Dihantui Sentimen Tarif AS, IHSG Bakal Terjun Bebas Besok?
JAKARTA, investortrust.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada pembukaan perdagangan usai libur lebaran, Selasa (8/4/2025), dibayangi berbagai sentimen global, berpotensi anjlok hingga berada di bawah level 6.000. Sedangkan saham emiten orientasi ekspor diprediksi menjadi pemberat utama.
Pada perdagangan hari terakhir sebelum libur lebaran menguat sebanyak 38,26 poin (0,59%) menjadi 6.510,62 pada perdagangan Kamis (27/3/2025). Pemodal asing mencatatkan pembelian bersih (net buy) saham mencapai Rp 623,46 miliar dengan memborong saham BBRI dan BMRI.
Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana alias Didit memperkirakan, IHSG berpotensi tertekan pada pembukaan perdangan besok, mengingat secara global pergerakan market turut relatif tertekan setelah pengumuman tarif impor baru dan rencana kebijakan The Fed ke depan.
Baca Juga
Hadapi Perang Dagang AS, Pemerintah Dorong Kerja sama dengan ASEAN
"Kami memperkiran support IHSG terdekat 6.312 dan resist 6.557 pada pembukaan perdagangan besok, Selasa 8 April 2025," kata Didit saat dihubungi investortrust.id Senin, (7/4/2025).
Sependapat dengan Didit, VP Marketing, Strategy & Planning Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi melihat sepanjang libur bursa (Lebaran) terjadi disrupsi di pasar saham global dengan beberapa sentimen, yakni pengenaan tarif resiprokal Trump yang menerapkan tarif tambahan lebih besar ke sejumlah negara, salah satunya Indonesia dikenakan tarif tambahan sebanyak 32%.
"Pasalnya, surplus perdagangan non-migas terbesar Indonesia adalah dengan AS, dengan nilai mencapai US$ 16,84 miliar dan total surplus sepanjang tahun 2024 Indonesia sebesar US$ 31,04 miliar. Sehingga kami melihat dampaknya akan signifikan kepada produsen ekspor, CAD membengkak dan hingga depresiasi Rupiah," ujar Audi kepada investortrust.id Senin, (7/4/2025).
Tak hanya itu, Audi menyebutkan, sentimen warning The Fed, di dalam pidatonya (4/4/2025) lalu Jerome Powell mengkhawatirkan terkait perlambatan ekonomi dan kenaikan inflasi AS, sehingga dikhawatirkan hal ini akan menaikkan potensi gejolak ekonomi global.
Baca Juga
Tarif Trump Ancam Industri Indonesia, Ekonom Harap BI Pangkas Suku Bunga
"Kami berpandangan pasar akan implementasikn dampak dari kejadian diatas di hari pembukaan pasca libur besok. Kami perkirakan bergerak cenderung melemah di tengah tekanan dengan support psikologis direntang 6.000-6.100 dan resistance direntang level 6.600-6.670," tutur Audi.
Bahkan, Audi menambahkan, jika besok IHSG breakdown psikologis support, maka ia melihat skenario bearish hingga level 5.700-5.750. Tekanan asing juga berpotensi berlanjut seiring meningkatnya ketidakpastian ekonomi.
Baca Juga
Tak hanya Didit dan Audi, Analis Pasar Modal sekaligus Founder Stocknow.id Hendra Wardana turut berpendapat terkait pasar Indonesia, meskipun pada saat kebijakan ini diumumkan IHSG belum bereaksi karena sedang libur Panjang, tekanan diperkirakan akan muncul signifikan pada pembukaan perdagangan berikutnya.
"Saya memperkirakan IHSG berpotensi melemah ke area support di 6.290–6.312, dengan resistance jangka pendek di 6.660. Meskipun sebelumnya ada kecenderungan penguatan menjelang libur bursa, sentimen negatif dari kebijakan Trump akan menjadi penahan utama laju penguatan tersebut," ucap Hendra kepada investortrust.id Senin, (7/4/2025).
Surplus Perdagangan
Selain sentimen global, kata Hendra, tekanan domestik juga muncul, terutama dari potensi menyempitnya surplus perdagangan akibat bea masuk baru sebesar 32% yang dikenakan terhadap produk Indonesia, serta pelemahan nilai tukar rupiah.
Surplus perdagangan Indonesia terhadap AS pada 2024 mencapai US$16,84 miliar atau sekitar 54% dari total surplus, dan kini sangat berisiko terkikis. "Dalam jangka pendek, rupiah juga berpotensi dibuka melemah di kisaran Rp 16.900 dan bisa menembus Rp 17.000 per dolar AS, akibat kekhawatiran pasar terhadap kestabilan neraca perdagangan dan aliran modal," imbuhnya.
Baca Juga
Di samping itu, menurut Hendra dari sisi sektoral, yang paling rentan terkena dampak adalah sektor-sektor yang memiliki eksposur besar ke ekspor, terutama ke pasar AS. Ini termasuk sektor tekstil dan garmen, manufaktur barang konsumer berbasis ekspor, komponen otomotif, dan juga industri elektronik.
Emiten seperti SRIL, RALS, MYOR, UNTR, SMSM, hingga IMAS dan GJTL termasuk yang patut dicermati karena sebagian besar pendapatannya bergantung pada ekspor langsung maupun rantai pasok global. Salah satu sektor yang paling terdampak namun sering luput dari perhatian adalah sektor karet dan turunannya.
"Emiten seperti Gajah Tunggal Tbk (GJTL), yang memiliki eksposur besar ke ekspor ban dan produk karet ke AS, berisiko tinggi mengalami penurunan volume penjualan akibat tarif baru. Produk-produk GJTL akan menjadi lebih mahal di pasar AS dan kemungkinan besar konsumen akan beralih ke produsen dari negara lain yang tidak dikenakan tarif tinggi. Akibatnya, pendapatan dan laba GJTL bisa tertekan," bebernya.
Menurutnya industri hulu seperti perkebunan karet juga tidak luput dari dampak ini, karena harga karet alam global sangat dipengaruhi oleh permintaan dari negara-negara besar. Jika permintaan turun, harga karet berisiko melemah, yang akan berdampak buruk bagi petani dan pabrik pengolahan.

