Ekonom Soroti Penurunan Kepercayaan Investor Asing ke Domestik Pemicu IHSG ‘Crash’
JAKARTA, investortrust.id - Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami penghetian sementara atau trading halt pada perdagangan intraday saham sesi I pukul 11.20-11.50 WIB setelah indeks harga saham gabungan (IHSG) terjun 5,02%.
Bahkan sesi I, laporan investortrust.id memproyeksikan trading halt kedua bakal terjadi. Ini karena penurunan terus terjadi hingga 6,21% atau 402 poin. Penurunan dipicu atas kejatuhan seluruh sektor saham dengan penurunan terdalam melanda saham-saham emiten Prajogo Pangestu, seperti TPIA, BREN, CUAN, BRPT, hingga PTRO. Begitu juga dengan DCII anjlok ARB tiga hari beruntun.
Baca Juga
Analis: Sentimen Domestik Faktor Utama Kejatuhan IHSG hingga Terkena Trading Halt Hari Ini
Ekonom dan Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Arif Budimanta mencatat sebanyak 580-an saham emiten yang telah mengalami penurunan dan hanya 105 saham emiten yang naik hari ini. “Beberapa saham yang turun memiliki kondisi fundamental yang baik, seperti saham-saham BUMN perbankan dan telekomunikasi,” ujar Arif kepada investortrust.id, Selasa (18/3/2025).
Dia mengatakan, saat yang bersamaan indeks Hangseng dan Nikkei masih menunjukkan kondisi yang bullish. Kondisi ini menunjukkan terjadi peralihan aset investor asing dari pasar saham Indonesia ke safe haven di tengah ketidakpastian global, perang tarif, eskalasi konflik di Yaman, konflik Israel-Palestina, dan Rusia-Ukraina yang berkepanjangan.
Sementara itu, Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin menduga anjloknya IHSG bukan semata karena pengaruh konflik geopolitik. “Tidak terkait Yaman, karena indeks negara lain tidak terpengaruh,” Wijayanto, dihubungi terpisah.
Dia menyebutkan bahwa salah satu faktor utamanya yaitu kinerja APBN Februari yang buruk dan outlook fiskal yang berat akan dihadapi 2025. “Akibat kebijakan pemerintah yang tidak realistis dan tanpa teknokrasi yang jelas,” kata dia.
Baca Juga
Wijayanto mengatakan isu lain yang membuat investor hati-hati yaitu menyoroti isu korupsi berskala besar yang muncul belakangan ini. Sentimen negative juga datang dari wacana revisi Undang-Undang (UU) TNI yang memunculkan kekhawatiran publik mengenai dwifungsi TNI. “Yang dikhawatirkan menimbulkan protes besar,” ujar dia.
Selain itu, kekhawatiran mengenai turunnya rating kredit Indonesia juga turut mempengaruhi kepercayaan investor. Seperti diketahui, Fitch dan Moodys akan mengumumkan hasil analisnya pada Maret-April, serta S&P akan mengumumkan hasil rating kredit pada Juni-Juli.

