Persaingan 'Exchange' Kripto di Indonesia Kian Ketat, Tokocrypto: Tanda Industri Makin Sehat
JAKARTA, investortrust.id - Persaingan antar exchange kripto di Indonesia semakin menguat, menyusul masuknya sejumlah pemain global ke pasar dalam negeri. CEO Tokocrypto Calvin Kizana menyebut, fenomena ini sebagai sinyal positif bagi industri aset digital Tanah Air.
“Kalau kita melihat ini (persaingan exchange kripto) sebetulnya sesuatu yang positif. Artinya, Indonesia dilirik dan adopsi kripto di dalam negeri naik. Itulah yang membuat kenapa exchange kripto dari luar itu berlomba-lomba masuk,” ujarnya, dalam Podcast Konvergensi yang diadakan Investortrust, di The Convergence Indonesia, Jakarta, Rabu (11/6/2025).
Menurut Calvin, hal ini menjadi bukti bahwa Indonesia memiliki potensi besar dalam kontribusi industri kripto secara global. Meskipun kompetisi kian ketat, Tokocrypto menyambut hal tersebut sebagai perkembangan yang sehat dan penting untuk kemajuan industri.
“Untuk masa depan ini akan lebih baik lagi. Kalau menurut saya pribadi dan teman-teman di Tokocrypto, persaingan itu baik dan sehat,” katanya.
Baca Juga
Prospek Bitcoin Masih Cerah, Tokocrypto Fokus Genjot Literasi dan Edukasi Kripto
Dalam menggaet investor, lanjut Calvin, masing-masing exchange kripto tentunya memiliki caranya masing-masing, salah satunya dengan campaign yang menarik dan jor-joran. Sementara Tokocrypto sendiri memilih fokus pada edukasi kepada masyarakat sebagai strategi jangka panjang.
Menurutnya, edukasi adalah fondasi utama dalam membangun kepercayaan dan pemahaman publik terhadap teknologi blockchain, termasuk aset kripto.
“Kita lebih ke edukasi, core kita itu edukasi. Harapan kita mau sebagus apapun itu campaign-nya, tapi kalau edukasinya tidak ada itu percuma. Jadi kita akan masuk ke core-nya, tetap edukasi itu penting, kita masuk ke kampus-kampus, ke komunitas juga,” ucap Calvin.
Seperti diketahui, baru-baru ini OSL Group yang berkantor pusat di Hong Kong mengumumkan bahwa mereka telah menyetujui kesepakatan pembelian saham senilai US$ 15 juta atau setara Rp 244,2 miliar untuk 90% saham di Evergreen Crest, yang menjalankan exchange kripto Indonesia yakni KoinSayang. Hal ini dilakukan karena OSL bertujuan untuk memperluas kehadirannya di Asia Tenggara. Tak hanya KoinSayang, Nobi juga merupakan exchange yang berafiliasi dengan exchange global. Tak terkecuali dengan Tokocrypto yang berafiliasi dengan exchange kripto nomor satu dunia Binance.
Adapun menurut data bursa kripto, PT Central Finansial X (CFX), hingga awal Juni 2025 terdapat 31 pedagang aset kripto yang menjadi anggota CFX.
Baca Juga
Optimistis Indonesia Jadi Pusat Kripto Dunia
Di lain sisi, ia optimistis suatu saat nanti Indonesia bakal menjadi pusat kripto dunia, hal ini seiring dengan banyaknya impian pelaku industri. Namun, Calvin menilai Indonesia masih perlu waktu dan konsistensi, terutama dalam hal peningkatan edukasi, regulasi, dan inovasi.
“Harapannya sih dan maunya ke sana. Siapa yang tidak mau Indonesia jadi central hub untuk kripto di seluruh dunia?. Tinggal sebetulnya pemahaman masyarakat dan inovasi-inovasi yang bisa terjadi, itu yang akan mendukung agar Indonesia ini boleh dibilang menjadi central hub untuk kripto,” ujarnya.
Ia menambahkan, perpindahan kewenangan pengawasan kripto dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) adalah momentum penting untuk mengembangkan industri ini secara berkelanjutan.
“Yang pasti tidak sekarang (Indonesia jadi pusat kripto global). Kita masih tahap belajar, kita masih perlu banyak berbenah, regulasi juga baru pindah ke OJK, jadi akan banyak pembenahan di sana. Sampai semuanya matang, ini paralel edukasi semua diharapkan bisa berjalan dengan baik,” kata Calvin.
Terkait edukasi, Calvin menjelaskan bahwa hal tersebut tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab Tokocrypto semata, namun juga bagi seluruh pelaku industri. “Saya sih optimistis (bisa menjadi pusat kripto global), tapi tidak sekarang karena masih butuh waktu,” sambungnya.
Terlebih, Indonesia sendiri kini berada di peringkat ke-3 dunia untuk adopsi kripto, mengungguli Amerika Serikat (AS) yang berada di peringkat ke-4. Data tersebut melansir laporan The 2024 Geography of Report oleh Chainalysis. Berdasarkan laporan tersebut, Indonesia unggul dalam sektor DeFi dan Retail DeFi, menandakan tingginya aktivitas investor ritel dalam transaksi keuangan terdesentralisasi. Peringkat tersebut naik dari tahun sebelumnya yang hanya di posisi ke-5.
Selain itu, minat masyarakat Indonesia terhadap aset kripto terus menunjukkan tren positif. Berdasarkan laporan terbaru State of Mobile 2025 dari Sensor Tower, Indonesia menempati posisi kedua dalam daftar negara dengan pertumbuhan sesi aplikasi kripto tertinggi secara global pada 2024, yakni sebesar 54% secara tahunan. Peringkat pertama ditempati oleh Jerman, disusul Indonesia, Brasil dan Prancis. Sesi aplikasi kripto mengacu pada frekuensi pengguna membuka dan menggunakan aplikasikripto di perangkat mereka, baik untuk mengecek harga Bitcoin, bertransaksi, hingga memantauportofolio aset digital.

