengan peningkatan pendapatan dan penurunan beban, GOTO mencatatkan rugi bersih yang diatribusikan ke entitas induk juga menurun hingga 67% menjadi Rp283,33 miliar dari periode yang sama tahun sebelumnya rugi Rp861,91 miliar.
Di sisi lain, GOTO juga berhasil mencatatkan arus kas dari aktivitas operasional yang positif sebesar Rp301 miliar di kuartal I-2025 yang juga sejalan dengan capaian positif EBITDA Grup yang disesuaikan.

