Data Positif Inflasi China Buat Harga Minyak Menguat
JAKARTA, investortrust.id - Mengawali pembukaan pekan, Senin (9/12/2024) pagi ini harga minyak terpantau bergerak menguat didukung oleh sentimen pasca rilisnya data terbaru inflasi China yang turun ke level terendah dalam lima bulan. Disertai ketidakstabilan situasi di Suriah yang berpotensi memicu peningkatan tensi di Timur Tengah.
Melansir riset ICDX, Senin (9/12/2024) melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 70 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 65 per barel.
Menurut data, indeks harga konsumen di China mencapai 0,2% pada bulan November, turun dari 0,3% di bulan Oktober dan sekaligus merupakan titik terendah dalam lima bulan, ungkap data yang dirilis Biro Statistik Nasional pada hari Senin. Selain itu, indeks harga produsen juga turun menjadi 2,5% pada bulan November, melambat dari penurunan 2,9% pada bulan Oktober. Sinyal penurunan inflasi tersebut memicu ekspektasi akan pemulihan pertumbuhan ekonomi di negara importir minyak terbesar pertama dunia itu.
Dukungan lainnya datang dari kekhawatiran lebih lanjut akan ketidakpastian situasi geopolitik di Timur Tengah pasca kelompok Hayat al-Tahrir al-Sham (HTS) pada hari Minggu mengumumkan berhasil merebut ibu kota Damaskus dan menggulingkan Presiden Suriah Bashar al-Assad yang melarikan diri ke Rusia.
Baca Juga
Pengamat Pertanyakan Rencana Pemerintah Genjot Produksi Minyak dan Batu Bara
Pasukan militer AS mengatakan telah melancarkan belasan serangan udara yang menargetkan lokasi yang diduga kamp-kamp dan operasi ISIS di Suriah tengah pada hari Minggu. Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin juga menegaskan pada Menteri Pertahanan Nasional Turki Yasar Guler bahwa AS akan mengawasi dengan seksama perkembangan situasi di Suriah.
Sementara itu, menyusul keputusan OPEC+ yang menunda pemulihan produksi selama tiga bulan, perusahaan minyak negara Saudi Aramco pada hari Minggu mengumumkan Harga Jual Resmi (OSP) minyak mentah Arab Light utamanya diturunkan sebesar 90 sen per barel untuk pengiriman bulan Januari ke Asia. Pemangkasan OSP tersebut sekaligus menandai level terendah sejak Januari 2021, saat permintaan global melemah akibat pandemi.
Baca Juga
Harga Minyak Terus Tergelincir, meski OPEC+ Tunda Kenaikan Produksi
Turut membebani pergerakan harga, perusahaan energi AS menambah jumlah rig minyak dan gas untuk pertama kalinya dalam delapan minggu, ungkap laporan mingguan terbaru yang dirilis oleh Baker Hughes. Jumlah rig minyak dan gas, indikator awal produksi masa depan, naik tujuh rig menjadi 589 rig untuk pekan yang berakhir 6 Desember, di mana rig minyak naik lima rig menjadi 482 rig, tertinggi sejak pertengahan Oktober, dan rig gas naik dua rig menjadi 102 rig, tertinggi sejak awal November.

