Ekonom Indef: IHSG Selalu Pulih Lebih Kuat Setelah Krisis
JAKARTA, investortrust.id – Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) merangkum data sejumlah periode krisis sejak 2007, yang selalu diikuti pemulihan atau rebound Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Pasar Modal Indonesia.
Dikutip dari catatan riset Ekonom Senior Indef, Aviliani, tingkat pemulihan atau rebound yang dicetak oleh IHSG setelah krisis, selalu lebih besar dibandingkan penurunan yang diderita.
Namun Avi tidak bisa memproyeksi apakah kenaikan IHSG setelah krisis akibat perang dagang pada 2025 ini, bisa melebihi total penurunan yang telah terjadi.
“Saya rasa saat ini salut buat Pak Iman (Dirut BEI) bisa menjaga, terus bagaimana walaupun sempat turun tetapi recovery-nya itu tidak panik. Saya rasa ini harus terus dipertahankan, kami dukung Pak Iman untuk terus membuat bursa kita semakin baik,” ujarnya pada diskusi daring, bertajuk ‘Trump Trade War: Menyelamatkan Pasar Modal, Menyehatkan Ekonomi Indonesia’, kemarin.
Baca Juga
IHSG Bergejolak Tinggi Pekan Ini hingga Asing Obral BMRI, BBRI, dan BBCA
Dalam catatan Indef, krisis akibat subprime mortgage pada Juli-Agustus 2007 mencatatkan penurunan IHSG sebanyak 22,6% namun rebound yang tercipta setelahnya, mencapai 52,3%.
Kemudian krisis finansial global yang terjadi pada Januari-Oktober 2008 mencetak penurunan IHSG hingga 61,6% namun rebound yang berhasil dicetak setelah krisis, mencapai 172,9%.
Hal yang sama terjadi pada krisis utang Eropa pada April-Mei 2010. Indef mencatat, kala itu IHSG turun 15,8% namun setelah krisis, rebound yang terjadi mencatatkan jumlah 51,5%.
Kelanjutan dari krisis utang Eropa pada Agustus 2011 juga mencatatkan penurunan indeks sebanyak 23,3%. Namun setelah pulih, IHSG rebound 31,6%. Masih dari sumber riset Indef, Indonesia juga mengalami penurunan IHSG pada Mei-Agustus 2013 akibat Taper Tantrum sebesar 26,9% namun berhasil rebound sebesar 43,9%.
Pada 2015, tepatnya periode Maret-September, Indonesia juga terimbas perlambatan ekonomi China dan devaluasi Yuan yang menarik turun IHSG sebanyak 22,7%. Namun rebound yang ditunjukkan pasar, usai krisis tersebut, tercatat sebesar 65,9%.
Sementara pada Februari-Juli 2018 terdapat krisis akibat Perang Dagang 1 yang menurunkan IHSG sebesar 17% namun berhasil pulih dengan kenaikan indeks 19,3%.
Terakhir, krisis akibat pandemi Covid-19 pada Januari-Maret 2020 yang mencatatkan penurunan IHSG 38,4%, menurut Indef telah berhasil rebound 66,3% usai krisis. Namun Indef tidak menyebutkan persentase rebound diambil pada perbandingan periode berapa lama sejak krisis terjadi.
Avi pun mengingatkan investor untuk waspada karena periode krisis yang menimpa IHSG semakin singkat. Pasar saham global lain juga akan selalu menciptakan ekuilibrium baru.
“Maka investor harus lebih cermat dan melakukan mitigasi serta manajemen risiko yang baik untuk meminimalisir kerugian yang dapat terjadi dalam siklus penurunan pasar saham ke depannya,” pesannya.
Dia juga menegaskan bahwa pasar modal merupakan salah satu indikator yang mencerminkan kestabilan perekonomian suatu negara.
“Jadi jangan sampai kita salah persepsi bahwa pasar modal itu seolah-olah bukan investasi. Justru dengan berkembangnya pasar modal buat pengusaha di Indonesia itu semakin baik dalam mendapatkan sumber dana gitu,” pungkasnya.
Baca Juga

