Pasar Modal Ikut Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Perekonomian dan pasar modal adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Keduanya saling berkaitan, saling memengaruhi, tidak bisa berdiri sendiri. Pasar modal merefleksikan seberapa kencang roda ekonomi berputar dan seberapa kuat mesin ekonomi berlari.
Melalui pasar modal, perusahaan-perusahaan yang sahamnya tercatat di bursa setiap tahun menggalang dana (fundraising) senilai ratusan triliun rupiah dari masyarakat, baik melalui penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham, penerbitan saham baru untuk menambah modal lewat hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) alias rights issue, maupun emisi obligasi.
Tahun lalu saja, menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), fundraising di pasar modal mencapai Rp 259 triliun, terdiri atas IPO saham Rp 14 triliun, rights issue Rp 34 triliun, dan emisi obligasi Rp 211 triliun. Tahun ini, fundraising di pasar modal ditargetkan mencapai Rp 220 triliun.
Dana-dana yang dihimpun para emiten dari pasar modal digunakan untuk berbagai kebutuhan strategis perusahaan. Salah satunya untuk ekspansi usaha di sektor riil, dari mulai mendirikan pabrik baru, membuka cabang baru, menambah kapasitas produksi, memperluas pasar atau jaringan distribusi, hingga meningkatkan pasar ekspor.
Hasil fundraising di pasar modal juga digunakan sebagai modal kerja (working capital), seperti menambah inventaris atau stok barang, membayar gaji, sewa, logistik, dan biaya operasional harian, serta menjaga likuiditas perusahaan agar tetap stabil.
Selain itu, dana yang dihimpun dari pasar modal digunakan untuk pelunasan atau restrukturisasi utang, melunasi pinjaman bank atau utang obligasi sebelumnya (refinancing), serta mengurangi beban bunga dan risiko keuangan.
Tak sedikit pula perusahaan yang menggunakannya untuk investasi dalam penelitian dan pengembangan (R&D), mengembangkan produk atau layanan baru, meningkatkan daya saing dan inovasi, serta untuk akuisisi, konsolidasi, merger, dan diversifikasi portofolio usaha. Kecuali itu, banyak emiten menggunakan dana yang dihimpun dari pasar modal untuk pengembangan teknologi dan digitalisasi.
Tentu saja semua itu akan mendorong pertumbuhan ekonomi, menyerap tenaga kerja, meningkatkan devisa, serta mendatangkan penerimaan negara, baik berupa penerimaan pajak maupun penerimaan negara bukan pajak (PNBP), seperti royalti, dana bagi hasil, dan dividen.
Tingkatkan GCG dan ESG
Tak kalah penting, pasar modal turut mendorong perusahaan untuk lebih patuh tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance/GCG) dan menjalankan prinsip-prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (environmental, social and governance/ESG).
Tak mengherankan jika perusahaan-perusahaan yang sahamnya tercatat di bursa (listed company) cenderung lebih tangguh dan tumbuh berkesinambungan, sehingga menarik para investor asing untuk bermitra atau menjadi pemegang saham. Hampir semua perusahaan besar di Indonesia sudah menjadi listed company.
Jangan lupa, pasar modal juga menjadi sarana investasi bagi masyarakat (investor). Dengan berinvestasi di saham, reksa dana, obligasi korporasi, dan obligasi negara, para investor berkesempatan meraih cuan dan meningkatkan kesejahteraannya.
Lewat pasar modal pula, masyarakat (investor ritel) dan perusahaan (investor institusi) bisa berpartisipasi dalam pembangunan nasional, sekaligus memperkuat ketahanan APBN. Dengan membeli Surat Berharga Negara (SBN), mereka ikut mendanai proyek-proyek pembangunan yang dibiayai APBN.
Yang pasti, masyarakat masih menganggap pasar modal sebagai ladang cuan yang menjanjikan. Itu sebabnya, jumlah investor di pasar modal domestik terus meningkat. Hingga semester I-2025, jumlah investor pasar modal Indonesia mencapai 17 juta Single Investor Identification (SID) yang merupakan rekor baru, bertambah 2,14 juta (11%) dari akhir 2024. Angka itu melampau target yang ditetapkan Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun ini sebanyak 2 juta investor baru.
Sejalan dengan itu, kapitalisasi pasar (market cap) BEI terus meningkat seiring bertambahnya jumlah emitan dan kenaikan harga saham. Per 3 Agustus 2025 terdapat 954 emiten yang melantai di BEI dengan total market cap Rp 13.599 triliun atau 61% dari produk domestik bruto (PDB) Indonesia yang tahun lalu mencapai Rp 22.139 triliun.
Di pihak lain, nilai kelolaan reksa dana juga terus bertambah. Per Juni 2025, total nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana tembus Rp 513,93 triliun, dengan total unit penyertaan sebanyak 396,33 miliar unit.
Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi
Peran pasar modal dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional tak perlu diragukan. Peran itu bisa lebih optimal jika seluruh pemangku kepentingan, dari pemerintah, regulator, emiten, bursa, hingga investor sama-sama bersinergi memajukan pasar modal yang lebih inklusif, transparan, dan berdaya saing global.
“Bersama-sama, kita dapat mewujudkan cita-cita besar untuk ekonomi Indonesia yang lebih kuat dan berkelanjutan,” tegas Direktur Utama BEI, Iman Rachman.
Harus diakui, pasar modal bertali-temali langsung dengan kepercayaan masyarakat, khususnya para investor. Syukurlah, kepercayaan investor terhadap pasar modal, khususnya pasar saham Indonesia, terus meningkat. Itu pula yang telah mengerek naik IHSG ke level psikologis 7.500 belakangan ini.
Tak bisa dimungkiri pula, penguatan pasar saham domestik tak lepas dari peran Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BP Danantara Indonesia). Danantara Indonesia bertindak sebagai liquidity provider saat IHSG terjun bebas. Kecuali masuk pasar, Danantara juga menyuntikkan modal kepada sejumlah emiten.
“Danantara sempat masuk ke pasar saat bursa mengalami tekanan cukup dalam. Danatara ikut berperan sebagai stabilitas pasar modal Indonesia,” tutur Managing Directors Stakeholders Management Danantara, Rohan Hafas.
Februari 2025, saat BP Danantara diluncurkan, adalah salah satu periode perdagangan bulanan paling brutal bagi pasar saham Indonesia. Saat itu, IHSG terjun bebas 11,8% alias tergerus 838 poin ke level 6.271. Itu kinerja bulanan terburuk IHSG sejak Maret 2020. IHSG bahkan longsor 21% dari puncaknya pada September 2024.
Pada 18 Maret 2025, pasar saham dalam negeri kembali terpuruk, melemah 5%, sampai otoritas bursa memberlakukan pembekuan sementara perdagangan (trading halt). Belum genap sebulan, IHSG kembali anjlok 9,2% pada 8 April 2025 hingga trading halt kembali diterapkan.
Yang jelas, meningkatnya kepercayaan investor terhadap Danantara turut berdampak pada iklim investasi secara keseluruhan di Tanah Air. “Begitu mereka mau masuk investasi ke Indonesia, sekarang mereka memilih masuk lewat kami. Saat mereka memerlukan local partner, local partner-nya sekarang bisa kami,” papar Chief Executive Officer (CEO)Danantara yang juga Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Perkasa Roeslani.

