Saham Pertamina Geothermal (PGEO) Melesat Saat Masuk Ex-dividen, Apa Pemicunya?
JAKARTA, investortrust.id – Harga saham PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) mendadak melesat sebanyak 9,06% menjadi Rp 1.565 pada penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (16/6/2025). Anehnya saham PGEO justru melesat lebih kencang saat memasuki ex-dividen di pasar regular dan pasar tunai hari ini.
Sebagaimana diketahui pada umumnya harga saham justru jatuh saat memasuki ex-deviden, yaitu seorang investor tidak lagi berhak menerima dividen dari suatu saham. Ex dividen kebalik cum dividen, yaitu hari terakhir bagi investor untuk membeli saham agar mendapatkan dividen.
Baca Juga
PGEO Kucurkan Dividen Jumbo Rp 2,2 Triliun dan Genjot Kapasitas Energi Hijau
Level tersebut sudah mendekati harga penutupan tertinggi saham emiten pengembang pembangkit Listrik panas bumi (geothermal) ini Rp 1.640 pada 25 September 2023. Level penutupan Rp 1.565 ini juga tercatat sebagai harga penutupan tertinggi saham PGEO terhitung sejak 9 Oktober 2023.
Kenaikan tersebut membuat total penguatan saham PGEO telah mencapai 66,49% sepanjang tahun 2025 berjalan atau year to date (ytd). Sedangkan kenaikan dalam sebulan terakhir mencapai 30,42%
Penguatan harga saham PGEO berbanding terbalik dengan saham sejenis PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang dikendalikan Prajogo Pangestu yang justru anjlok 33,25% menjadi Rp 6.325. Adapun dalam sebulan terakhir, BREN hanya menguat 1,61%.
Baca Juga
Perdana Pertamina Geothermal (PGEO) Lakukan Sinkronisasi PLTP Lumut Balai Unit 2
PGEO sebelumnya menetapkan dividen tahun buku 2024 mencapai US$ 136,40 juta atau setara dengan Rp 53,09 per saham. Cum dividen telah berakhir pada 13 Juni dan pembagian dividen ini akan dilaksanakan pada 4 Juli 2025.
Berdasarkan data, lompatan harga saham PGEO pada perdagangan hari ini didukung berita positif, yaitu perseroan berhasil melakukan sinkronisasi perdana Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lumut Balai Unit 2 di Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Sabtu (14/6/2025).
Sinkronisasi dilakukan pada kapasitas awal sebesar 10% dari total daya terpasang PLTP Lumut Balai Unit 2 yang dirancang mencapai 55 megawatt (MW). “Sinkronisasi ini merupakan langkah penting di mana listrik dari pembangkit mulai disalurkan ke jaringan listrik PLN. Ini juga merupakan milestone penting yang menunjukkan progres proyek berada di jalur yang tepat,” jelas Direktur Operasional Pertamina Geothermal Energy Ahmad Yani.
Baca Juga
PGEO Ungkap Target Kenaikan Volume Produksi Ini di 2025, Sahamnya Langsung Ngacir
Tahapan tersebut menandai pertama kalinya listrik dari unit pembangkit disalurkan ke jaringan listrik PLN, sebagai bagian penting menuju tahap operasi komersial penuh (commissioning operation date/COD) yang ditargetkan pada akhir Juni 2025.
Sebagai pionir energi panas bumi di Indonesia dengan pengalaman lebih dari 40 tahun, PGE saat ini mengelola kapasitas terpasang sebesar 672,5 MW dari enam wilayah operasi. Perusahaan menargetkan peningkatan kapasitas menjadi 1 GW dalam dua tahun mendatang, dan mencapai 1,7 GW pada 2034.
Selain Lumut Balai Unit 2, PGE juga tengah mengembangkan beberapa proyek strategis lainnya seperti PLTP Hululais Unit 1 & 2 sebesar 110 MW, serta sejumlah proyek cogeneration berkapasitas total 230 MW. PGE juga telah mengidentifikasi potensi sumber daya panas bumi sebesar 3GW dari 10 Wilayah Kerja Panas (WKP) yang dikelola secara mandiri.

