Situasi Global Semakin Kacau, BI Siapkan Jurus Jaga Rupiah
JAKARTA, investortrust.id - Bank Indonesia (BI) merespons situasi global yang disebut semakin kacau imbas memanasnya konflik antara Republik Islam Iran dan rezim zionis Israel di wilayah Timur Tengah. Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan, pihaknya bakal menyiapkan sejumlah langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Menurut Destry, BI akan mengoptimalkan operasi pasar yang pro market untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
"Kenapa? Karena memang kita masih melihat ada beberapa risiko yang patut kita waspadai. Tadi antara lain adalah mengenai tarif Trump dan kita juga melihat perkembangan dari geopolitik di Middle East," kata Destry dalam konferensi pers rapat dewan gubernur (RDG) BI, Rabu (19/6/2025) secara daring.
Adapun sejumlah langkah yang disiapkan oleh BI adalah dengan melakukan intervensi kepada pasar spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Selain itu ia menyebut BI juga bakal terus melakukan intervensi dengan membeli Surat Berharga Negara (SBN) melalui pasar sekunder.
"Dalam rangka juga selain menjaga stabilitas rupiah tentunya kita juga ingin menambah likuiditas di pasar, yaitu melalui pembelian SBN kita yang sudah mencapai Rp 124 triliun," jelasnya.
Baca Juga
SBY Ingatkan Bahaya Perang Iran-Israel, 5 Pemimpin Dunia Jadi Penentu
Sementara itu Destry Damayanti mengungkap otoritas mencatatkan adanya inflows untuk SBN pada bulan Juni 2025 mencapai Rp 11 triliun. Di satu sisi ia mencatat terjadi aliran dana keluar atau outflow pada instrumen SBN sebesar Rp 3 triliun. Selain SBN BI juga mencatat adanya outflow sebesar Rp 5 triliun pada instrumen SRBI.
Namun secara keseluruhan, otoritas moneter mengungkap inflow pada SBN telah mencapai angka Rp 43,5 triliun.
"Jadi ini juga yang memang cukup menambah supply valas kita di pasar dan ini tercermin juga dengan transaksi harian di pasar valas kita yang terus mengalami peningkatan," jelas Destry.
Sementara itu Destry menuturkan transaksi di pasar valas meningkat pada bulan Juni. Adapun per 16 Juni 2025, BI mencatat adanya transaksi di pasar valas US$ 6,22 miliar. Jauh meningkat dibandingkan bulan April 2025 yang memiliki rerata harian sebesar US$ 5,76 miliar.
"Ini juga sebenarnya yang menyebabkan kenapa di sepanjang bulan Mei dan Juni pertengahan hingga saat ini, rupiah itu mengalami penguatan secara kuartalan dibandingkan dengan kuartal yang lalu. Kita mengalami penguatan sebesar 1,72%," tutur Destry.

