Bertengger di Harga US$ 85.000, Bitcoin Dapat Angin Segar Penundaan Tarif Trump?
JAKARTA, investortrust.id – Harga Bitcoin (BTC) kembali menguat ke kisaran US$ 85.000 sejak awal pekan ini, di tengah tarik ulur keputusan Tarif Trump. Pemerintahan Trump pada Jumat (12/4/2025) mengumumkan bahwa barang elektronik, seperti smartphone dan laptop sementara ini tidak dikenakan tarif impor 145% untuk produk asal China.
Pengecualian dan penundaan tarif impor pada sejumlah produk elektronik dinilai memberi angin segar bagi perusahaan teknologi AS, seperti Apple, yang sebagian besar produksinya berbasis di China, termasuk juga mendorong pergerakan aset kripto.
Namun, keesokan harinya Trump menyatakan bahwa tarif tetap akan diberlakukan, meskipun kemungkinan lebih rendah dan bersifat ‘spesial’. Pengecualian ini bersifat sementara, karena pemerintah tengah menyiapkan kebijakan tarif baru yang lebih spesifik, terutama untuk industri semikonduktor.
“Pemulihan (harga Bitcoin) ini bukan hanya respons terhadap kebijakan tarif, tetapi juga cermin dari daya tahan pasar kripto yang mulai terbentuk di tengah ketidakpastian global,” jelas Financial Expert Ajaib Panji Yudha, Selasa (15/4/2025).
Dikutip dari data Coinmarketcap.com, harga Bitcoin saat ini masih bertengger di level US$ 85.798,11 pada sekitar pukul 15:38 WIB, naik sekitar 8,44% dalam sepekan dan 1,32% dibandingkan kemarin.
Baca Juga
Bitcoin Kembali Menguat ke US$ 85.000, Investor Didorong Tetap Kedepankan Manajemen Risiko
Meski Bitcoin menguat, arus keluar dari ETF spot Bitcoin di AS mencapai US$ 172,69 juta pada pekan lalu (7-11 April 2025). Hal ini menunjukkan bahwa investor institusional masih memilih bersikap hati-hati terhadap risiko jangka pendek.
Namun, kabar baik datang dari Ethereum (ETH) setelah SEC AS menyetujui perdagangan options. Hal ini diperkirakan akan menarik minat institusi yang membutuhkan instrumen lindung nilai yang lebih kompleks.
Inflasi Melandai, Ketidakpastian Masih Mengintai
Dari sisi makroekonomi, data inflasi AS terbaru menunjukkan kejutan positif. Indeks Harga Konsumen (IHK) hanya naik 2,4% (yoy) pada Maret 2025, jauh di bawah ekspektasi 2,8% dan menjadi laju terendah sejak September lalu.
Tak hanya itu, Indeks Harga Produsen (PPI) juga turun 0,4% dan menjadi penurunan bulanan terbesar sejak Oktober 2023. Hal ini mencerminkan tekanan harga dari sisi hulu mulai mereda.
“Hasil data Inflasi (CPI & PPI) juga berperan terhadap pemulihan harga BTC dalam beberapa hari terakhir. Namun, penurunan inflasi ini bisa saja hanya jeda sementara. Risiko dari efek lanjutan tarif dan sikap The Fed yang masih hawkish tetap menjadi sumber tekanan,” tegas Panji.
Risalah pertemuan The Fed pada Maret juga mencerminkan kekhawatiran terhadap inflasi yang bisa kembali meningkat, terutama jika tarif Trump mendorong naiknya biaya impor.
Mayoritas pelaku pasar memperkirakan Federal Reserve akan memangkas suku bunga sebesar 25 bps menjadi 4,00–4,25% pada pertemuan 18 Juni 2025. Ini mencerminkan potensi pelonggaran kebijakan di tengah kekhawatiran perlambatan ekonomi, meski suku bunga saat ini masih dipertahankan di kisaran 4,25–4,50%.

