Cadangan Nikel 5,3 Miliar Ton, Indonesia Bisa Jadi Pemain Utama Ekosistem EV
JAKARTA, Investortrust.id - Indonesia dipandang sebagai salah satu motor penggerak pasar kendaraan listrik (electrical vehicle/EV) dunia dan diyakini akan memegang peranan kunci dalam pengembangan ekosistem industri global berkat kepemilikan cadangan nikel terbesar kedua di dunia, komponen vital dalam produksi baterai EV.
Adapun total sumber daya bijih nikel Indonesia 18,55 miliar ton dan cadangan 5,33 miliar ton.
Chief Executive Officer (CEO) Formula E Jeff Dodds mengungkapkan bahwa dunia saat ini tengah mengalami perubahan besar dalam adopsi kendaraan listrik. Dalam 1 dekade terakhir, penjualan EV meningkat drastis dari 300.000 unit pada 2014, kini mencapai 15 hingga 20 juta unit per tahun secara global.
Baca Juga
MIND ID Rombak Susunan Direksi & Komisaris Antam (ANTM), Pius Lustrilanang Jadi Komisaris
Tren serupa terjadi di Indonesia. penjualan EV meningkat signifikan diikuti berbagai penguatan kebijakan pemerintah, pengembangan infrastruktur, serta tumbuhnya kesadaran publik terhadap pentingnya transisi menuju energi bersih.
Menurut Dodds, dengan cadangan dan produksi nikel yang sangat besar, Indonesia memiliki posisi strategis. Tidak hanya sebagai pasar potensial, tetapi menjadi pemain utama dalam rantai pasok industri kendaraan listrik global.
“Indonesia menempati posisi penting dalam peta global EV. Bukan hanya sebagai konsumen, tetapi sebagai katalis rantai pasok industri kendaraan listrik,” kata Dodds dalam konferensi "Racing Towards Energy Security and Climate Action in a Changing World Order" di Jakarta, dalam keterangan Minggu (22/6/2025).
Adapun, merujuk data The USGS (United States Geological Survey) dan Badan Geologi Kementerian ESDM, nikel Indonesia tercatat sebagai terbesar kedua di dunia, dengan total sumber daya bijih 18,55 miliar ton dan cadangan 5,33 miliar ton.
Sebagai bentuk penguatan peran strategis ini, Pemerintah Indonesia menerapkan kebijakan pelarangan ekspor bahan mentah nikel dan menjalankan program hilirisasi. Langkah ini mendorong penciptaan nilai manfaat yang signifikan dari ore nikel menjadi produk bahan baku minerba, yakni feronikel dan nickel pig iron (NPI), yang menjadi fondasi penting dalam produksi baterai EV.
Sejumlah perusahaan tambang nasional seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam dan PT Vale Indonesia Tbk—anggota Grup MIND ID—berperan dalam agenda hilirisasi tersebut.
Sebagai holding industri pertambangan nasional, MIND ID memiliki peran sentral dalam mendukung hilirisasi industri mineral mulai dari baukit, tembaga, nikel, emas, timah hingga batu bara guna memperkuat industri strategis ekosistem baterai EV di Indonesia.
Baca Juga
Wakil Ketua Umum Kadin Carmelita Hartoto Ditunjuk Jadi Komisaris MIND ID
Dengan mengintegrasikan hulu hingga hilir, seluruh anggota grup, termasuk Aneka Tambang dan Vale Indonesia, didorong memperkuat kapasitas dan diversifikasi produk hilir untuk mendukung pembentukan industri baterai EV di Indonesia.
Lebih lanjut, Dodds menyoroti tingginya tingkat kesadaran masyarakat Indonesia, terutama generasi muda terhadap pentingnya penggunaan kendaraan listrik.
Dia optimistis tren ini akan terus menguat dan sejalan ambisi Pemerintah Indonesia yang menargetkan pengurangan emisi nasional sebesar 30% pada 2030. “Kita telah berada di tengah revolusi energi yang nyata. EV bukan lagi teknologi masa depan, EV adalah realitas hari ini. Tren ini bukan hanya soal inovasi teknologi, tetapi momentum global yang menyatukan industri, pemerintah, dan masyarakat untuk menciptakan sistem transportasi yang lebih hijau, cepat, dan berkelanjutan,” pungkas Dodds.

