Menko Airlangga: Perekonomian Indonesia masih Kuat Ditunjukkan Sejumlah Indikator Ini
JAKARTA, investortrust.id – Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebutkan bahwa perekonomian Indonesia bertumbuh positif dan tetap terjaga dengan baik hingga kini. Hal ini ditunjukkansejumlah indikator yang masih positif.
“Di tengah ketidakpastian global, fundamental kita kuat, daya saing meningkat, rating Indonesia stabil, dan sektor keuangna berkinerja baik. Walaupaun ketidakpastian meningkat, tapi domestic market dan APBN kita berfungsi sebagai shock absorber,” ujarnya dalam Sarasehan Ekonomi Bersama Presiden Republik Indonesia, yang digelar di Menara Mandiri, Jakarta, Selasa (8/4/2025).
Baca Juga
Ekonomi Global Masuki Era Baru, Bagaimana Nasib Pasar Keuangan RI?
Terjaganyan perekonomian Indonesia dengan baik hingga kini, terang dia, ditunjukkan sejumlah indikator berikut. Pertama, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2024 mencapai 5,03% dan semua sektor tumbuh positif dengan kontribusi terbesar disumbangkan industri pengolahan atau manufaktor sebanyak 18,98% terhadap pendapatan domestik bruto (PDB).
Kedua, terang dia, inflasi Indonesia terjaga mencapai 1,65% pada Maret 2025 (month to month) dan 1,03% year on year. Ketiga, indeks keyakinan konsumer berada di level optimis sebesar 126,4 pada Februari 2025 atau masih konsisten di atas level 100. Keempat, PMI manufaktur di level ekspansif per Maret 2025 mencapai 52,4, seiring dengan peningkatan output dan demand dalam negeri.
Terjaganya kondisi perekonomian, ungkap Airlangga, ditunjukkan indeks penjualan riil Indonesia tetap bertumbuh 0,8% month to month, meski terkontraksi 0,5% yoy pada Februari. Tingkat konsumsi masyarakat mulai menunjukkan peningkatan selama ramadan dan Idul Fitri. Keenam, sektor keuangan tetap kuat yang ditunjukkan neraca pembayaran tahun 2024 surplus US$ 7,2 miliar, pertumbuhan kredit 10,4% pada Februari 2025, dan dana pihak ketiga (DPK) perbankan meningkat menjadi 5,75% atau berada di atas pertumbuhan ekonomi.
Ketujuh, terang Airlangga, cadangan devisa Indonesia tergolong kuat mencapai US$ 154,4 miliar. Angka ini setara dengan 6,6 bulan impor atau 6,4 bulan impor ditambah pembayaran utang luar negeri pemerintah. Kedelapan, Indonesia kembali mencatatkan surpluas perdagangan US$ 3,12 miliar pada Februari 2025 atau melanjutkan tren surplus selama 58 bulan berturut-turut.
Ekonomi yang kuat juga ditunjukkan sisi peringkat investasi, menurut Airlangga, Indonesia menempati peringkat layak investasi dan daya saing yang kuat. Hal ini dapat dilihat dari laporan IMD Global Competitiveness Index bahwa peringkat daya saing Indonesia naik peringkat ke-27 dari 67 negara atau naik 7 tingkat. Hal ini menempatkan Indonesia berada di peringkat ketiga di kawasan Asean setelah Singapura dan Thailand.
“Peningkatan signifikan daya saing tersebut didukung faktor kinerja ekonomi, efisiensi pemerintah, dan efisiensi bisnis. Sebaliknya faktor infrastruktur masih catatatkan penurunan tipis,” terangnya.
Baca Juga
Prabowo: Kita Bukan Negara Miskin, Bisa Beli Produk Amerika US$ 17 Miliar
Indonesia juga tercatat sebagai negara dengan sovereign credit rating (CSR) satu tingkat di atas investment grade. Di antaranya, Moody’s memberikang peringkat Baa2 dengan outlook stabil untuk Indonesia, Fitch memberikan peringkat BBB dengan outlook stabil, S&P memberikan peringkat BBB dengan outlookk stabil, dan R&I memberikan peringkat BBB+ dengan outlook stabil.
Bahkan, Moody’s menyebutkan bahwa ketahanan ekonomi Indonesia tetap terjaga berkat permintaan domestik yang kuat dan komitmen pemerintah dalam menjaga kredibilitas kebijakan moneter dan fiskal.
Kebijakan hilirisasi komoditas dan peningkatan daya saing sektor manufaktur berkontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi, peningkatan produktivitas industri, penurunan ketergantungan ekspor bahan mentah, dan penciptaan nilai tambah yang lebih tinggi.
Airlangga menambahkan, kinerja intermedia perbankan Indonesia bertumbuh dan terjaga dengan baik yang diindikasikan pertumbuhan kredit sebanyak 10,42% dan DPK mencapai 5,75% pada Februari 2025. Likuiditas perbankan tetap memadai yang dicerminkan AL/DPK sebesar 26,32% pada Februari 2025 dan ketahanan perbankan kuat dengan permodalan (CAR) di level tinggi.

