Bitcoin 'Sideways' Meski Data Inflasi AS Positif dan Kesepakatan Perdagangan AS - China Berhasil
JAKARTA, investortrust.id - Bitcoin (BTC) masih bertahan di bawah level psikologis US$ 110.000 pada Kamis (12/6/2025) pagi meskipun data pasar positif. BTC tetap stabil karena inflasi mereda dan kesepakatan dagang AS-Tiongkok meningkatkan sentimen pasar. Kemenangan mungkin akan diraih pemerintahan Trump karena berhasil menegosiasikan kesepakatan dagang dengan China setelah serangkaian pertemuan berisiko tinggi di London.
Sementara itu, Biro Statistik Tenaga Kerja AS mengungkapkan angka inflasi yang lebih rendah dari perkiraan untuk bulan Mei. Pasar saham melonjak karena berita tersebut, tetapi BTC tetap masih di bawah US$ 110.000, bahkan turun di kisaran US$ 108.000-an.
Indeks harga konsumen (IHK) meningkat sebesar 0,1% pada bulan Mei, sedikit menaikkan inflasi tahunan menjadi 2,4%. Ekonom di perusahaan analisis data Factset, telah memperkirakan kenaikan 0,2% menjadi 2,5% pada hari Selasa. S&P 500, Nasdaq, dan Dow masing-masing naik 0,17%, 0,10%, dan 0,49%.
Data ekonomi yang menjanjikan itu bertentangan dengan peringatan dari para ahli yang memperingatkan tentang inflasi yang tak terkendali sebagai konsekuensi dari kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump yang belum pernah terjadi sebelumnya. Namun, sementara Trump merayakan data CPI hari ini dan memuji kemampuan negosiasinya setelah menyelesaikan kesepakatan perdagangan AS-Tiongkok yang akan mengenakan tarif 55% pada impor Tiongkok dan pajak impor 10% pada produk Amerika yang masuk ke Tiongkok, bitcoin nyaris tidak bergeming.
“Kesepakatan kita dengan Tiongkok sudah selesai, tergantung persetujuan akhir dengan Presiden Xi dan saya,” tulis Trump di Truth Social dengan huruf kapital semua.
Baca Juga
Lampaui Meta dan Tesla, Bitcoin (BTC) Raih Posisi Aset Terbesar ke-5 Dunia
“CPI baru saja keluar. Angka yang bagus! Fed harus menurunkan satu poin penuh,” sambung Presiden Trump. Bank sentral akan bertemu minggu depan untuk memutuskan kebijakan suku bunga negara itu.
Menilik data CoinMarketCap, Kamis (12/6/2025) pagi, Bitcoin diperdagangkan di level US$ 108.455, turun 1,30% dalam 24 jam terakhir. Penurunan harga ini turut menyeret kapitalisasi pasar Bitcoin menjadi US$ 2,15 triliun, juga turun 1,30%. Sementara itu, volume perdagangan dalam 24 jam terakhir tercatat sebesar US$ 50,13 miliar, menyusut 10,29% dari hari sebelumnya.
Adapun suplai maksimum Bitcoin tetap di angka 21 juta BTC, dengan suplai yang sudah beredar saat ini mencapai 19,87 juta BTC. Angka ini menunjukkan bahwa hampir seluruh pasokan Bitcoin telah ditambang, menyisakan hanya sekitar 1,13 juta BTC untuk proses penambangan di masa depan.
Baca Juga
Harga Bitcoin Berpotensi Tembus US$ 120.000, Simak Katalis Utamanya
Rasio volume terhadap kapitalisasi pasar tercatat sebesar 2,36%, mengindikasikan likuiditas yang relatif stabil meski terjadi tekanan harga. Fluktuasi harga Bitcoin dalam 24 jam terakhir menunjukkan volatilitas tinggi, dengan pergerakan naik-turun yang cukup tajam terutama pada sesi perdagangan malam. Padahal pada Rabu (11/6/2025) malam, harga sempat menanjak menyentuh level US$ 110.000 sebelum kembali terkoreksi.
Kondisi ini mencerminkan ketidakpastian pasar kripto global yang dipengaruhi oleh berbagai sentimen, termasuk arah kebijakan moneter Amerika Serikat, regulasi aset digital di beberapa negara, serta aksi ambil untung (profit taking) dari investor ritel dan institusi.

