Penurunan Rating hingga Tingginya Konsumsi Jelang Idulfitri, IHSG Bisa Capai Level Ini
JAKARTA, investortrust.id - Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menjelang Hari Raya Idulfitri secara historikal diproyeksi akan terapresiasi, sehingga ini menjadi salah satu momentum penggerak saham-saham tertentu. IHSG pun diprediksi bisa menuju level 6.900, dengan zona kritis di level 6.500-6.400, sebuah zona resistance IHSG yang saat ini berubah menjadi support kuat kinerja indeks selama 4 tahun terakhir.
“Ke depan ada resistance dari swing high yang kita bisa cermati di level 6.900, mungkin saja IHSG ada potensi menuju 6.900 apabila terjadi tekanan beli yang kuat di indeks menjelang Idulfitri,” kata pengamat pasar modal dari Panin Sekuritas, Reydi Octa investortrust.id, Senin (10/3/2025).
Apresiasi kinerja bursa saat itu diproyeksikan bakal ditopang emiten sektor barang konsumsi pokok, ritel dan transportasi.
"Momentum kenaikan performa saham ini disebabkan oleh tingkat kebutuhan dan daya beli masyarakat yang meningkat berkaitan dengan perayaan Hari Raya Idulfitri. Hal ini diyakini dapat memperkuat kinerja laporan keuangan pada emiten-emiten pada sektor-sektor tersebut," ujarnya.
Reydi menyampaikan investor bisa mencermati emiten-emiten di dua sektor, yakni sektor barang konsumsi yakni PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Mayora Indah Tbk (MYOR), dan PT Sido Muncul Tbk (SIDO). Sementara di sektor ritel yakni, PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI), PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES), dan PT Ramayana Lestari Sentosa (RALS).
Baca Juga
IHSG Sesi I Anjlok 60 Poin, Saham DCII Penyelamat dari Keterpurukan Hari Ini
"Untuk sektor barang konsumsi, ICBP salah satu kandidat saham yang dapat dicermati menjelang hari raya, dengan target harga konsensus dari riset analis gabungan berada di level Rp 14.575," kata Reydi.
Sedangkan saham sektor barang konsumsi lainnya, SIDO cenderung mengalami kenaikan permintaan untuk konsumsi suplemen dan jamu selama lebaran didorong momentum hari raya dan performa kinerja laporan keuangan yang baik, dengan target harga konsensus dari riset analis gabungan untuk SIDO berada di level Rp 695.
"Untuk sektor ritel, MAPI juga salah satu saham yang cenderung mengalami peningkatan kinerja, hal ini biasanya disebabkan oleh tradisi masyarakat yang semakin gemar berbelanja baju lebaran dan aksesoris lainnya, didukung juga dengan strategi perusahaan untuk memberikan diskon besar-besaran selama periode tersebut," ujar Reydi.
Reydi mengamati pergerakan saham MAPI secara historis dapat diperhatikan kenaikannya tiap menuju kuartal kedua, di saat bertepatan dengan berlangsungnya hari raya Idulfitri dalam momentum jangka pendeknya. Target harga konsensus dari gabungan riset analis berada pada level Rp 1.875.
"Potensi kenaikan saham-saham tersebut pada akhirnya juga akan dipengaruhi oleh keadaan ekonomi global dan dalam negeri, sebaiknya selalu memilih kandidat emiten yang memiliki fundamental yang solid," ucapnya.
Sementara itu, Analis Pasar Modal sekaligus Founder Stocknow.id Hendra Wardana memandang penurunan peringkat pasar saham Indonesia oleh MSCI, yang diikuti oleh Goldman Sachs dari overweight menjadi market weight mencerminkan kekhawatiran investor global terhadap daya tarik pasar domestik.
"Beberapa faktor utama yang menjadi pertimbangan adalah ketidakpastian ekonomi global, dampak perang dagang AS-China, serta perlambatan konsumsi dalam negeri yang terlihat dari penurunan penjualan kendaraan bermotor. Selain itu, tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan kenaikan suku bunga global juga menambah beban ekonomi domestik," kata Hendra saat dihubungi investortrust.id, Senin (10/3/2025).
Baca Juga
Reliance Sekuritas Jagokan Empat Saham Hari Ini, Meski IHSG Cenderung Turun
Jika melihat fundamental emiten, menurut Hendra beberapa sektor memang mengalami tekanan, terutama sektor perbankan dan komoditas yang selama ini menjadi pendorong utama IHSG. Saham-saham perbankan seperti BMRI dan BBRI mengalami tekanan jual yang cukup besar akibat kekhawatiran terhadap pertumbuhan kredit yang melambat.
"Sementara itu, saham emiten komoditas seperti ANTM, ADRO, dan MDKA juga dilepas oleh asing, sebagai dampak harga komoditas yang mulai alami volatilitas tinggi. Namun, tidak semua emiten mengalami pelemahan, terlihat dari saham-saham teknologi seperti DCII yang masih mampu mencatatkan kenaikan signifikan," terang Hendra.
Dibandingkan dengan pasar saham di kawasan Asia Tenggara, Hendra berpandangan Indonesia masih memiliki daya tarik, tetapi mulai kehilangan momentum dibandingkan negara seperti Vietnam dan India yang mencatatkan pertumbuhan lebih stabil.
"Investor asing cenderung mencari pasar yang lebih likuid dan memiliki kebijakan ekonomi yang lebih predictable, sementara ketidakpastian kebijakan dalam negeri dan volatilitas pasar membuat investor lebih berhati-hati," jelasnya.
Bagi investor domestik, menurutnya saat ini adalah momen untuk lebih selektif dalam memilih saham. Strategi defensif dengan fokus pada saham berfundamental kuat dan sektor yang masih memiliki potensi pertumbuhan seperti teknologi dan konsumer bisa menjadi pilihan.
Selain itu, investor juga bisa memanfaatkan pelemahan untuk mengakumulasi saham-saham undervalued yang masih memiliki prospek jangka panjang.
Baca Juga
IHSG Dibuka Anjlok 1,23%, Saham Pendapatang Baru MINE Tetap Perkasa hingga ARA
"Untuk mengembalikan kepercayaan asing terhadap pasar saham Indonesia, regulator dan pemerintah perlu mengambil langkah konkret. Salah satunya adalah memberikan kepastian kebijakan fiskal dan moneter, termasuk mengelola inflasi agar daya beli masyarakat tidak terus tergerus," ucap dia.
Selain itu, BEI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga perlu melakukan reformasi kebijakan yang meningkatkan transparansi, seperti membuka kode broker secara real-time agar investor memiliki akses informasi yang lebih luas dalam mengambil keputusan investasi. "IHSG ke depan masih berpotensi mengalami tekanan dengan area support ke level 6.530 dan resistance pada posisi 6.666," terang Hendra.
Dengan net sell asing yang cukup besar mencapai Rp 923 miliar, ia menegaskan tekanan jual kemungkinan masih berlanjut, terutama pada saham-saham yang banyak dilepas asing seperti BMRI, ANTM, dan ADRO.
"Namun, jika ada katalis positif seperti stabilisasi rupiah atau perbaikan data ekonomi dalam negeri, IHSG bisa kembali menguat. Dalam kondisi seperti ini, investor perlu tetap waspada dan lebih fleksibel dalam menyesuaikan strategi investasi mereka," tuturnya.

