Bitcoin Kembali Menguat ke US$ 85.000, Investor Didorong Tetap Kedepankan Manajemen Risiko
Analis Reku Fahmi Almuttaqin mengungkapkan, pergerakan harga Bitcoin saat ini masih dalam tren sideways. Namun, potensi breakout ke atas tetap terbuka, terutama jika Bitcoin berhasil menembus resistance kuat di level US$ 85.000. Jika itu terjadi, peluang menuju US$ 95.000 akan terbuka lebar.
“Akan tetapi potensi penurunan dari level yang ada saat ini hingga menyentuh area US$ 74.000 cukup terbuka. Data penjualan ritel AS yang akan dirilis pada 16 April ini menjadi salah satu variabel yang cukup diantisipasi oleh para investor,” ujarnya, dalam keterangan pers, Selasa (15/4/2025).
Selain itu, data suplai uang M2 yang akan diumumkan pada 22 April mendatang juga menjadi perhatian. Angka terakhir pada Februari 2025 menunjukkan rekor tertinggi di angka US$ 21,67 miliar. “Peningkatan suplai uang beredar dapat mendorong pertumbuhan aset-aset berisiko ketika situasi dirasa telah lebih kondusif,” sambung Fahmi.
Baca Juga
Arus Keluar ETF Bitcoin Mulai Mengecil, BTC Naik Perlahan Mendekati US$ 85.000
Di lain sisi, indeks dolar AS (DXY) berada di posisi terendah sejak April 2022, yang membuka peluang bagi investor untuk mencari aset alternatif. Kondisi ini dapat memicu investor AS untuk mencari aset alternatif seperti Bitcoin maupun alternative coin (altcoin) dengan kekuatan likuiditas dan kapitalisasi pasar yang cukup solid.
Fahmi menyarankan investor, terutama bagi pemula untuk menerapkan strategi investasi bertahap seperti dollar cost averaging (DCA). Dalam melakukan DCA, investor dapat mengoptimalkan fitur yang memudahkan berinvestasi di aset kripto yang potensial.
Sementara itu, kebijakan tarif resiprokal dari Presiden AS Donald Trump turut menjadi perhatian. Usai mengumumkan pengecualian sementara untuk produk elektronik dari tarif 145%, Trump kembali menegaskan bahwa tarif tetap akan diberlakukan dalam bentuk yang lebih spesifik. Hal ini menciptakan ketidakpastian yang berdampak pada pergerakan pasar, termasuk kripto.
Baca Juga
Program Pangan Dunia AS Terima Bitcoin, Dogecoin, dan 70 Lebih Jenis Kripto untuk Donasi
Menurut Financial Expert dari Ajaib Panji Yudha, pemulihan Bitcoin tak lepas dari daya tahan pasar terhadap tekanan global. “Pemulihan ini bukan hanya respon terhadap kebijakan tarif, tapi juga cermin dari daya tahan kripto yang mulai terbentuk di tengah ketidakpastian global,” ucapnya.
Data inflasi terbaru di AS juga memberikan dorongan bagi pasar. Indeks Harga Konsumen (IHK) hanya naik 2,4% secara year on year (yoy) di bulan Maret 2025, jauh di bawah ekspektasi 2,8%, sementara Indeks Harga Produsen (PPI) mencatat penurunan bulanan terbesar sejak Oktober 2023 yakni -0,4%.
“Hasil data inflasi (CPI & PPI) juga berperan terhadap pemulihan harga Bitcoin dalam beberapa hari terakhir. Namun, penurunan inflasi ini bisa saja hanya jeda sementara. Risiko dari efek lanjutan tarif dan sikap The Fed yang masih hawkish tetap menjadi sumber tekanan,” ujar Panji.
Pasar kini memperkirakan kemungkinan pemangkasan suku bunga oleh The Fed sebesar 25 basis poin menjadi 4.00%-4,25% pada pertemuan 18 Juni mendatang, meski saat ini masih bertahan di level 4,25%-4,50%.
Meski Bitcoin menguat, arus keluar dari dana yang diperdagangkan di bursa atau exchange traded fund (ETF) spot Bitcoin di AS mencapai US$ 172,69 juta pekan lalu. Ini mencerminkan kehati-hatian dari investor institusional. Namun, kabar baik datang dari Ethereum setelah SEC menyetujui perdagangan options, membuka peluang bagi strategi lindung nilai yang lebih kompleks.
Menurut Panji, dengan ketidakpastian arah suku bunga dan kebijakan dagang AS tetap menjadi katalis dominan bagi pasar kripto dalam jangka pendek. Dalam kondisi seperti ini ia menyarankan para investor fokus pada manajemen risiko.
“Pasar saat ini sedang berada dalam fase ketidakpastian. Investor yang siap dengan strategi defensif namun fleksibel akan lebih mampu memanfaatkan peluang tanpa terjebak dalam volatilitas jangka pendek,” kata Panji.

