Prospek Bitcoin Masih Cerah, Tokocrypto Fokus Genjot Literasi dan Edukasi Kripto
JAKARTA, investortrust.id - Salah satu perusahaan exchange kripto asal Indonesia yaitu Tokocrypto menilai prospek harga Bitcoin masih tetap cerah. Namun, tantangan ke depan bagi industri masih amat besar terutama seputar minimnya edukasi dan literasi. Bitcoin (BTC) sendiri sempat mencetak rekor harga tertinggi sepanjang masa alias all time high (ATH) nyaris US$ 112.000 atau sekitarRp 1,82 miliar di 22 Mei 2025. 22 Mei sendiri merupakan hari bersejarah bagi Bitcoin yang dirayakan dengan menggelar Bitcoin Pizza Day.
CEO Tokocrypto Calvin Kizana menyatakan pentingnya literasi dan edukasi agar masyarakat Indonesia semakin memahami aset digital seperti Bitcoin dan tidak mudah terjebak pada stigma negatif atau informasi yang menyesatkan. Peningkatan literasi keuangan masyarakat terhadap aset kripto penting untuk pelindungan konsumen dan menjadi elemen kunci untuk mencegah misinformasi, manipulasi pasar, serta praktik investasi yang tidak bertanggung jawab.
“Harapan kita pasti adopsi Bitcoin dan edukasi kripto ini terus berjalan. Jadi semakin banyak masyarakat yang paham, tentunya ini bisa menjadi semakin baik dari sisi value (nilai),” ujarnya dalam Podcast Konvergensi yang diadakan Investortrust, di The Convergence Indonesia, Jakarta, Rabu (11/6/2025).
Hingga April 2025, jumlah pengguna aset kripto di Indonesia mencapai 14,16 juta orang, naik dari 13,71 juta pada Maret. Nilai transaksi kripto pun ikut melonjak, dari Rp 32,45 triliun pada Maret menjadi Rp 35,61 triliun pada April 2025. Saat ini, terdapat 1.444 aset kripto yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Pertumbuhan pesat jumlah investor aset kripto di Indonesia ternyata belum sejalan dengan peningkatan literasi masyarakatnya. Temuan ini, yang diungkap oleh Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 dan laporan OJK, mengindikasikan adanya potensi risiko bagi investor yang mungkin belum sepenuhnya memahami seluk-beluk aset digital ini.
Adapun indeks literasi keuangan nasional sendiri tercatat sebesar 66,64%, sementara indeks inklusi keuangan mencapai 92,74%. Namun, sektor-sektor nonkonvensional seperti keuangan syariah dan kripto dinilai masih menghadapi tantangan besar dalam hal literasi.
Baca Juga
Menurut Calvin, harga Bitcoin cenderung meningkat dari waktu ke waktu. Hal ini sejalan dengan semakin naiknya permintaan di pasar, sementara suplai Bitcoin masih terbatas hanya sebanyak 21 juta. Terlebih, Indonesia sendiri kini berada di peringkat ke-3 dunia untuk adopsi kripto, mengungguli Amerika Serikat (AS) yang berada di peringkat ke-4. Data tersebut melansir laporan The 2024 Geography of Crypto Report oleh Chainalysis. Berdasarkan laporan tersebut, Indonesia unggul dalam sektor DeFi dan Retail DeFi, menandakan tingginya aktivitas investor ritel dalam transaksi keuangan terdesentralisasi. Peringkat tersebut naik dari tahun sebelumnya yang hanya di posisi ke-5.
Selain itu, minat masyarakat Indonesia terhadap aset kripto terus menunjukkan tren positif. Berdasarkan laporan terbaru State of Mobile 2025 dari Sensor Tower, Indonesia menempati posisi kedua dalam daftar negara dengan pertumbuhan sesi aplikasi kripto tertinggi secara global pada 2024, yakni sebesar 54% secara tahunan. Peringkat pertama ditempati oleh Jerman, disusul Indonesia, Brasil dan Prancis. Sesi aplikasi kripto mengacu pada frekuensi pengguna membuka dan menggunakan aplikasikripto di perangkat mereka, baik untuk mengecek harga Bitcoin, bertransaksi, hingga memantauportofolio aset digital.
Calvin melihat, tren kenaikan di dalam negeri sedikit banyak dipengaruhi oleh generasi muda, khususnya Gen Z yang lebih cepat beradaptasi dan lebih tertarik pada aset digital, dibanding instrumen investasi konvensional seperti saham ataupun emas.
Ia tetap menegaskan pentingnya edukasi agar tidak terjebak pada skema-skema penipuan berkedok kripto. Terlebih, banyak proyek yang diciptakan oleh pihak ketiga yang memanfaatkan euforia kripto dengan menciptakan money game berkedok aset digital.
“Mereka (pihak ketiga) kalau yield-nya (kripto) ambyar yang disalahkan kriptonya. Padahal yang bermaslaah itu proyeknya, bukan Bitcoinnya. Coba kalau rugi pakai dolar AS, masa USD-nya yang dibilang ponzi?,” katanya.
Calvin menambahkan edukasi menjadi pondasi penting bagi keberlangsungan industri kripto di Indonesia, terutama jika negara ini ingin memanfaatkan teknologi blockchain untuk kemajuan ekonomi digital.
"Kalau kita ingin kripto menjadi bagian dari sistem keuangan nasional yang sehat dan berkelanjutan, maka literasi harus menjadi prioritas. Kami percaya inklusi tanpa literasi hanya akan memperbesar risiko," jelas dia.
Baca Juga
Perkuat Keamanan dan Sederhanakan Verifikasi, Tokocrypto Gandeng Vida
Tokocrypto, lanjut Calvin, fokus mendorong edukasi dan literasi. Sepanjang tahun lalu, perusahaan telah menggelar lebih dari 135 kegiatan edukasi secara online dan offline di berbagai daerah, termasuk kampus-kampus.
Di sisi bersamaan, Calvin yang baru menjabat sebagai CEO Tokocrypto sejak Januari 2025 tersebut juga mengimbau agar masyarakat tak hanya ikut-ikutan dalam berinvestasi di kripto. Pasalnya, diperlukan pemahaman yang memadai sebelum terjun untuk investasi ke industri ini, jangan hanya ikut-ikut teman-teman semata.
“Bagi teman-teman yang baru mau masuk (kripto), kita di awal sudah bicara harus memahami dulu barang yang harus diinvestasi. Kripto ini sesuatu yang baru, jadi teman-teman jangan hanya FOMO (fear of missing out),” imbau Calvin.
“Yang paling utama edukasi diri sendiri, pahami cara kerjanya seperti apa. Setelah kalian benar-benar yakin, baru kalian masuk lebih besar dan selalu diversifikasi portofolio,” ungkapnya.

