IHSG Terbang 5% hingga Saham Cuan Bertaburan, Seberapa Kuat Efek Penundaan Tarif Trump?
JAKARTA, investortrust.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pagi ini, Kamis, (10/4/2025), dibuka langsung terbang 302 poin (5,07%) menjadi 6.270. Penguatan tinggi tersebut masih bertahan hingga pukul 11.17 dengan kenaikan 290 poin (4,84%) menjadi 6.258.
Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana alias Didit menilai, penguatan IHSG pagi ini disebabkan oleh euforia dari penundaan tarif impor selama 90 hari oleh AS untuk hampir seluruh negara, kecuali China, meskipun eskalasi perang dagang antara China dan AS tetap berlangsung untuk balas membalas tarif.
“Selain itu, penguatan ini dipengaruhi oleh penguatan nilai tukar Rupiah dan penguatan bursa global,” kata Didit kepada investortrust.id Kamis, (10/4/2025).
Baca Juga
2,5 Jam Transaksi, IHSG Bertahan Naik di Atas 5% hingga Saham Big Cap Berlomba-lomba Cuan Jumbo
Secara teknikal, Didit memproyeksikan selama IHSG masih belum mampu break 6.510 sebagai resistance kuatnya, maka masih terdapat potensi IHSG terkoreksi kembali. Adapun saham yang perlu dicermati menurut Didit yakni saham LSIP, BBCA, dan GOTO.
Sependapat dengan Didit, Pengamat Pasar Modal Panin Sekuritas Reydi Octa menyebutkan bahwa penguatan IHSG didorong sentimen penundaan tarif selama 90 hari dari Trump. Menurutnya hal ini berpotensi sangat besar untuk market global menanggapinya secara positif.
Tercatat Dow Jones naik 7.87%, Nasdaq 12,16% pada perdagangan terakhir, di Asia, Nikkei tercatat naik 8,32% dan IHSG pun sesi 1 ini naik 4,78%.
“Penguatan pasar modal seluruh dunia bisa bertahan dalam jangka pendek atau menengah mungkin selama durasi penundaan kenaikan tarif tersebut apabila US tidak mengeluarkan kebijakan keras atau kontroversi di tengah periode tersebut,” ucap Reydi saat dihubungi investortrust.id Kamis, (10/4/2025).
Baca Juga
Pasalnya, Reydi berujar, diharapkan dana-dana institusi lokal maupun asing akan mulai mengakumulasi lagi saham-saham blue chips yang saat ini valuasinya sudah, karena terus dijual asing sebelumnya, karena durasi 90 hari penundaan mungkin cukup untuk strategi mereka bergerak masif dan agresif.
“IHSG akan pulih seperti libur lebaran apabila penundaan ini berdampak pada kelonggaran kebijakan moneter dari Bank Sentral US untuk penetapan suku bunga ke depan, terutama suku bunga BI yang masih belum memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuan, setidaknya agar tidak higher for longer,” bebernya.
Dampak Tak Langsung
Menurutnya, penundaan tarif dapat memberikan dampak tidak langsung terhadap kestabilan ekonomi, maksudnya inflasi akibat harga barang naik drastis jadi tertunda, sehingga perlambatan ekonomi belum terjadi dari sisi ekspor impor barang.
“Perdagangan IHSG berpeluang terus membaik karena keputusan tersebut akan memberikan ruang positif untuk sektor-sektor yang terdampak langsung dengan kenaikan tarif seperti teknologi, otomotif dan manufaktur,” jelas Reydi.
Trader jangka pendek di IHSG tentunya akan memanfaatkan momentum ini secara efisien, mungkin saja terjadi panic buying, untuk trader jangka menengah dan panjang, potensi menambah perbankan BUMN yang akan menjelang cum date nya untuk melakukan dividen investing.
Baca Juga
Menko Airlangga: Perekonomian Indonesia masih Kuat Ditunjukkan Sejumlah Indikator Ini
“Untuk ke depan, investor akan mencermati suku bunga, tentunya penundaan ini tidak langsung berdampak pada kelonggaran keputusan, namun banyak hal lain yang akan jadi pertimbangan. Jika keputusan penundaan ini tetap stabil, ada potensi arus dana asing bisa mulai masuk lagi ke IHSG,” ucapnya.
Potensi baik selain saham perbankan yang tentu lagi cukup murah dan memberikan dividen jumbo, sektor energi dan batu bara juga menjadi perhatian investor, karena menurut Reydi permintaan energi akan tetap tinggi dari India dan China, sehingga AADI, ITMG, dan PTBA bisa terapresiasi harganya, sektor pertambangan logam seperti ANTM, MDKA dan INCO juga patut dicermati.
“Namun, sektor tambang batu bara dan logam ini mungkin hanya berlangsung jangka pendek karena bergantung pada hasil perundingan penundaan kenaikan impor tarif ini apabila di tengah jalan berakhir tidak sesuai ekspektasi,” tutur Reydi.

