Melesat 60%, Saham PGEO Ikut Dongkrak IHSG
JAKARTA, investortrust.id – Saham PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) telah melesat lebih dari 60% dari level terendahnya tahun ini hingga intraday perdagangan saham sesi I Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (16/5/2025). Kenaikan ini ikut menopang lompatan indeks harga saham gabungan (IHSG) sebanyak 18,3% dari level terendahnya tahun ini hingga intraday sesi I hari ini.
Berdasarkan data BEI, saham PGEO melesat lebih dari 60% dari terendahnya tahun 2025 level Rp 765 pada 8 April menjadi Rp 1.225, bahkan sempat sentuh level Rp 2.550, pada intraday sesi I, Jumat (16/5/2025). Bahkan, harga tersebut tercatat sebagai level tertinggi saham PGEO terhitung sejak 15 Agustus 2024.
Baca Juga
PGEO Sebut Sumatera Punya Cadangan Panas Bumi Terbesar di Indonesia, Capai 9,6 GW
Pemulihan harga saham PGEO tercatat yang tercepat, dibandingkan saham emiten geothermal lainnya, seperti PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN). Berdasarkan data, saham BREN baru melesat 50% dari level terendahnya Rp 4.250 pada 9 April menjadi Rp 6.375 pada perdagangan intraday sesi I hari ini.
Terkait target kinerja operasional dan keuangan PGEO tahun ini, Manager Investor Relations PGEO Ronald Andre Hutagalung mengatakan, perseroan membidik peningkatan volume produksi listrik tahun 2025 menjadi 4,930 GwH. Tahun lalu, volume produksi naik sebanyak 2% dari 4,735 gigawatt hour (GwH) menjadi 4,817 GwH.
“Peningkatan tersebut memperhitungkan penambahan kapasitas 55 megawatt (MW) dari Lumut Balai Unit 3. Unit ini diharapkan menambah sekitar 2,12% menjadi 4,930 GwH,” ungkap Ronald Andre dalam acara Pertamina Geothermal Energy-Investortrust Youth Seminar Financial Literacy.
Sedangkan upaya perseroan untuk mencapai target kapasitas terpasang pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) sebesar 1 GW, PGEO telah mengalokasikan belanja modal (capex) hingga US$ 3,324 miliar hingga 2029.
Lebih lanjut, Ronald memaparkan, dari sisi sustainability dan emission intensity tahun lalu mencapai 4 kilogram (kg) per megawatt hour (MwH). Ankga tersebut jau di bawah penggunaan batu bara yaitu sekitar 1.000 kg per ton CO2.
Sedangkan hingga kuartal I-2025, PGEO mencetak kenaikan pendapatan 0,2% atau tipis menjadi US$ 407 juta dengan laba bersih lebih dari US$ 160 juta, EBITDA mencapai US$ 324 juta dolar, gearing ratio 0,36x, serta cost of fund di 3,7%.

