Wall Street Melemah Setelah Rilis Data Inflasi, Pasar Cermati Kesepakatan AS-China
NEW YORK, investortrust.id - Wall Street ditutup melemah pada Rabu waktu AS atau Kamis (12/6/2025), menyusul data inflasi yang jinak dan ketidakpastian lanjutan seputar kesepakatan dagang AS-Tiongkok. Investor mengambil jeda dari reli yang sempat mendorong indeks-indeks utama.
Baca Juga
Indeks S&P 500 melemah 0,27% ke posisi 6.022,24, mengakhiri reli tiga hari berturut-turut. Nasdaq Composite turun 0,5% menjadi 19.615,88. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average hanya melemah tipis 1,1 poin, berakhir di level 42.865,77.
Data inflasi AS bulan Mei yang dirilis hari Rabu menunjukkan kenaikan 0,1% secara bulanan untuk indeks harga konsumen (CPI), di bawah ekspektasi konsensus sebesar 0,2%. Inflasi inti — yang tidak memasukkan komponen harga energi dan pangan — juga hanya naik 0,1%, lebih rendah dari perkiraan.
“Inflasi Mei yang lebih rendah dari perkiraan menunjukkan bahwa tarif belum memberikan dampak besar dalam waktu dekat karena perusahaan masih menggunakan persediaan lama atau menyesuaikan harga secara bertahap akibat permintaan yang tidak menentu,” beber Alexandra Wilson-Elizondo, Co-Chief Investment Officer Global untuk solusi multi-aset di Goldman Sachs Asset Management, seperti dikutip CNBC.
Ia menambahkan, “Sementara kita menunggu masa jeda tarif selama 90 hari berakhir, pasar akan terus berada di antara tekanan inflasi dan data ketenagakerjaan. Jika inflasi tetap terkendali atau pasar tenaga kerja melemah, Federal Reserve kemungkinan akan mempertimbangkan pemangkasan suku bunga.”
Pasar Masih Waspada
Perkembangan pembicaraan dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok menjadi fokus utama investor sepanjang pekan ini. Setelah dua hari perundingan di London, pejabat dari kedua negara mengatakan bahwa mereka telah mencapai kesepakatan awal dalam kerangka kerja, namun implementasi akhir masih menunggu persetujuan resmi dari Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping.
Sebagai bagian dari kerangka kerja tersebut, Tiongkok akan menyetujui ekspor mineral tanah jarang, sementara AS akan melonggarkan pembatasan terhadap penjualan teknologi canggih ke Beijing. Namun, di tengah optimisme tersebut, Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick menegaskan bahwa tarif terhadap impor asal Tiongkok tidak akan berubah dari level saat ini.
“Tarif tidak akan disesuaikan kembali. Anda bisa pastikan itu,” ujar Lutnick dalam wawancara dengan CNBC.
Baca Juga
Menteri Perdagangan AS Pastikan Tarif terhadap Produk China Tak Berubah
Presiden Trump juga menegaskan hal ini melalui unggahan di Truth Social, dengan menyebut bahwa kesepakatan dagang telah “selesai, dengan catatan persetujuan akhir dari Presiden Xi dan saya.” Dalam pernyataannya, Trump mengatakan bahwa China akan memasok magnet dan mineral tanah jarang secara langsung, sementara AS akan kembali membuka akses pendidikan tinggi bagi mahasiswa Tiongkok. Ia menambahkan, “Kita mendapatkan total tarif 55%, Tiongkok mendapatkan 10%.”

