Saham Surya Semesta (SSIA) bisa Melesat ke Level Ini Didukung Sentimen BYD dan Jalan Tol
JAKARTA, investortrust.id – Masuknya BYD dengan membangun pabrik di atas lahan seluas 108 hektare (Ha) di kawasan industry Subang Smartpolitan menjadi daya tarik terhadap prospek saham PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA). Masuknya pabrikan otomotif kendaraan Listrik (EV) terbesar asal China tersebut akan menarik investasi otomotif lainnya ke kawasan Subang.
Analis Samuel Sekuritas Ahnaf Yassar dan Prasetya Gunadi mengatakan, kehadiran BYD di Subang berpotensi menjadi katalis yang menarik perusahaan rantai pasok kendaraan listrik (EV), produsen baterai, produsen komponen otomotif, dan pembuat mobil global lainnya untuk membangun operasional di kawasan industri milik SSIA.
Baca Juga
Saham Emiten Properti Menjanjikan, Pilihan Teratas CTRA dan SSIA
“Sebagai perbandingan saat Wuling mengakuisisi lahan seluas 60 hektare di kawasan industry DMAS tahun 2015, sejumlah pabrikan otomotif lainnya langsung datang. Di antarnayan Hyundai membeli sekitar 90 ha antara 2019–2023. Kami memperkirakan tren serupa akan terjadi di SSIA,” terangnya dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, pekan lalu.
Selain itu, Samuel Sekuritas menyebutkan, SSIA diprediksi menjual lahan industry seluas 137 hektare pada 2025 dan 145 hektare pada 2026. Begitu juga dengan harga jual cenderung naik, seiring dengan kenaikan harga lahan industry di kaasan lainnya, seperti Bekasi dan Karawang. Harga lahan Subang pada 2025 diperkirakan akan naik 15-20%, sedangkan harga rata-rata lahan kuartal I-2025 telah mencapai US$ 120 per meter persegi.
Katalis utama penjualan lahan industry juga datang dari proyek jalan tol 40 km yang menghubungkan Subang ke Pelabuhan Patimban dengan target beroperasi pada 2026. Hal ini diharapkan menjadi daya tarik terhadap permintaan lahan industry dari kawasan tersebut.
Baca Juga
Cadangan Nikel 5,3 Miliar Ton, Indonesia Bisa Jadi Pemain Utama Ekosistem EV
Terkait bisnis hotel, dia mengatakan, Samuel Sekuritas memperkirakan, terjadi penurunan kontribusi akibat renovasi hotel Melia Bali dengan target rampung pada 2025. Berdasarkan perkiraan bisnis hotel akan tetap menjadi penyumbang terbesar kedua terhadap laba kotor dengan perkiraan mencapai 21,6% tahun 2025, dibandingkan kawasan industry sebanyak 48,8%. Akibat renovasi ini , Melia Bali diperkirakan hanya menyumbang sekitar 4,4% dari pendapatan SSIA tahun 2025, namun diperkirakan melonjak menjadi 72,0% pada 2026.
Sejumlah faktor tersebut mendorong Samuel Sekuritas untuk merekomendasikan beli saham SSIA dengan target harga Rp 2.000. Target tersebut mencerminkan diskon 60% terhadap nilai aset bersih (RNAV).Pandangan positif terhadap SSIA juga didukung pengembangan Pelabuhan Patimban yang akan meningkatkan konektivitas, menarik minat investor ke Subang, dan mendukung harga lahan di wilayah tersebut.

