Memasuki Sesi II, Penurunan IHSG Perlahan-lahan Mengecil, Tinggalkan Pelemahan 6%
JAKARTA, investortrust.id – Sejam setelah memasuki perdagangan saham sesi II Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (18/3/2025), indeks harga saham gabungan (IHSG) perlahan-lahan membaik, dibandingkan dengan penutupan sesi I dengan koreksi tajam 395,87 poin (6,12%) menjadi 6.076.
Berdasarkan data perdagangan saham BEI hingga pukul 14.25, penurunan indeks terpantau mulai mereda tersisa 240 poin (3,73%) menjadi 6.231. Penurunan sejumlah saham-saham kapitalisasi pasar besar terpantau mulai mengecil.
Baca Juga
Ekonom Soroti Penurunan Kepercayaan Investor Asing ke Domestik Pemicu IHSG ‘Crash’
Di antaranya, pelemahan saham-saham emiten yang dikendalikan Prajogo Pangestu mulai turun, seperti TPIA dari sebelumnya ARB menjadi hanya turun 16,54% menjadi Rp 5.550, dibandingkan akhir sesi I sempat Rp 5.325. Begitu juga dengan pelemahan saham BREN mulai mengecil menjadi 10,48% menjadi Rp 5.125, dibandingkan sebelumnya sempat ke level Rp 4.580.
Penurunan saham bank-bank besar, seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI mulai mereda dari semula rata-rata melemah 5% menjadi kisaran 3%. Begitu juga dengan saham emiten PANI, CBDK, AMMN, DSSA, dan RATU mulai menyisakan penurunan lebih kecil.
Sebelumnya, pengamat pasar modal Panin Sekuritas Reydi Octa mengatakan, IHSG terkoreksi hingga terkena trading halt dipicu sejumlah faktor, seperti keputusan investor yang tengah wait and see terhadap keputusan suku bunga acuan The Fed yang prediksinya hampir 99% suku bunga bertahan di level 4,25 - 4,5% untuk pertemuan besok tanggal 19 Maret 2025.
Baca Juga
Analis: Sentimen Domestik Faktor Utama Kejatuhan IHSG hingga Terkena Trading Halt Hari Ini
"Artinya investor akan lebih senang untuk mengamankan dananya di instrumen investasi low risk yang masih menawarkan return yang tinggi karena suku bunga masih tinggi," kata Reydi kepada investortrust.id Selasa, (18/3/2025).
Reydi melihat bahwa kekhawatiran investor akan berlanjut paska keputusan suku bunga The Fed akibat terhadap kebijakan perdagangan Amerika Serikat yang kabarnya akan ada potensi tarif tambahan setelah pengumuman suku bunga The Fed besok.
"Asing juga tercatat masih terus melakukan nett sell saham, kemarin asing tercatat melakukan penjualan bersih sebesar Rp 848 miliar yang didominasi penjualan di sektor perbankan besar," ujar Reydi.

