Mudik Idulfitri 2026 Dorong Ekonomi, Konsumsi Rumah Tangga Diproyeksi Naik hingga 20%
JAKARTA, investortrust.id – Momentum mudik Idulfitri kembali menjadi penggerak utama aktivitas ekonomi nasional. Fenomena tahunan ini dinilai strategis karena bersifat massal, terjadwal, serta memiliki efek berganda (multiplier effect) yang mendorong berbagai sektor riil secara simultan.
Berdasarkan data historis, konsumsi rumah tangga meningkat sebesar 15–20%, dibandingkan bulan normal, seiring tingginya mobilitas masyarakat dan meningkatnya kecepatan perputaran uang (velocity of money). Tingginya Marginal propensity to consume (MPC) masyarakat Indonesia turut memperkuat dorongan konsumsi, termasuk peningkatan pendapatan pelaku UMKM daerah hingga 50–70%.
Secara empiris, mudik Idulfitri juga terbukti menjadi instrumen penguatan ekonomi yang konsisten dan terukur. Kajian Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023 mengungkap bahwa aktivitas mudik berkontribusi sekitar 1,5% terhadap pertumbuhan ekonomi nasional secara tahunan (yoy), melalui redistribusi aliran uang dari pusat ekonomi ke berbagai wilayah.
Baca Juga
Soal Wacana WFH Sehari Sepekan, Menkeu Purbaya: Bakal Hemat BBM 20%
Juru Bicara Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto menjelaskan, setiap pengeluaran pemudik menciptakan efek pengganda yang berdampak luas bagi pelaku ekonomi, termasuk UMKM, pedagang, dan sektor jasa transportasi.
“Dengan potensi yang besar tersebut, sinergi kebijakan serta penguatan peran UMKM menjadi kunci untuk mengoptimalkan momentum mudik Lebaran guna mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,” ujar Haryo melalui penjelasan resminya di Jakarta, Sabtu (21/3/2026).
Untuk Idulfitri 2026, aktivitas ekonomi diproyeksikan meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Evaluasi Idulfitri 2025 mencatat pergerakan masyarakat mencapai 154,62 juta orang. Pada tahun ini, pergerakan dan belanja masyarakat diharapkan semakin tinggi guna menunjang target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,5%–5,6% (yoy).
Optimisme tersebut didukung berbagai kebijakan stimulus, antara lain alokasi stimulus fiskal lebih dari Rp12,8 triliun, penyaluran bantuan sosial sebesar Rp11,92 triliun kepada 5,04 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM), serta diskon tarif transportasi senilai Rp911,16 miliar.
Baca Juga
Wamen ESDM: Stok BBM Pertamina Aman Capai 28 Hari pada Idulfitri
Dengan kontribusi konsumsi rumah tangga sekitar 53–54% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), stimulus tersebut diproyeksikan mampu memperkuat kinerja ekonomi nasional selama periode Idulfitri.
Pemerintah juga secara konsisten menerapkan berbagai kebijakan untuk mendorong aktivitas ekonomi saat mudik, seperti diskon tiket transportasi umum, penangguhan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 6% untuk tiket pesawat pada Lebaran 2025 yang berdampak terhadap penurunan harga tiket hingga 14%, penurunan biaya kebandaraan dan harga avtur di 37 bandara, hingga program Mudik Gratis.
Selain itu, kebijakan Work From Anywhere (WFA) ASN sejak 2022–2025 dinilai menjadi inovasi strategis. Kebijakan ini tidak hanya mengurai kepadatan arus mudik, tetapi juga memperpanjang durasi tinggal pemudik di kampung halaman, sehingga meningkatkan aktivitas belanja dan perputaran uang.
“Meski ada tekanan global akibat konflik Iran dan Israel-AS, fundamental ekonomi kita tetap kuat. Selain itu, Pemerintah berkomitmen tidak menaikkan harga BBM saat ini, sehingga daya beli masyarakat tetap terjaga. Jadi untuk Idulfitri tahun ini diprediksi bisa lebih baik dari tahun sebelumnya,” terang Haryo.

