IPO Anak Usaha Summarecon, Presdir SMRA: Antusiasme Tinggi, Kita Lihat Kondisi 'Market'
JAKARTA, investortrust.id - Rencana anak usaha PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) untuk melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui skema penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) belum menemui titik terang.
Presiden Direktur PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) Adrianto Pitojo Adji mengungkapkan, pihaknya sempat menaruh antusiasme terhadap rencana tersebut. Namun, belum ada keputusan final hingga saat ini.
Baca Juga
Summarecon Serpong Raih Penjualan Komersial City Hub Rp 300 Miliar
“Jadi sebetulnya kami memang waktu itu belum memutuskan apa-apa. Hanya memang kita sangat antusias, tetapi kita melihat juga kondisi market,” kata Adrianto menjawab pertanyaan investortrust.id dalam paparan publik secara daring seusai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) di Jakarta, Kamis (12/6/2025).
Rencana IPO anak usaha SMRA yang bergerak di sektor properti investasi, yakni PT Summarecon Investment Property (SMIP), telah berhembus beberapa waktu lalu. Bahkan, sempat disebut akan melantai di bursa pada 2024. Namun, hingga kini belum terealisasi. Kini, rumor kembali mencuat bahwa SMIP akan menjadi calon emiten pada 2025.
Adrianto menegaskan bahwa perusahaan tidak ingin tergesa-gesa mengambil keputusan strategis, seperti IPO anak usaha. “Kami belum bisa menjanjikan kapan atau seperti apa kelanjutannya, karena masih mengamati kondisi market,” tambahnya.
Bagi dividen
Sementara, PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) membagikan dividen tunai tahun buku 2024 senilai Rp 148,57 miliar atau setara Rp 9 per saham. Dividen tersebut sesuai dengan keputuan RUPST yang digelar pada Kamis, (12/6/2025).
Baca Juga
Summarecon Crown Gading Sukses Jual 4 Klaster, Ini Proyek Terbaru 2025
Direktur dan Sekretaris Perusahaan , PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) Lydia Tjio mengatakan, RUPST juga menyetujui penggunaan laba bersih 2024 yang mencapai Rp 1,8 triliun. Dari jumlah tersebut, sebesar Rp 18,38 miliar dialokasikan sebagai dana cadangan.
"Sementara sisanya mencapai Rp 1,67 triliun, ditetapkan sebagai laba ditahan,” ujar Lydia dalam agenda yang sama.

