Pelonggaran Tarif Trump Dorong Kenaikan Harga Minyak
JAKARTA, investortrust.id - Harga minyak pagi ini, Kamis (6/3/2025) terpantau bergerak menguat didukung oleh keputusan mengejutkan Trump dalam membebaskan penerapan tarif terhadap beberapa produsen mobil, mengisyaratkan potensi meredanya efek perang dagang. Meski demikian, peningkatan stok AS dan produksi OPEC membatasi kenaikan harga lebih lanjut.
Riset Indonesia Commodity and Derivative Exchange (ICDX) memaparkan Presiden AS Donald Trump akan membebaskan beberapa produsen mobil dari tarif sebesar 25% atas Kanada dan Meksiko selama satu bulan, selama mereka mematuhi aturan perdagangan bebas yang ada.
“Pihak administrasi Trump juga terbuka untuk mendengar tentang produk lain yang harus dibebaskan dari tarif, yang mulai berlaku pada hari Selasa. Selain itu, Trump mungkin akan menghapus tarif 10% atas impor energi Kanada, seperti minyak mentah dan bensin,” tulis riset ICDX, Kamis (6/3/2025).
Turut mendukung harga, Departemen Keuangan AS pada hari Rabu menjatuhkan sanksi terhadap tujuh anggota senior gerakan Houthi Yaman karena berpihak pada Iran. Ketujuh orang itu dituding menyelundupkan barang-barang kelas militer dan sistem persenjataan ke wilayah Yaman yang dikuasai Houthi dan bernegosiasi untuk membeli senjata dari Rusia.
“Tindakan tersebut memicu kekhawatiran dapat membuat situasi geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat,” ungkap riset tersebut.
Baca Juga
Harga Minyak Melemah Dipicu Pesimisme Tercapainya Target Ekonomi China
Sementara itu, dalam laporan yang dirilis Rabu malam oleh badan statistik EIA menunjukkan stok minyak mentah AS melonjak naik sebesar 3,6 juta barel untuk penutupan pekan yang berakhir 28 Februari.
“Kenaikan tersebut jauh melebihi ekspektasi awal yang memperkirakan peningkatan stok sebesar 900.000 barel. Laporan EIA itu mengindikasikan permintaan yang lesu di pasar energi AS,” jelasnya.
Baca Juga
Masih dari sisi pasokan, produksi minyak OPEC bulan Februari mencapai 26,74 juta bph atau naik 170.000 bph dari bulan Januari, dengan peningkatan terbesar dari Iran dan Nigeria. Selain itu, produksi di dua anggota produsen terbesar OPEC, Arab Saudi dan Irak, hampir mendekati target kuota yang disepakati.
Melihat dari sudut pandang teknis, ICDX memperkirakan harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 69 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 64 per barel.

